Photobucket Photobucket 

javascript:void(0)
Share |
Photobucket Photobucket Photobucket
Buku Tamu
Menjad Guru Ideal
Sabtu, 30 Juni 2012
Untuk menjadi seorang guru tidaklah mudah seperti yang dibayangkan kebanyakan orang selama ini. Mereka menganggap hanya dengan memegang kapur dan membaca buku pelajaran, maka cukup bagi mereka untuk berprofesi sebagai guru. Tapi dalam kenyataannya tidaklah demikian, ada syarat-syarat yang harus dikuasai. Menurut Sulani, sebagaimana dikutip Muhammad Nurdin, syarat pokok yang harus dikuasai oleh seorang guru itu ada tiga kompetensi yaitu; pertama, syarat syakhshiyah (memiliki kompetensi kepribadian yang dapat diandalkan), kedua, syarat ‘ilmiyah (memiliki kompetensi ilmu pengetahuan yang mumpuni, dan ketiga, syarat idhafiyah (mengetahui, menghayati dan menyelami manusia yang dihadapinya, sehingga dapat menyatukan dirinya untuk membewa anak didik menuju tujuan yang ditetapkan). Ketiga syarat di atas masih terkesan bersifat umum, oleh sebab itu, beberapa pemerhati dan pakar pendidikan mencoba untuk menjabarkannya ke dalam beberapa syarat profesionalisme secara khusus dan terperinci. Syarat-syarat itu dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu syarat yang berkaitan dengan diri seorang guru, dan syarat yang berkaitan dengan perilaku guru terhadap anak didik.
Berkaitan dengan Diri Seorang Guru 
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dan harus bisa menginternalisasi dan menyatu dalam diri seorang guru, diantaranya adalah:
  1. Sehat Jasmani dan Rohani, Ash-shihhatu taju al-mardha, (kesehatan adalah mahkota bagi orang-orang sakit). dengan tubuh yang sehat manusia dapat menjalankan aktifitas sehari-hari. Kondisi fisik adalah hal terpenting yang harus diperhatikanoleh seorang gurudalam melaksanakan sebuah kerja besar seperti pendidikan. Sebab hanya diatas pondasi kesehatan yang kuatlah, ketajaman dan kehalusa intelek bisa dicapai. Kekuatan fisik adalah bagian dari kekuatan iman. Di samping itu, seorang guru juga harus sehat rohaninya. Sehat rohani mengangdaikan sebuah kondisi jiwa yang stabil, teratur dan tidak terjangkit penyakit hati dan jiwa. Kesehatan rohani ini menjadi syarat mutlak keberhasilan guru dalam mendidik murid-muridnya. 
  2. Bertakwa dan Memiliki Kecerdasan Spiritual, menurut Ibnu Manzhur, seorang pakar bahasa berkebangsaan Mesir, mengatakan bahwa takwa berasal dari kata dasar waqa-yaqi-wiqayah, yang berarti menjaga, menjauhi, takut, dan berhati-hati. Dengan demikian takwa bukan sekedar takut seperti anggapan sementara orang. Takwa adalah sebuah kekuatan untuk tetap taat kepada perintah Allah SWT dan menjauhi semua laranganNya. Takwa juga merupakan dampak dari sebuah proses pendidikan. Oleh karena itu guru yang bertakwa tidak akan berbuat zhalim terhadap anak didik dan semua manusia. Inilah konsekwensi seorang guru yang bertakwa. Ketakwaan menjadi syarat mutlak dalam proses pembentukan sosok guru ideal. Ia harus menginternalisasikan dalam diri seorang guru. Sebab tanpa ketakwaan, seorang guru tidak mungkin bisa mentransfer ilmu yang ia miliki ke dalam jiwa anak didiknya. Takwa dapat menumbuhkembangkan karakter rendah hati dan optimistik. Takwa juga dapat memupuk rasa cinta kepada Tuhan, dan cinta akan menumbuhkan motivasi positif dan kreatifitas yang tinggi. Ketakwaan juga dapat menumbuhkan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Kecerdasan spiritual merupakan modal dasar bagi seorang guru untuk menjadi sosok yang diharapkan mampu memberikan pencerahan batin bagi anak didiknya. Kecerdasan spiritual tidak cukup hanya dengan menguasai dasar-dasar agama yang baik, yanglebih utama adalah menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Memiliki Kecerdasan Intelektual dan Berpengalam Luas, kecerdasan intelektual (intellegence quotient) berbanding lurus dengan ilmu pengetahuan. Dengan otak encer dan cerdas, pengetahuan tentu dapat dengan mudah diserap dan direkam. Sebaliknya otak yang tidak cerdas mungkin akan menjadi penghalang dalam proses penyerapan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Seorang guru harus selalu berusaha mengembangkan kemampuannya agar menemukan kreasi dan inovasi baru demi murid-muridnya. Ia tidak boleh merasa puas dengan ilmu dan pedoman yang ada, tetapi ia harus berusaha memperbaiki apa yang sudah diberikan cukup baik kepada murid-muridnya agar menjadi semakin baik. Ia harus memiliki gagasan-gagasan baru demi meningkatkan kecerdasan anak didiknya. Gagasan dan inovasi baru tersebut hanya dapat dilakukan oleh guru yang memiliki kecerdasan intelektual dan berpengetahuan luas. Guru harus masih tetap belajar. Sebab belajar adalah kewajiban yang harus dilaksanakan sepanjang hayat. Seorang guru harus mengasah kecerdasan intelektualnyamelalui proses belajar secara terus menerus dan berkesinambungan. Konsekwensinya guru harus menambah perbendaharaan ilmu pengetahuannya, meningkatkan cakrawala berpikirnya dengan banyak membaca buku dan banyak memohon pertolongan dari Allah SWT. 

  4. Berwibawa, secara bahasa, wibawa juga berarti haibah. Haibah berasal dari kata dasar haba-yahibu-haiban-wa haibatan yang berarti kehormatan, kemuliaan, kebesaran, dan ketakutan. Henry Faysol, sebagaimana dikutip oleh Panglaykim, mengartikan kewibawaan sebagai sebuah hak memerintah dan kekuasaan untuk membuat seorang guru dipatuhidan ditaati. Sementara sebagian yang lain mengartikan kewibawaan dengan sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan rasa hormat. Secara garis besar, kewibawaan dibagi menjadi tiga macam yaitu, kewibawaan semu, kewibawaan serba tradisi, dan kewibawaan kharismatik. Adapun cara untukmelihat sebuah kewibawaan dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu, pertama, teknik, yakni melalui keahlian khusus yang dimiliki seorang guru; kedua, moral, yakni denga didasarkan pada prinsip-prinsip moralitas (akhlak); ketiga, kepribadian, yakni dengan melihat pada tingkah laku keseharian dan kepribadian seorang guru. Ada beberapa trik yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kewibawaan dalam diri guru, trik tersebut secara garis besar dapat dirangkum dalam sebuah kegiatan yang sifatnya bisa meneguhkan dan menajamkan mata hati. Dengan mata hati yang tajam, kewibawaan akan tumbuh dan bersinar. Diantara cara-cara yang dapat dilakukan dengan menajamkan mata hati adalah dengan melakukan shalat malam (tahajjud) secara istiqamah, konsisten antara ucapandan perbuatan, membersihkan jiwa dari penyakit hati dan sebaginya. 
  5. Ikhlas, ikhlas secara bahasa berasala dari kata khalasha yang berarti jernih, bersih, murni, dan hilang kotorannya. Kemudian kata ini diikutkan wazan akhlasha-yukhlishu-ikhlashan yang berarti menjernihkan, memurnikan, dan membersihkan. Dengan demikia terma ikhlas secara terminologi dapat diartikan sebagai sebuah usaha untuk memurnikan hati, kemudian berniat untuk melakukan perbuatan hanya karena Allah semata. Ada sebuah hadits Nabi SAW yang juga menguatkan urgensi keikhlasan dalam berbuat atau bekerja. Sabda tersebut adalah, “Allah tidak menerima amal melainkan yang ikhlas padanya dan yang dituntut dengannya keridhaan Allah SWT”.(HR. Ibnu Majah) Oleh sebab itu guru harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya yang sangat mulia. Hanya dengan hati yang tulus, rasa dengki, iri hati, dendam dan egoisme seorang guru akan sirna dan mati. Jika keikhlasan ini tertanam maka proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan maksimal. Bahkan menurut al-Abrasy, keikhlasan dan kejujuran seorang guru dalam pekerjaannya merupakan jalan terbaik yang dapat mengantarkan dia dan murid-muridnya ke puncak kesuksesan. 
  6. Mempunyai Orientasi Yang Jelas,  Orientasi harus dicanangkan dengan jelas oleh seorang guru. Sebab tanpa orientasi yang jelas berarti ,tidak ada target yang ingin dicapai, maka kegiatan belajar mengajar yang ia lakukan tidak bermakna sama sekali. Menurut ajaran Islam orientasi yang harus dicanangkan oleh seorang guru tidak hanya bersifat jangka pendek (duniawi), tetapi juga jangka panjang (akhirat). Bahkan orientasi jangka panjang sejatinya harus dijadikan standar keberhasilan guru dalam menjalankan tugasnya. Orientasi yang dicanangkan juga harus bersifat rabbani, artinya pengajaran dan semua kegiatannya disandarkan hanya kepada Allah SWT, seraya berniat untuk selalu mentaatiNya, mengabdi kepadaNya, mengikuti syariatNya dan mengenal sifat-sifatNya. Bila guru memiliki sifat Rabbani maka dalam segala kegiatan terutama ketika mengajar, ia akan selalu ingat pada Allah SWT.
  7. Mampu Merencanakan Dan Melaksanakan Evaluasi Pendidikan,  Perencanaan adalah pekerjaan mental yang memerlukan pemikiran, imajinasi dan kesanggupan melihat ke depan. Dengan demikian seorang guru harusmampu merencanakan proses pengajarannya dengan baik. Perencanaan yang baik akan membawa dampak positif terhadap proses belajar mengajar. Bahkan dengan rencana pula seorang guru mampu menjadi sosok yang sukses dalam hidupnya. Dalam membuat rencana seorang guru harus mempertimbangkan dan mengsinkronkannya dengan kebijakan , prosedur, dan program sekolah. Sebab dengan adanya kesinkronan dan kecocokan dengan kebijakan tersebut, perencanaan yang sudah dihasilkan tidak akan dihargai, apalagi jika kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan tertinggi di sekolah tidak sepakat dengan rencana tersebut. Karena itu seorang guru ideal harus mampu menjalin kebersamaan dan kerjasama yang baik dengan pimpinan, teman sejawat, dan anak didik. Sementara evaluasi adalah suatu proses penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan anak didik untuk tujuan pendidikan. Secara garis besar, kegiatan evaluasi dalam pendidikan Islam harus melihat empat kemampuan anak didik, yaitu; (1) sikap dan pengalaman dirinya dengan Tuhannya, (2) sikap dan pengalaman dirinya dengan masyarakat, (3) sikap dan pengalaman dirinya dengan alam sekitar, (4) sikap dan pengalaman dirinya dengan diri sendiri selaku hamba Allah, selaku anggota masyarakat dan selaku khalifah Allah SWT. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui kadar pemahaman anak didik terhadap mata pelajaran, untuk melatih keberanian dan mmengajak anak didik untuk mengingat kembali pelajaran yang telah diberikan.
  8. Menguasai Bidang Yang Ditekuni,  yang dimaksud dengan menguasai bidang yang ditekuni adalah seorang guru mampu menguasai dan ahi dalam mata pelajaran tertentu. Atau dengan kata lain ahlidalam mata pelajaran yang diajarkan. Kemampuan dalam bidang ajar menjadi keharusan yang tidak dapat terbantahkan, sebab bagaimana mungkin seorang guru dapat mengajar dan mendidik muridnya bila dia sendiri tidak menguasai pelajaran yang disampaikan. Yang ada bukan memberikan ilmu kepada muridnya, melainkan malah sesat dan menyesatkan. Karena orang yang mengatakan sesuatu diluar pengetahuannya adalah pembohong. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kebohongan adalah salah satu tanda orang munafik. Kemunafikan adalah sikap yang bertolak belakang dengan kepribadian seorang guru. "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka" (QS. An Nisa, 145) 


disarikan dari Profil Ideal Guru Pendidikan Agama Islam, Karya Dr. Imam Tholkhah
posted by admin @ 19.37  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< ke depan
 
www.voa-islam.com
Previous Post
Archives
Links

© education Blogger Templates modified by blogger