Photobucket Photobucket 

javascript:void(0)
Share |
Photobucket Photobucket Photobucket
Buku Tamu
Motivasi Dalam Proses Pembelajaran
Kamis, 21 Oktober 2010
Sudah banyak para ahli psokologi pendidikan dan psokologi pembelajaran yang membahas tentang motivasi dalam pembelajaran. Sedemikian banyaknya pembahasan tentang motivasi dalam pembelajaran itu telah menghasilkan definisi motivasi. Namun demikian pada intinya motivasi dapat diartikan sebagai: (1) dorongan yang timbul dari diri seseorang, secara disadari atau tidak disadari, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; (2) usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang diharapkan.
Dari dua definisi motivasi di atas menjadi jelas bahwa motivasi dapat dibagi menjdai dua jenis, yaitu: (1) Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang. Motivasi jenis ini sering disebut dengan motivasi intrinsik. Misanya seorang siswa tanpa disuruh oleh siapapun setiap malam membaca buku pelajaranyang esok harinya akan dijelaskan oleh gurunya. (2) motivasi dari luar yang berupa usaha pembentukan dari orang lain. Motivasi jenis ini disebut dengan motivasi ekstrinsik. Misalnya seorang siswa yang biasanya kurang rajin belajar kemudian menjadi rajin belajar karena gurunya menjajikan kepada siapa saja yang memperoleh nilai terbaik pada mata pelajaran yang diajarkan akan diberikan suatu hadiah.
Mengapa seseorang termotivasi untuk melakukan suatu kegiatan ? Abraham Maslow mengatakan bahwa seseorang termotivasi karena memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti seorang siswa memiliki kebutuhan ingin berprestasi akademik dengan gemilang yang harus terpenuhi.
Secara alami, motivasi siswa sesungguhnya berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlibat daam proses pembelajaran. Motivasi sangat diperlukan bagi terciptanya proses pembelajaran di kelas secara efektif. Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, baik dalam proses maupun pencapaian hasil. Seorang siswa yang memiliki motivasi tinggi pada umumnya mampu meraih keberhasilan dalam proses maupun output pembelajaran.
Ketika anak-anak memasuki jenjang SD, mereka mulai digerakkan oleh rasa ingin tahu, berkembangnya keinginan menjelajah lingkungan, dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam proses pembelajaran di kelas, bisa berkembang dua situasi yang berbeda berkaitan dengan motivasi siswa. Seorang guru merasa bersemangat ketika siswa yang dihadapi memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar atau sebaliknya. Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk mempu mengkreasi berbagai cara agar motivasi siswa dapat muncul dan berkembang dengan baik.
Ada sejumlah indikator untuk mengetahui siswa yang memiliki motivasi dalam proses pembelajaran, diantaranya adalah:
1. Memiliki gairah yang tinggi
2. Penuh semangat
3. Memiliki rasa penasaran yang tinggi
4. Mampu jalan sendiri ketika guru meminta siswa mengerjakan sesuatu
5. Memiliki rasa percaya diri
6. Memiliki daya konsentrasi yang lebih tinggi
7. Kesulitan dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi
8. Memiliki kesabaran dan daya juang yang tinggi
Jika indikator-indikator ini yang muncul dan berkembang dalam proses pembelajaran di kelas, maka guru akan merasa enak dan antusias dalam menyelenggarakan proses pembelajarannya.
Namun demikian keadaan yang sebaliknya juga sangat sering kita jumpai dalam kegiatan proses pembelajaran. Artinya ada sejumlah siswa bermotivasi rendah, ada sejumlah indikator siswa yang memiliki motivasi rendah ini, yaitu:
1. Perhatian terhadap pelajaran kurang
2. Semangat juangnya rendah
3. Mengerjakan sesuatu merasa seperti diminta membawa beban berat
4. Sulit untuk bisa jalan sendiri ketika diberikan tugas
5. Memiliki ketergantungan terhadap orang lain
6. Mereka bisa jalan kalu sudah dipaksa
7. Daya konsentrasi kurang
8. Mereka cenderung menjadi pembuat kegaduhan
9. Mudah berkeluh kesah dan pesimis ketika menghadapi kesulitan
Dari indikator- indikator di atas menunjukkan bahwa di dalam proses pembelajaran ada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan motivasi itu datangnya dari dalam dirinya sendiri ada pula yang memiliki motivasi belajarnya rendah sehingga harus ada upaya serius dari guru untuk mengembangkannya. Namum demikian bukan berarti upaya pengembangan motivasi dalam pembelajaran hanya diberikan pada siswa yang motivasi belajarnya rendah saja. Kepada siswa yang memilikimotivasi belajar tinggipun harus tetap dilakukan pembinaan karena ada kemungkinan motivasi belajar mereka mengalami grafik naik turun. Lumsden (1994) serta Andermandan Midgley (1998) menegaskan, “To be sure, effort to promote student motivation need not be directed solely at students who have low levels of motivation. All students would benefit from higher level of engagement and motivation to succeed.”

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 21.43   0 comments
Proses Pembelajaran Untuk Mengembangkan Motivasi Belajar Subyek Didik
Selasa, 19 Oktober 2010
Sebenarnya tidak ada formulasi tunggal untuk membangun dan mengembangkan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Namun demikian ada sejumlah faktor yang dapat disinergikan untuk membenagun dan memotivasi siswa.
A. Tataran diluar kelas
Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membangun dan mengembangkan motivasi belajar siswa dalam tataran di luar kelas.. artinya, ada sejumlah faktor yang seharusnya diperhatikan dan dikembangkandi luar kelassehingga memberikan kontribusi terhadap berkembangnya motivasi belajar siswa ketika mengikuti proses pembelajaran.
Cara-cara tersebut adalah;

  1. Menekankan kepada siswa tentang arti pentingnya persiapan dalam menghadapi kehidupan masa depan yang kemungkinan lebih banyak tantangan dan persaingan.
  2. Memberikan contoh kepada siswa tentang orang-orang sukses dalam kehidupan dan rahasia kesuksesan mereka yang patut ditiru. Dalam skala yang lebih luas bisa mengambil contoh-contoh negara yang sukses. Ini bisa dilakukan dengan meluangkan waktulima sampai sepuluh menit di awal pembelajaran.
  3. Menunjukkan kepada siswa kegunaan materi pelajaran yang dipelajari dengan kehidupan nyata sehari-hari. 
  4. Menekankan kepada siswa tentang arti pentingnya berpikir dan bekerja semaksimal mungkin.
B. Tataran di dalam kelas
Untuk membengun dan mengembangkan motivasi belajar siswaada sejumlah cara yang dapat dilakukan oleh guru di dalam kelas, yaitu;

  1. Memberikan ganjaran kepada siswa untuk pekerjan yang diselesaikan. Ganjaran hanya diberikan kepada siswa yang patut mendapat ganjaran. Memberikan ganjaran kepada siswa yang pekerjaannya kurang sukses justru akan memberikan sinyal kepada mereka bahwa usaha minimal masih bisa diterima oleh guru. Namun yang perlu dihindari adalah pemberian hukuman (punishment) yang dapat mengakibatkan perusakan psikis siswa, seperti kata-kata kasar. Dan ini justru akan mematikan motivasi siswa karena proses pembelajaran dalam situasi tekanan psikis cenderung menyebabkan siswa takut dan malas untuk berfikir, berbuat dan berinisiatif.
  2. Target pencapaian belajar harus jelas.. siswa harus mengetahui kompetensi apa yang harus dicapai dan dikuasai setelah selesai proses pembelajaran.
  3. Kembangkan suasana yang memungkinkan siswa merasa diterima dan didukung. Siswa pada umumnya memerlukan perasaan bahwa guru terlibat dalam kehidupan mereka, dan berbicara secara dekat dengan mereka.
  4. Usahakan merespon pertanyaan siswa secara positif dan segera memberikan pujian kepada siswa mampu mengajukan pertanyaan dengan baik.
  5. Dalam memberikan tugas, sebaiknya dipecah ke dalam rangkaian tugas yang kecil-kecil sehingga siswa tidak merasa berat dalam mengerjakannnya.
  6. Mengenalkan kepasa siswa tentang ketuntasan belajar. Artinya jelaskan kepada siswa tentang kompetensi dasar apa yang harusmereka capai pada akhir proses pembelajaran. Ketika siswa menyelesaikan tugas yang tidak sesuai dengan kompetensi dasar yang dihaarapkan, guru perlu memberikan kesempatan sekali lagi atau lebih agar siswa dapat menyelesaikan dan mencapainya.
  7. Hindarkan menciptakan kompetisi yang terlalu intens diantara siswa. Sebab, kompetisi yang terlalu ketat justru dapat mengakibatkan kecemasan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang harus dikembangkan adalah yang mampu mengembangkan motivasi siswa untuk membengun kerjasama yang positif.
  8. Guru juga harus menunjukkan kemampuan menguasai bahan yang diajarkan, antusiasme, dan kemerarikan dalam mengajar. Penguasaan bahan akan menimbulkan keyakinan diri pada guru sehingga dapat menimblkan antusiasme dan akhirnya akan mampu menarik perhatian siswa. Semua ini sangat penting dalam kaitannya dengan upaya membangun dan mengembangkan motivasi belajar siswa karena tidak sedikit siswa yang menjadi tidak tertarik kepada pelajaran tertentu karena gurunya yang tidak menguasai bahan, tidak antusias, dan tidak menarik dalam mengajar. Jadi siswa tidak termotivasi bukan karena materi pelajarannya tetapi karena guru yang tidak menarik dalam men gajar.

Pengembangan motivasi belajar subyek didik, selain diupayakan secara langsung oleh guru, dapat juga dilakukan oleh siswaa itu sendiri dengan menggunakan “Model Latihan Memotivasi Diri”. Model ini dikembangkan berdasarkan “tekhnik Pantau Diri” dari Cormier. Dengan menggunakan latihan memotivasi diri, siswa dituntut secara aktif mengembangkan motivasi belajarnya sendiri melalui aktivitasnya sendiri dan memantau sendiri.

Mengembangkan motivasi belajar dengan menggunakan model Latihan Motivasi Diri iniada enam kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, yaitu ;

  1. Mengembangkan motivasi intrinsik
  2. Memantau motivasi ekstrinsik
  3. Mendeskripsikan kegiatan
  4. Memantau dan mendeskripsikan kemajuan kegiatan
  5. Memilih mentor
  6. Membuat kesimpulan
  7. Semua kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri oleh siswa dengan menggunakan format pantau diri (self-monitoring log) yang harus dikerjakan, diisi, dan dilaporkan oleh siswa. Oleh karena itu kegiatan motivasi diri ini menuntut keaktifan dan kejujuran siswa terhadap diri sendiri. Sebab jika siswa tidak aktif dan tidak jujur terhadap diri sendiri maka tidak akan memperoleh keberhasilan dalam memotivasi dirinya.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 21.51   0 comments
Memahami Kesulitan Belajar Pada Anak
Minggu, 17 Oktober 2010
Perbedaan individu siswa menyebabkan masalah kesulitan belajar siswa juga berbeda-beda antar siswa satu dengan siswa lainnya. Akibatnya, menjadi tidak mudah untuk menetapkan secara akurat masalah mereka yang sebenarnya. Namun demikian, masalah kesulitan belajar ini sangat menarik perhatian tidak hanya para ahli pendidikan, tetapi jugapara ahli dari berbagai bidang. Seperti psikiater, ahli saraf, dokter anak, dokter spesialis mata dan telinga, juga ahli bahasa . Mereka setelah melihat masalah kesulitan belajar ini dari sudut yang berbeda-beda, akhirnya secara umum sampai pada suatu kesimpulan bahwa ada dua faktor penyebab anak mengalami kesulitan belajar, yaitu faktor penyakit dan faktor perilaku.
Masalah kelambanan atau kesulitan belajar juga dapat diselidiki dari aspek penguasaan pelajaran dan aspek pertumbuhan fisik. Dari aspek penguasaan pelajaran, kesulitan belajar siswa dapat dilihat dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Pada umumnya bila terdapat perbedaan yang signifikan antarakemampuan belajar dan hasil belajar, dapat disimpulkan anak tersebut mengalami kelambanan belajar. Sedangkan dari aspek pertumbuhan fisik dapat dilihat dari hambatan berbicara, berpikir, mengingat dan hambatan fungsi indera. Hambatan berbicara merupakan hambatan belajar yang sering terdapat pada anak prasekolah. Sedangkan masalah hambatan dalam berpikir terlihat dari anak yang mengalami kesulitan dalam membentuk konsep, mengaitkan apa yang dipikirkan, dan memecahkan masalahnya.

Penyebab Timbulnya Masalah Kesulitan Belajar
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan para ahli yang menaruh perhatian terhadap masalah kesulitan belajar, ditemukan sejumlah faktor penyebabnya, yaitu:

1. Faktor Keturunan
Walaupun tidak sepenuhnya faktor keturunan berpengaruh terhadap kesulitan belajar, tapi juga tidak sedikit orang yang dalam satu garis keturunan memiliki kemampuan untuk membaca, menulis, dan mengeja bahkan mengitung, serta kesulitan belajar yang sama.
2. Gangguan Fungsi Otak
Ada pendapat yang menyatakan bahwaanak yang lamban dalam belajar mengalami gangguan dalam syaraf otaknya. Penelitian menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak yang mengalami kelambanan atau kesulitan belajar dengan anak yang abormal. Hanya sajaanak yang mengalami kelambanan belajar memiliki adanya sedikit tanda cedera pada otak. Oleh karena itu, para ahli tidak terlalu menganggap cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli syaraf membuktikan masalah ini. Sebenarnya sangat sulit untuk membuktikan dan memastikan bahwa kelamban atau kesulitan belajar itu disebabkan cedera otak.
3. Pengorganisasian Berpikir
Siswa yang mengalami kelambanan atau kesulitan belajar akan mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan tentang pelajaran. Slah satu penyebabnya adalah mereka tidak mampu mengorganisasikan cara berpikirnya secara baik dan sistematis. Misalnya anak yang sulit membaca akan sulit pula merasakan atau menyimpulkan apa yang dilihatnya. Para ahli berpendapat bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang dengan tujuan meningkatkan daya belajarnya.
4. Kekurangan Gizi
Ada kaitan yang erat antara kekurangan giz dengan kelambanan belajar, artinya kekurangan gizi menjadi salah satu penyebab terjadinya kelambananbelajar. Walaupun pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar, tetapi banyak bukti menyatakan bila pada awal pertumbuhan anak sangat kekurangan gizi, keadaan itu akan berpengaruh terhadap perkembangan syaraf utamanya sehingga menyebabkan kurang baik dalam proses belajarnya.
5. Faktor Lingkungan
Ada banyak faktor yang tidak menguntungkan terhadap perkembangan mental anak, baik yang datangnya dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Gangguan tersebut dapat berupa perasaan hati, tekanan keluarga, atau kesalah pola asuh yang diterapkan pada anak. Meskipun faktor-faktor ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar tetapi bukan merupakan satu-satunya faktr penyebab terjadinya kesulitan belajar. Namun yang pasti faktor tersebut dapat mengganggu daya ingat dan daya pikir serta konsentrasi pada anak.


Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 22.23   0 comments
Kesalahan diagnosis anak gifted
Kesalahan diagnosis terhadapa anak gifted sangat mungkiin terjadi. Mereka seringkali tidak didiagnosis oleh guru, dokter, atau psikolog sebagai anak berbakat tinggi, mereka justru didiagnosis sebagai anak autis ringan, Attention Deficit Hiperactive Disorder, disleksia, kelambanan mental, atau gangguan perkembanan lainnya. Ini disebabkan anak gifted seringkali mempunyai karakteristik yang berpotensi untuk berperilaku yang menurut pandangan orang pada umumnya dipandang “negatif”. Ini terutama terjadi pada anak gifted yang kemampuan kreativitasnya sangat tinggi. Persepsi semacam ini karena mereka menunjukkan perilaku antara lain:

  1. Overaktif secara fisik atau mental
  2. Ceroboh dan sepele terhadap hal-hal yang dianggapnya tidak penting
  3. Pelupa dan suka berkhayal
  4. Kurang tertarik pada hal-hal kecil
  5. Penuntut
  6. Temperamental dan berperilaku tergantung mood yang ada dalam dirinya
  7. Tidak komunikatif, sinis, dan suka berargumentasi
  8. Suka menanyakan aturan, otoritas, dan aturan moral yang umum
  9. Kurang kooperatif dan suka menentang dominasi

Karena kecenderungan memiliki perilaku seperti itu, maka seringkali anak-anak semacam ini dimasukkan ke dalam katergori anak-anak dengan gangguan tertentu. Hingga tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari guru atau orang tua yang merasa terganggu oleh perilaku mereka ini. Akibatnya tidak jarang anak-anak berbakat tinggi (highly gifted), terutama bagi mereka yang kreativitasnya sangat tinggi, menjadi memiliki penghargaan diri (self-esteem) dan konsep diri (self-concept) yang rendah shingga mengalami kegagalan di sekolah.

Proses Pembelajaran Yang Sesuai
Ada sejumlah faktor penting yang harus diperhatikan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran untuk anak gifted yang berkesulitan belajar ini, yaitu:

  1. Sangat penting memperhatikan perkembangan pada kemempuan yang menonjol , minat dan kapasitas intelektual anak ini dalam merencanakan proses pembelajarannya. Kesulitan belajar mereka agar tidak cenderung menjadi permanen sudah seharusnya menjadi pertimbangan penting untuk mengarahkan dan mendorong mereka memahami dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Jadi guru hendaklah mencari cara untuk mengurangi kesulitan yang mereka alami dengan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki.
  2. Program yang disediakan untuk mereka haruslah difokuskan pada hal-hal yang menjadi kelemahan mereka. Merka harus dibimbing untuk memahami kelemahan dan kelebihannya kemudian diarahka untuk menyadari cara yang tepat untuk mengurangi kesulitannya dalam belajar serta memupuk keberbakatannya. Para guru dan orang tua harus membantu anak-anak ini untuk membentuk konsep diri yang realistis dan sehat sehingga mereka dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Mereka harus disadarkan bahwa mereka dapat mengembangkan cara alternatif dalam berfikir dan berkomunikasi serta dapat belajar sesuai dengan kelebihan yang dimilikinya.
  3. Anak dengan kelebihan ganda ini membutuhkan kurikulum yang tepat yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka akan kebutuhan khusus bagi kedua keistemewaan tersebut. Kebutuhan ini berhubungan dengan keberbakatannya dan kelemahan atau kesulitannya yang spesifik. Jangan sampai perlakuan-perlakuan yang diberikan justru menghambat perkembangan dan pengekspresian keberbakatannya.

Peran Orang Tua
Orang tua adalah orang yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan anaknya. Marker dan Udall (1997) memberikan alternatif yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membantu anaknya yang gifted dan sekaligus berkesulitan belajar, yaitu:

  1. Orang tua harus menjadi pendorong yang efektif bagi anaknya. Oleh karena itu, orang tua harus mempelajari betul-betul keadaan dan karakteristik anaknya
  2. Carilah orang tua yang juga memiliki anak gifted dan sekaligus berkesulitan belajar agar bisa berbagi pengalaman. Dengan cara demikian diharapkan akan memperoleh cara-cara yang tepat untuk menangani anak
  3. Jika ada, kunjungilah lembaga terdekat yang memiliki program pendidikan khusus untuk anak gifted yang memiliki kesulitan belajar dan mintalah bantuan kepada lembaga tersebut
  4. Carilah terapis atau psikolog yang cocok dengan anak
  5. Orang tua sebaiknya terlibat secara aktif dan proaktif selama proses terapi
  6. Orang tua harus berusaha dengan maksimal untuk meningkatkan pemahaman akan kebutuhan anak agar bisa lebih mudah untuk menerima beberapa hal yang kontradiksi pada diri anaknya
  7. Terimalah keadaan anak apa adanya dan kenali betul-betul kelebihan dan kelemahannya
  8. Sediakan suasana lingkungan yang penuh kehangatana dan kasih sayang kemudian lakukanlah komunikasi atau diskusi dengan topik yang menarik bagi anak
  9. Sediakan permainan edukatif yang menarik bagi anak

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 11.28   0 comments
Karakteristik Anak berbakat / gifted children
Sabtu, 16 Oktober 2010
Anak gifted pada mulanya sebagai anak yang memiliki skor IQ yang tinggi dan mempunyai prestasi sekolah yang baik. Namun, belakangan permasalahn tersebut menjadi lebih kompleks dengan munculnya hasil-hasil penelitian yang menemukan adanya anak berkemampuan tingi, tetapi juga memiliki kesulitan dalam belajar.
Secara umum, seorang anak gifted yang sekaligus memiliki ketidakmampuan belajar ditandai dengan kelebihan luar biasa pada beberapa aspek dan ketidakmampuan pada aspek yang lain. Anak gifted yang sekaligus mengalami kesulitan belajar ini secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga kategori.


Pertama, anak berbakat memiliki beberapa kesulitan dalam belajar di sekolah dan sering dikatakan sebagai anak yang “underachiever”. Kelompok anak yang semacam ini mudah teridentifikasi sebagai anak gifted atau berbakat karena memiliki skor IQ yang tinggi, tetapi dalam perkembangan selanjutnya terjadi kesenjangan yang besar antara kemampuan atau IQ yang dimiliki dengan prestasi yang dicapai. Anak pada kelompok ini mungkin akan mengejutkan dengan kemampuan verbal yang sangat bagus, sementara ia mengalami kesulitan besar pada kemampuan menulis, apalagi kalau didikte. Kadangkala anak kelompok ini amat pelupa, ceroboh, dan pola pikir srta tingkah lakunya tak terorganisir dengan baik, sehingga pada sekolah lanjutan pertama yang tuntutannya sudah semakin tinggi menjadi mengalami kesulitan untuk berprestasi. Mereka dapat mengatasi kesullitan dengan usaha keras, namun kenyataannyabanyak dari mereka tidak tahu cara untuk mengatasinya, karena terlanjur dikategorikan sebagai anak berkemampuan tinggi.


Kedua, anak-anak yang teridentifikasi dan diketahui berkesulitan dalam belajar, tetapi tidak pernah teridentifikasi sebagai anak gifted. Ketidaktepatan pengkuran atau tertekannya skor IQ sering menyebabkan dugaan yang keliru terhadap kemampuan intelektualnya. Jika bakat yang luar biasa tidak diketahui, maka kelebihan-kelebihannya tidak pernah menjadi fokus dalam pendidikannya sehingga tidak pernah teraktualisasikan.


Ketiga, anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak berbakat maupun sebagai anak berkesulitan belajar. Mereka lebih nampak sebagai anak berprestasi rata-rata. Kemampuan intelegensi yang tinggi seringkali membantu kesulitan atau kelemahannya sehingga anak ini tidak teridentifikasi sebagai anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Pada anak kelompok ini, siperioritas kemampuannya menutupi kelemahannya. Sebaliknya, kelemahannya juga menutupi kelebihannya. Bakat yang dimiliki kemungkinan dapat berkembang bila terstimulasi oleh situasi kelas yang diajar oleh guru yang menggunakan metode belajar yang bervariasi, kreatif, dan menantang.

Anak gifted yang berkesulitan belajar ini adalah suatu tipikal siswa yang seringkali dikarakteristikkan sebagai anak yang cerdas, tapi bermasalah di sekolah. Mereka sering mengalami perasaaan frustasi, berperilaku agresif, bertindakceroboh, dan sering tidak mampu menyelesaikan tugas. Mereka sering membuat suasana kelas menjadi terganggu. Sementara di bidang lain, mereka mampu menampilkan diri sebagai anak berkemampuan tinggi. Misalnya mereka sangat pandai dalam berpikir abstrak, dapat mengkonseptualisasikan sesuatu dengan cepat, mampu melakukan generalisasi dengan mudah, mampu membuat inferensi dengan tepat, dan menyukai tantangan untuk menyelesaikan suatu problem (Barton & Stanes, 1989). Biasanya hobi atau kesukaannya adalah hal-hal yang membutuhkan motivasi, tantangan, dan perlu pemikiran yang kreatif.
Anak gifted yang kesulitan belajar ini memandang dirinya sebagai anak yang tidak mampu di bidang akademik, sehingga meningkatkan motivasi untuk menolak tugas-tugas sekolah. Anak dengan keistimewaan ganda ini sering merasa malu dan memandang bahwa dirinya tidak mampu bersekolah. Inilah yang mematahkan semangat mereka. Tak jarang dari mereka meneruskan perasaan tentang kegagalan ini di sekolah, sementara mereka dirumah mampu belajar dan berkarya. Merek sering memiliki konsep diri yang negatif dan merasa bahwa sesungguhnya dirinya tidak sama dengan teman sebayanya.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 22.52   0 comments
Kepemimpinan
Minggu, 04 Juli 2010
Kepemimpinan merupakan salah satu fenomena yang paling mudah diobservasi, tetapi menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dipahami. Mendefinisikan kepemimpinan merupakan suatu masalah yang kompleks dan sulit, karena sifat-dasar kepemimpinan itu sendiri memang sangat kompleks. Akan tetapi, perkembangan ilmu saat ini telah membawa banyak kemajuan sehingga pemahaman tentang kepemimpinan menjadi lebih sistematis dan objektif.
Untuk lebih mempermudah pemahaman kita, maka akan diajukan satu definisi yang kiranya mampu menjadi landasan untuk membahas konsep kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (staff) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya. Kepemimpinan melibatkan hubungan pengaruh yang mendalam, yang terjadi di antara orang-orang yang menginginkan perubahan signifikan, dan perubahan tersebut mencerminkan tujuan yang dimiliki bersama oleh pemimpin dan pengikutnya (staff). Pengaruh (influence) dalam hal ini berarti hubungan di antara pemimpin dan pengikut sehingga bukan sesuatu yang pasif, tetapi merupakan suatu hubungan timbal balik dan tanpa paksaan. Dengan demikian, kepemimpinan itu sendiri merupakan proses yang saling mempengaruhi.
Pemimpin mempengaruhi staffnya, demikian sebaliknya. Orang-orang yang terlibat dalam hubungan tersebut menginginkan sebuah perubahan sehingga pemimpin diharapkan mampu menciptakan perubahan yang signifikan dalam sekolah dan bukan mempertahankan status quo. Selanjutnya, perubahan tersebut bukan merupakan sesuatu yang diinginkan pemimpin, tetapi lebih pada tujuan yang diinginkan dan dimiliki bersama.
Tujuan tersebut merupakan sesuatu yang diinginkan, yang diharapkan, yang harus dicapai di masa depan sehingga tujuan ini menjadi motivasi utama visi dan misi sekolah. Pemimpin mempengaruhi pengikutnya untuk mencapai perubahan berupa hasil yang dinginkan bersama. Kepemimpinan merupakan aktivitas orang-orang, yang terjadi di antara orang-orang, dan bukan sesuatu yang dilakukan untuk orang-orang sehingga kepemimpinan melibatkan pengikut (followers).
Proses kepemimpinan juga melibatkan keinginan dan niat, keterlibatan yang aktif antara pemimpin dan pengikut untuk mencapai tujuan yang dinginkan bersama. Dengan demikian, baik pemimpin ataupun pengikut mengambil tanggung jawab pribadi (personal responsibility) untuk mencapai tujuan bersama tersebut.
Salah satu stereotipe yang bias adalah bahwa pemimpin merupakan orang yang harus lebih berkualitas dan berbeda dibandingkan staffnya. Akan tetapi, kenyataannya kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif adalah juga dibutuhkan oleh staffnya. Untuk bisa berhasil, sekolah juga membutuhkan para staff yang berkualitas. Sebab, tanpa staff yang berkualitas, pemimpin akan melangkah dengan timpang. Staff yang efektif bekerja dengan antusiasme, dinamis, kreatif, dan mempunyai komitmen yang tinggi pada tugasnya dan sekolah. Mereka meninggalkan kepentingan pribadi, dan berani melakukan tindakan yang tepat. Staff yang efektif bukan staff yang bertipe “yes boss” atau “Asal Bapak Senang” yang secara buta mengikuti apa yang diinginkan pemimpinnya.
Pemimpin efektif dan staff efektif merupakan manusia yang sama, tetapi memiliki peran yang berbeda pada waktu yang berbeda. Idealnya, kepemimpinan dimiliki dan diperankan baik oleh pemimpin dan staff yang secara individual terlibat aktif dan bertanggung jawab atas tugasnya.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 10.14   0 comments
Opsi seorang pendidik menghadapi anak didik yang bermasalah
Jumat, 05 Maret 2010
Tolok ukur keberhasilan seorang pendidik dapat ditentukan berdasarkan sikap dan perilaku anak-anak didiknya. Sebagai pendidik, seorang guru akan merasa berhasil apabila anak-anak didiknya mau bekerjasama dalam proses belajar mengajar. Makna kerjasama adalah bersama-sama melakukan tugas dalam rangka proses pembelajaran. Tetapi adakalanya sikap dan perilaku anak-anak didik menyebabkan seorang guru pendidik tidak tahan dan ingin cepat-cepat menyelesaikan sesi pembelajarannya.
Sebenarnya sikap dan tingkah laku anak-anak yang tidak mau bekerjasama merupakan dampak permasalahan dalam proses perkembangannya. Banyak anak yang bahkan harus kehilangan masa kanak-kanaknya karena orang tua yang sibuk. Sementara anak-anak lainnya dibesarkan oleh pengasuh(nanny). Anak-anak itu diharuskan mandiri sebelum waktunya, akibatnya mereka mengalami stress atau bahkan depresi.

Apa yang harus dilakukan seorang guru pendidik? Sebagai seorang pendidik di sekolah, guru dituntut berperan sebagai orang tua. Seorang pendidik harus mengerti bahwa dimanapun anak-anak berada, baik di sekolah maupun di rumah, tidak banyak bedanya. Berikut adalah tujuh opsi yang sangat bermanfaat dan efektif untuk diterapkan di rumah maupun di sekolah.
  1. Memberi penjelasan apabila ada masalah atau kejadian insidentil di kelas. Misalnya, seusai kelas melukis ada cat air yang tumpah di lantai. Sebaiknya seorang guru berkata,”Lihat, di lantai ada tumpahan cat air”. Atau ketika guru mendapatkan kertas ujian tanpa nama. Sebaiknya seorang guru berkata,”Kenapa saya dapat kertas yang tidak ada namanya?” Juga apabila anak-anak asik ngobrol di kelas. Seorang guru boleh permisi keluar kelas sebentar untuk kemudian kembali dan mengatakan bahwa suara mereka sangat jelas terdengar sampai hall atau ruangan lain.
  2. Berperan sebagai seorang informan. Misalnya, suatu hari guru menemukan ada meja yang dicoret atau anak-anak mencoret meja. Sebaiknya guru mengatakan bahwa meja bukan tempat untuk menuliskan sesuatu, tetapi kertas. Atau di kelas komputer ada anak yang menggoreskan sesuatu di atas disket komputer. “Disket komputer tidak bisa lagi dipakai jika tergores atau kotor”.
  3. Memberikan pilihan/opsi. Misalnya, setelah seorang anak selesai membuat bentuk bangunan dengan balok atau lego, dia tidak mau membereskannya. “ Bagus sekali istana yang kamu buat! Pasti kamu akan membuat istana lagi besok. Kalau begitu kamu boleh menyimpan balok-balok itu di dalam rak yang sudah disediakan atau ke dalam kotak itu”.
  4. Memberi perintah dengan pesan singkat atau satu kata. Misalnya, seorang anak tidak memulai kalimat dengan huruf besar. Katakan, “Huruf besar!” Atau setelah seorang anak membuka pintu tetapi tidak menutupnya kembali, “ Pintu!”.
  5. Berkomunikasi dengan gerakan atau bahasa tubuh. Misalnya kelas sangat gaduh, seorang guru menempelkan jari telunjuknya ke mulut.
  6. Mengungkapkan perasaan anda. Misalnya anda sedang menerangkan pelajaran, sementara anak-anak ngobrol. “ Saya merasa sedih dan frustrasi kalau tidak ada yang mau mendengarkan saya”.
  7. Menyampaikan pesan atau perintah melalui tulisan. Misalnya guru menyediakan kotak dimana tugas-tugas dikumpulkan; di kotak tersebut dituliskan pesan “ Akan lebih baik kalau mencantumkan nama dan tanggal”.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 21.27   0 comments
Mengelola stres
Selasa, 09 Februari 2010
Pada umumnya, pelaksanaan tugas selalu mengandung permasalahan dan tantangan. Masalah dan tantangan ini seringkali menimbulkan stres yang bisa mengganggu pencapaian tujuan. Stres adalah suatu kondisi tegangan (tension) baik secara faal maupun psikologis yang diakibatkan oleh tuntutan dari lingkungan yang dipersepsi sebagai ancaman. Stres merupakan bagian dari kondisi manusiawi. Dalam batas tertentu, stres membantu kita agar tetap termotivasi (eustres). Tetapi kadang-kadang kita terlalu banyak mendapatkan stres sehingga menurunkan kualitas kinerja kita (distres). Oleh karena itu, kita perlu memiliki kemampuan mengelola stres.
Untuk bisa mengelola stres, maka langkah yang harus kita lakukan adalah: mengenali gejala-gejala stres, memahami faktor-faktor penyebab stres, dan melatih diri melakukan mekanisme penanganannya (coping mechanism).

A. Gejala-gejala Stres
Stres mempengaruhi seluruh diri kita. Kondisi stres dapat diamati dari gejala-gejalanya, baik gejala emosional/kognitif maupun gejala fisik. Jika kita dapat menandai gejala-gejalanya, maka kita akan dapat mengelolanya.
Seseorang yang stres tidak berarti harus memiliki/menampakkan seluruh gejala ini, bahkan satu gejala pun sudah bisa kita curigai sebagai pertanda bahwa seseorang mengalami stres. Namun kita juga perlu menyadari bahwa gejala-gejala ini bisa juga merupakan indikator dari masalah lain, misalnya karena memang benar ada gangguan kesehatan secara fisik.
gambaran gejala-gejala stres:
Gejala Emosional/Kognitif
  • Mudah merasa ingin marah
  • Merasa putus asa saat harus menunggu sesuatu
  • Merasa gelisah• Tidak dapat berkonsentrasi
  • Sulit berkonsentrasi
  • Jadi mudah bingung
  • Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah mengingat)
  • Setiap saat memikirkan hal-hal negatif
  • Berpikir negatif tentang diri sendiri
  • Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah, misalnya merasa gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah)
  • Makan terlalu banyak
  • Makan padahal tidak lapar
  • Merasa tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan sesuatu
  • Merasa tidak mampu mengatasi masalah
  • Sulit membuat keputusan
  • Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih, marah, dan sebagai- nya)
  • Biasanya merasa marah dan bosan
  • Kurang memiliki sense of humor
Gejala Fisik
  • Otot-otot tegang
  • Sakit punggung bagian bawah
  • Sakit di bahu atau leher
  • Sakit dada
  • Sakit perut
  • Kram otot
  • Iritasi atau ruam kulit yang tidak dapat dijelaskan kategorinya
  • Denyut jantung cepat
  • Telapak tangan berkeringat
  • Berkeringat padahal tidak melakukan aktivitas fisik
  • Perut terasa bergejolak
  • Gangguan pencernaan dan cegukan
  • Diare
  • Tidak dapat tidur atau tidur berlebihan
  • Napas pendek
  • Menahan napas
B. Faktor-Faktor Penyebab Stres
Secara umum, faktor penyebab stres meliputi:
1. Ancaman.
Persepsi tentang adanya ancaman membuat seseorang merasa stres, baik ancaman fisik, sosial, finansial, maupun ancaman lainnya. Keadaan akan menjadi buruk bila orang yang mempersepsikan tentang adanya ancaman ini merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan tindakan apa pun yang akan bisa mengurangi ancaman tersebut.
2. Ketakutan
Ancaman bisa menimbulkan ketakutan. Ketakutan membuat orang membayangkan akan terjadinya akibat yang tidak menyenangkan, dan hal ini membuat orang menjadi stres.
3. Ketidakpastian
Saat kita merasa tidak yakin tentang sesuatu, maka kita akan sulit membuat prediksi. Akibatnya kita merasa tidak akan dapat mengendalikan situasi. Perasaan tidak mampu mengendalikan situasi akan menimbulkan ketakutan. Rasa takut menyebabkan kita merasa stres.
4. Disonansi kognitif
Bila ada kesenjangan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita pikirkan, maka dikatakan bahwa kita mengalami disonansi kognitif, dan hal ini akan dirasakan sebagai stres. Sebagai contoh, bila kita merasa bahwa kita adalah orang yang baik, namun ternyata menyakiti hati orang lain, maka kita akan mengalami disonansi dan merasa stres. Disonansi kognitif juga terjadi bila kita tidak dapat menjaga komitmen. Kita yakin bahwa diri kita jujur dan tepat janji, namun adakalanya situasi/lingkungan tidak mendukung kita untuk jujur atau tepat janji. Hal ini akan membuat kita merasa stres karena kita terancam dengan sebutan tidak jujur atau tidak mampu menepati janji.

Faktor lain yang bisa menimbulkan stres adalah kehidupan sehari-hari, seperti:
  1. Kematian, baik kematian pasangan, keluarga, maupun teman
  2. Kesehatan: kecelakaan, sakit, kehamilan
  3. Kejahatan: penganiayaan seksual, perampokan, pencurian, pencopetan.
  4. Penganiayaan diri: penyalahgunaan obat, alkoholisme, melukai diri sendiri
  5. Perubahan keluarga: perpisahan, perceraian, kelahiran bayi, perkawinan.
  6. Masalah seksual
  7. Pertentangan pendapat: dengan pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, pimpinan
  8. Perubahan fisik: kurang tidur, jadual kerja baru.
  9. Tempat baru: berlibur, pindah rumah
  10. Keuangan: kekurangan uang, memiliki uang, menginvestasikan uang.
  11. Perubahan lingkungan: di sekolah, di rumah, di tempat kerja, di kota, masuk penjara.
  12. Peningkatan tanggung jawab: adanya tanggungan baru, pekerjaan baru.
Di tempat kerja, selain faktor penyebab yang bersifat umum di atas, ada 6 (enam) kelompok faktor utama penyebab stres, yaitu:
  1. Tuntutan tugas
  2. Pengendalian terhadap pegawai, yang berhubungan dengan bagaimana para pegawai melaksanakan pekerjaannya
  3. Dukungan yang didapatkan dari rekan kerja dan pimpinan
  4. Hubungan dengan rekan kerja
  5. Pemahaman pegawai tentang peran dan tanggung jawab
  6. Seberapa jauh instansi tempat bekerja berunding dengan pegawai baru.
C. Reaksi Adaptasi Terhadap Stres
Seberapa banyak, lama, dan berat keberadaan gejala-gejala stres menggambarkan pada tahap mana reaksi seseorang terhadap stres yang dialaminya. Menurut Hans Selye (1974), ada 3 tahap reaksi adaptasi seseorang terhadap stres, yaitu:
  • Tahap 1: Alarm Reaction. Gejala muncul sebagai respons permulaan terhadap adanya stres, misalnya karena harus menyusun Persiapan Mengajar Harian, seorang guru baru mendadak sakit perut/mulas-mulas.
  • Tahap 2: Resistance. Seseorang yang sudah terbiasa menghadapi stres pada akhirnya akan lebih tahan (resisten) terhadap stres. Pada tahap ini, seseorang menemukan adaptasi yang baik terhadap situasi yang menimbulkan stres, sehingga alarm reaction menurun. Namun adakalanya pada tahap ini timbul diseases of adaptation, yaitu suatu keadaan dimana seolah-olah seseorang sudah beradaptasi dengan situasi yang menimbulkan stres, padahal sebenarnya adaptasinya tidak tepat sehingga timbul penyakit-penyakit seperti darah tinggi, maag, eksem, dan sebagainya.
  • Tahap 3: Exhaustion. Tahap ini adalah suatu keadaan dimana seseorang benar-benar sakit, yang terjadi bila stres terus menerus dialami dan orang tersebut tidak dapat mengatasinya. Pada tahap ini gejala sudah lebih berat, misalnya seseorang menjadi benar-benar putus asa, mengalami halusinasi, delusi, dan bahkan kematian.
D. Mengelola Stres
Manusia adalah makhluk kompleks yang berada dalam kehidupan yang kompleks pula. Kompleksitas kehidupan berpotensi menimbulkan stres, dan menuntut seseorang untuk mengatasinya. Cara seseorang mengatasi stres dapat dikelompokkan menjadi dua kategori.
Pertama, cara ini merupakan cara yang spontan dan tidak disadari, dimana pengelolaan stres berpusat pada emosi yang dirasakan. Dalam istilah psikologi diklasifikasikan sebagai defense mechanism. Beberapa perilaku yang tergolong kedalam kelompok ini adalah:
  1. Acting out, yaitu menampilkan tindakan yang justru tidak mengatasi masalah. Perilaku ini lebih sering terjadi pada orang yang kurang mampu mengendalikan/menguasai diri, misalnya merusak barang-barang di sekitarnya.
  2. Denial, yaitu menolak mengakui keadaan yang sebenarnya. Hal ini bisa bermakna positif, bisa pula bermakna negatif. Sebagai contoh, seseorang guru menyadari bahwa dirinya memiliki kelemahan dalam berbahasa Inggris, namun ia terus berupaya untuk mempelajarinya; bisa bermakna positif bila dengan usahanya tersebut terjadi peningkatan kemampuan; bermakna negatif bila kemampuannya tidak meningkat karena memang potensinya sangat terbatas, namun ia tetap berusaha sampai mengabaikan pengembangan potensi lain yang ada dalam dirinya.
  3. Displacement, yaitu memindahkan/melampiaskan perasaan/emosi tertentu pada pihak/objek lain yang benar-benar tidak ada hubungannya namun dianggap lebih aman. Contohnya: Seorang guru merasa malu karena ditegur oleh Kepala Sekolah di depan guru-guru lain, maka ia melampiaskan perasaan kesalnya dengan cara memarahi murid-murid di kelas.
  4. Rasionalisasi, yaitu membuat alasan-alasan logis atas perilaku buruk. Contohnya: Seorang Kepala Sekolah yang tidak menegur guru yang membolos selama 3 hari mengatakan bahwa ia tidak menegur guru tersebut karena pada saat itu ia sedang mengikuti pelatihan untuk kepala sekolah di ibukota provinsi.
Kedua, cara yang disadari, yang disebut sebagai direct coping, yaitu seseorang secara sadar melakukan upaya untuk mengatasi stres. Jadi pengelolaan stres dipusatkan pada masalah yang menimbulkan stres. Ada dua strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu:
  1. Meningkatkan toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda. Secara fisik: mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi, menonton acara-acara hiburan di televisi, berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, dan sebagainya.
  2. Mengenal dan mengubah sumber stres, yang dapat dilakukan dengan tiga macam pendekatan, yaitu: (a) bersikap asertif, yaitu berusaha mengetahui, menganalisis, dan mengubah sumber stres. Misalnya: bila ditegur pimpinan, maka respon yang ditampilkan bukan marah, melainkan menganalisis mengapa sampai ditegur; (b) menarik diri/menghindar dari sumber stres. Tindakan ini biasanya dilakukan bila sumber stres tidak dapat diatasi dengan baik. Namun cara ini sebaiknya tidak dipilih karena akan menghambat pengembangan diri. Kalaupun dipilih, lebih bersifat sementara, sebagai masa penangguhan sebelum mengambil keputusan pemecahan masalah; dan (c) kompromi, yang bisa dilakukan dengan konformitas (mengikuti tuntutan sumber stres, pasrah) atau negosiasi (sampai batas tertentu menurunkan intensitas sumber stres dan meningkatkan toleransi terhadap stres)
Diambil dari
Materi Pembinaan Profesi Pengawas Sekolah.
Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 2008 dalam Akhmad Sudrajat

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 15.28   0 comments
Penyebab kegagalan orang pintar
Minggu, 06 Desember 2009
Seperti halnya kesuksesan, setiap orang pun bisa mengalami kegagalan! Tak terkecuali orang-orang jenius yang kecerdasannya mendekati sempurna. Karena, memang tak ada jaminan bahwa orang pintar akan selalu sukses. Makanya, jangan heran, jika Anda menemui rekan sekolah Anda yang dulu dikenal pandai dan cerdas namun akhirnya hanya merutuki nasib karena masa depannya yang suram! Apa penyebabnya? Di luar nasib dan faktor 'lucky', banyak hal yang bisa memicu kegagalan orang-orang pintar. Namun berdasarkan wawancara dan survei yang dilakukan pada 200 orang pintar di Amerika, ada enam hal penting penyebab kegagalan bagi mereka. Coba simak:

* Kurang ketrampilan sosial
Seberapa pun hebatnya intelegensi akademis Anda, Anda tetap perlu memiliki intelegensi sosial, seperti kemampuan mendengarkan, peka terhadap perasaan orang lain, memberi dan menerima kritik dengan baik. Orang yang memiliki intelegensi sosial tinggi mampu mengakui kesalahan mereka dan tahu bagaimana membina dukungan tim. Intelegensi sosial bisa diperoleh dengan banyak berlatih.

* Tidak cocok
Sebuah kesuksesan memerlukan kecocokan antara kemampuan, bakat, kepentingan, keinginan, kepribadian, dan nilai-nilai dalam pekerjaan Anda. Bila Anda merasa tidak cocok, maka jangan ragu untuk meninjau perilaku pekerjaan dan menyesuaikan atau mengubah pekerjaan Anda selama ini. Bagi beberapa orang, pokok persoalannya adalah seberapa besar resiko yang berani diambil.

* Tidak ada komitmen
Sesuatu yang dilakukan setengah-setengah akan memperbesar kemungkinan gagal. Suatu tujuan perlu dibarengi tekad, semangat, dan komitmen yang kuat untuk mencapainya. Kurangnya penghargaan pada diri sendiri merupakan penyebab dasar kegagalan. Untuk bisa ambil bagian dalam sukses, Anda harus yakin bahwa Anda bisa melakukannya.

* Kurang fokus
Beberapa orang melakukan terlalu banyak kegiatan sehingga akhirnya tidak melakukan satu pun dengan baik. Fokuskan kembali diri Anda pada apa yang paling baik dilakukan. Sadarilah keterbatasan Anda, tetapkan prioritas, dan susun organisasi usaha Anda.

* Kurang menyadari rintangan
Kadang, banyak rintangan tersembunyi yang sulit diperangi. Umur, diskriminasi jenis kelamin dan ras merupakan jenis rintangan yang sering tidak disadari. So, Anda harus meninjau kembali, berdasarkan analisa yang benar mengenai situasi, untuk merebut kembali kontrol atas kehidupan dan masa depan Anda.

* Kemalangan
Siapapun tidak bisa menolak adanya takdir, entah itu takdir baik atau buruk. Dan siapa pula yang bisa menolak ketika kemalangan itu harus Anda alami? Seandainya ini terjadi, yang harus Anda lakukan, jangan menyalahkan diri sendiri! Ingat, meski tak bisa menolak kemalangan itu, namun selalu ada jalan untuk memperbaikinya.

Pada akhirnya, kegagalan bukanlah 'jalan buntu' untuk mencapai sukses. Kesempatan datang silih berganti. Jika hari ini Anda gagal, mungkin besok Anda akan sukses. Jika Anda mampu berpikir jernih mengenai kegagalan dan menyadari bahwa dalam hidup ini selalu ada pilihan, Anda akan bisa menyikapi sebuah kegagalan sebagai pelajaran yang berharga. Ingat, tak ada orang yang lebih bodoh selain tidak bisa memetik pelajaran dari sebuah kegagalan. (dari: Bima)

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 08.32   0 comments
www.voa-islam.com
Previous Post
Archives
Links

© education Blogger Templates modified by blogger