| javascript:void(0)
| Klasifikasi Strategi Pembelajaran |
| Senin, 06 Desember 2010 |
Klasifikasi strategi pembelajaran adalah pengelompokan strategi pembelajaran berdasarkan segi-segi yang sejenis yang terdapat dalam setiap strategi pembelajaran. Pengelompokan ini dapat dilakukan berdasarkan komponen-komponen yang terdapat dalam proses pembelajaran. Berikut ini dipaparkan komponen-komponen yang terdapat dalam proses pembelajaran yang dikemukakan oleh Gulo (2002).
1. Tujuan Pembelajaran
Dalam proses pembelajarandikenal dua macam tujuan pengajaran, yaitu tujuan instruksinal (instructional effect) dan tujuan iringan (nurturant effect). Tujuan instruksional dinyatakan secara eksplisit dalam GBPP (Gariw-Garis Besar Program Pengajaran), sedangkan tujuan iringan tidak terdapat dalam GBPP,tetapi bergantung pada pengajar dalam merancang strategi pembelajarannya. Tujjuan iringan diperoleh peserta didik jika ia terlibat dalam proses pembelajaran. Tujuan iringan diperoleh peserta didk melalui penampilan pengajar, situasi yang diciptaakan pengajar dalam mengelola pelajaran, dan penampilan pribadi pengajar. Sikap disiplin seorang pengajar akan menurun kepada peserta didiknya.
Tujuan pengajaran yang berbeda mengharuskan pengajar memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang berbeda pula. Tujuan pengajaran yang berorientasi pada pembentukan sikap tentu tidak akan dapat dicapai denganstrategi pembelajaran yang berorientasi pada dimensi kognitif. Tujuan pengajaran merupakan faktor atau acuan yang harus dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran.
2. Pengajar
Setiap pengajar dituntuut untuk meguasai berbagai kemampuan sebagai pengajar profesional dalam bidangnya. Peran pengajardalam kegiatan pembelajaran bukan sekedar menjalankan proses pembelajaran secara teknis mekanis menurut ketentuan-ketentuan yang ada. Ia adalahorang yang bertanggung jawab dalammelaksanakan tugasnya. Dalam melaksanakan pekerjaannya ia tidak bergantung padatugas itu sendiri, tetapi bergantung pula pada wawasan kependidikan yang dimilikinya. Wawasan kependidikan pengajar pada hakikatnya menunjuk pada cara seorang pengajar melihat dirinya dan tugas-tugasnya yang bersumber pada pandangan hidup yang dimilikinya.
Adapun perbedaan dalam memilih strategi pembelajaran yang akan digunakan oleh seorang pengajar yang lain pada tahap program, disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman, pengetahuan, kemampuan menyajikan pelajaran, gaya mengajar, pandangan hidup, dan wawasan masing-masing.
3. Peserta Didik
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menetukan strategi pembelajaran yang tepat adalah pesertadidik. Hal ini disebabkan adanya perbedaan latar belakang ari masing-masing peserta didik, seperti lingkungan sosial, gaya belajar, keadaan ekonomi, dan tingkat kecerdasan. Makin tinggi kemajemukan masyarakat, makin bear pula perbedaan atau variasi ini di dalam kelas.
4. Materi Pelajaran
Komponen ini merupakan salah satu masukan yang harus dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran. Materi pelajaran dapat dibedakan antara materi formal dan materi informal. Materi formal adalah isi pelajaran yang terdapat dalam buku teks resmi di sekolah, sedangkan materi informal adalah bahan-bahan pelajaran yang bersumber dari lingkungan sekolah yang bersangkutan. Bahan-bahan yang bersifati informal ini dibutuhkan agar pengajaran lebih relevan dan aktual serta faktual.
5. Metode Pengajaran
Adanya berbagai metode pengajaran perlu dipertimbangkan dalam strategi pembelajaran. Ini perlu karena pemakaian suatu metode akan mempengaruhi bentuk strategi pembelajaran.
6. Media Pengajaran
Dewasa ini tersedia bermacam-macam media pengajaran, mulai dari yang tradisional sampai yang paling canggih, seperti peralatan laboratorium yang modern, komputer, LCD, dan lainya. Keberhasilan program pengajaran tidak semata-mata tergatung dari canggih atau tidaknya media yang digunakan, tetapi dari ketepatan dan keefektifan media yang digunakan oleh pengajar. Media pengajran yang tersedia akan berpengaruh pada pemilihan strategi pembelajaran.
7. Faktor Administrasi dan Finansial
Aktor-faktor yang tidak boleh diabaikan dalam pemilihan strategi pembelajaran adalah segi administrasi dan finansial, seperti jadwal pelajaran, kondisi gedung, dan ruang belajar. Pada intinya, sarana dan prasarana harus menjadi faktor penunjang yang benar-benar berfungsi selama proses pembelajaran brelangsung. Keberadaan variabel ini merupakan sebuah keharusan. Demikian pula, berkenaan dengan masalah pendanaan atau finansial. Kelancaran proses belajarpun sering bergantung pada faktor ini
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 14.21  |
|
|
|
| Jenis Strategi Pembelajaran |
|
Dalam interaksi kegiatan pembelajaran di kelas, baik pengajar maupun peserta didik mempunyai peranan yang sama pentingnya. Perbedaaannya terletak pada fungsi dan peranannya masing-masing. Pengajar tentunya harus mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu dibandingkan peserta didiknya, yang akan digunakan untuk membelajarkan peserta didik. Untuk itu peranan pengajar dalam kegiatan pembelajaran ialah berusaha secara terus menerus untuk membantu peserta didiik membangun potensi yang dimilikinya. Pengajar harus memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran diperlukan pendekatan tertentu. Pendekatan merupakan sudut pandang atau titik tolak untuk memahami seluruh persoalan alam proses pembelajaran. Sudut pandang menggambarkan cara berfikir dan sikap seorang pengajar dalam menjalankan atau melaksanakan profesinya. Seorang pengajar yang profesional tidak hanya berpikir tentang apa yang akan diajarkan dan bagaimana diajarkan, tetapi juga tentang siapa yang akan menerima pelajaran, apa makna belajar bagi peserta didik, dan kemampuan apa yang ada pada peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini berimplikasi bahwa seorang pengajar harus mengetahui dan menguasai berbagai strategi pembelajaran dalam proses kegiatan pembelajarannya. Pengajar harus pandai memilih strategi pembelajaran yang tepat agar peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien, serta mencapai tujuan yang diharapkan. Strategi pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran yang dipilih oleh pengajar dalam proses pembelajaran yang dapat membantu dan memudahkan peserta didik ke arah tercapainya tujuan pengajaran tertentu.
Strategi Pembelajaran Berdasarkan Penekanan Komponen Dalam Program Pengajaran
Seperti telah dikemukakan di atas, berdasarkan komponen yang mendapat tekanan dalam program pengajaran,terapat tiga macam strategi pengajaran, yaitu (1) strategi pembelajaran yang berpusat pada pengajar, (2) strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dan (3) strategi pembelajaran yang berpusat pada materi pengajaran.
1. Strategi Pembelajaran yang berpusat pada Pengajar
Strategi pembelajaran yang berpusat pada pengajar merupakan strategi yang paling tua, disebut juga strategi pembelajaran tradisional. Ada yang berpendapat bahwa mengajar adalah menyampaikan informasi kepada peserta didik. Dalam pengertian demikian, tekanan strategi pembelajaran berada pada pengajar itu sendiri. Pengajar berlaku sebgai sumber informasi yang mempunyai posisi sangat dominan. Pengajar harus berusaha mengalihkan pengetahuannya kepada peserta didik dan menyampaikan keterang atau informasi sebanyak-banyaknya kepada peserta didik. Belajar dalam pendekatan ini adalah usaha untuk menerima informasi dari pengajar sehingga dalam aktivitas pembelajaran peserta didik cenderung menjadi pasif. Strategi pembelajaran yang berpusat pada pengajar ini disebut dengan teacher center strategies.
Teknik penyajian pelajaran yang paralel dengan strategi pembelajaran ini adalah teknik ceramah, teknik demonstrasi, dan teknik antar disiplin.
2. Strategi Pembelajaran yang berpusat pada Peserta Didik
Tujuan mengajar adalah membelajarkan peserta didik. Membelajarkan berarti meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memproses, menemukan, dan menggunakan informasi bagi pengembangan diri peserta didik dalam konteks lingkungannya. Strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, atau student center strategies, bertitik tolak pada sudut pandang yang memberi arti bahwa mengajar merupakan usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar. Mengajar dalam arti ini adalah usaha untuk menciptakan suasana belajar bagi peserta didik secara optimal. Yang menjadi pusat perhatian adalah peserta didik, menitik beratkan pada usaha meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menemukan,memahami, dan memproses informasi.
Peserta didik bukan ojek pendidikan karena sebagai manusia ia adalah subjek dalam modalitas. Dalam proses pembelajaran peserta didik berusaha secara aktif untuk mengembangkan dirinya di bawah bimbingan pengajar. Oleh karena itu, dalam kegiatan pembelajaran peserta didik harus diperlakukan dan memperlakukan dirinya bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek aktif.dalam proses pembelajaran peserta didik adalah manusia yang menjalani perubahan untuk menjadikan dirinya sebagai seorang individu dan personal yang mempunyai kepribadian dengan kemampuan tertentu. Dengan kata lain, aktualisasi diri (self actualization).
Berdasarkan pemahaman tersebut,strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik adalah strategi pembelajaran yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk aktif dan berperan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran ini pengajar berperan sebgai fasilitator dan motivator. Pengajar membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya secara utuh sehingga pengajar harus mengenal potensi-potensi yang dimiliki peserta didik untuk dikembangkan.
Teknik yang paralel dengan strategi pembelajaran iniadalah tekni inquiri (inquiry), teknik satuan pengajaran (unit teaching), teknik advokasi, teknik diskusi, teknik kerja kelompok, teknik penemuan (discovery), teknik eksperimen, teknik kerja lapangan, tenik sosiodrama, teknik non directive, dan teknik penyajian khusus.
3. Strategi Pembelajaran yang berpusat pada Materi Pengajaran
Materi pelajaran dapat dibedakan antara materi formal dan materi informal. Materi formal adalah pelajaran yang terdapat dalam buku teks resmi di sekolah sedangkan materi informal adalah bahan pelajaran yang bersumber dari lingkungan sekolah yang bersangkutan. Bahan-bahan yang bersifat informal ini dibutuhkan agar pengajaran lebih relevan dan aktual atau berdasarkan situasi nyata.
Pendidikan yang berlangsung di lembaga pendidikan formal adalah pendidikan yang terarah pada tujuan tertentu. Salah satunya berorientasi pada disiplin ilmu pengetahuan, yang mengantar peserta didik pada penguasaan ilmu pengetahuan atau materi pengajaran. Sehubungan dengan itu, maka strategi pembelajaran diarahkan dan disusun berdasarkan disiplin ilmu pengetahuan atau materi pengajaran yang menjadi sasarannya. Pada hakikatnya, suatu strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi atau paket pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pengajaran tertentu.
Strategi pembelajaran yang berpusat pada materi pengajaran, atau yang disebut dengan material center strategies bertitik tolak pada pendapat yang mengemukakan bahwa belajara adalah usaha untuk memperoleh dan menguasai informasi. Dalam hal ini,strategi pembelajaran dipusatkan pada materi pelajaran. Menurut Gulo (2002) dalam strategi ini perlu diperhatikan dua hal.
Pertama, kecenderungan pada dominasi kognitif dimana pendidikan afektif dan keterampilan kurang mendapat perhatian yang memadai dalam kerangka peningkatan kualitas manusia seutuhnya.
Kedua, materi pelajaran yang disampaikan di kelas dan yang dimuat dalam buku teks, akan makin usang dengan makin pesatnya perkembangan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Materi pelajaran lebih berfungsi sebagai masukan (input) yang akan berbaur dalam proses pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang berpusat pada materi berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang disertai arus globalisasi yang berakibat pengajar tidak lagi menjadi sumber informasi. Sekolah tidak mungkin lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, karena banyak media yang dapat digunakamn untuk mendapatkan informasi, seperti melalui media massa dan elektronik.
Teknik penyajian yang paralel dengan strategi pembelajaran yang berpusat pada materi pelajaran adalah tutorial, teknik modular, dan teknik pengajaran terpadu (antardisiplin), teknik secara kasuistik, teknik kerja lapangan, teknik eksperimen, dan teknik demonstrasi.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 14.08  |
|
|
|
| Strategi Pembelajaran berdasarkan Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi |
|
Berdasarkan kegiatan pengolahan pesan atau materi,maka strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris dan strategi pembelajaran heuristik atau kurioristik.
1. Strategi Pembelajaran Ekspositoris
Strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi pembelajaran berbentuk penguraian, baik berupa bahan tertulis maupun penjelasan atau penyajian verbal. Pengajar mengolah materi secaratuntas sebelum disampaikan di kelas. Strategi pembelajaran ini menyiasati agar semua aspek dari komponen-komponen pembentuk sistem instruksional mengarah pada sampainya isi pelajaran kepada peserta didik secara langsung. Dalam strategi ini pengajar berperan sangat dominan, sedangkan peserta didik berperan sangat pasif ataumenerima saja.
Teknik penyajian pelajaran yang paralel dengan strategi ini adalah teknik ceramah, teknik diskusi, teknik interaksi massa, teknik antar disiplin, teknik simulasi, teknik demonstrasi, dan teknik team teaching.
2. Strategi Pembelajaran Heuristik atau Kurioristik
Strategi pembelajaran heuristik adalah strategi pembelajaran yang bertolak belakang dengan strategi pembelajaran ekspositoris karena dalam strategi ini peserta didik diberi kesempatan untuk perperan dominan dalam proses pembelajaran. Strategi ini menyiasati agar aspek-aspek komponen pembentuk sistem instruksional mengarah pada pengaktifan peserta didik mencari dan menemukan sendiri fakta, prinsip, dan konsep yang mereka butuhkan.
Dalam strategi heuristik pengajar pertama-tama mengarahkan peserta didik kepada data-ata terpilih, selanjutnya peserta didik meumuskan kesimpulan berdasarkan data-data tersebut. Bila kesimpulan tepat, tercapailah tujuan strategi pembelajaran ini dan proses berakhir. Sebaliknya, bila kesimpulan salah, pengajar bisa memberikan data baru sampai peserta didik memperoleh kesimpulan yang tepat. Dalam strategi ini pengajar hanya mengarahkan dan menuntun sampai peserta didik isa menemukan sendiri.
Strategi pembelajaran heuristik adalah sebuah strategi yang menyiasati agar aspek-aspek ari komponen-komponen pembentuk sistem instruksional mengarah kepada pengaktifan peserta didik, mencari dan menemukan sendiri fakta, pinsip dan konsep yang mereka butuhkan.
Teknik penyajian yang paralel dengan strategi pembelajaran ini adalah inkuiri (inquiry), pemecahan masalah (problem solving), eksperimen, penemuan (discovery), teknik nondirektif, penyajian secara kasus, dan teknik penyajian kerja lapangan.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 14.05  |
|
|
|
| Strategi Pembelajaran berdasarkan Pengolahan Pesan atau Materi |
|
Strategi pembelajaran berdasarkan cara pengolahan atau memproses pesan atau materi dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu strategi pembelajaran deduktif dan strategi pembelajaran induktif.
1. Strategi Pembelajaran Deduktif
Dalam strategi pembelajaran deduktif pesan diolah mulai dari hal yang umum kepada hal yang khusus, dari hal abstrak kepada hal yang nyata, dari konsep-konsep yang astrak kepada contoh-contoh yang konkrit, dari sebuah premis menuju ke kesimpulan yang logis. Langkah-langkah dalam strategi deduktif meliputi tiga tahap. Pertama, pengajar memilih pengetahuan untuk diajarkan.
Kedua, pengajar memberi pengetahuan kepada peserta didik.
Ketiga, pengajar memberikan contoh-contoh dan membuktikannya kepada peserta didik. Misalnya, bila diambil contoh untuk pengajaran tentang kalimat tunggal, maka pengajar memulai dengan definisi kalimat tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan dengan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal.
Teknik penyajian pelajaran yang paralel dengan straegi pembelajaran deduktif adalah teknik ceramah.
2. Strategi Pembelajaran Induktif
Strategi pembelajaran induktif adalah pengolahan pesan yang dimulai dari hal-hal yang khusus, dari peristiw-peristiwa yang bersifat individual menuju generalisasi, dari pengalaman-pengalaman empiris yang individual menuju kepada konsep yang bersifat umum. Menurut Kenneth B. Anderson ada beberapa langkah untuk menentukan strategi pembelajaran induksi.
Pertama, pengajar memilih bagian dari pengetahuan, aturan umum, prinsip, konsep, yang diajarkan.
Kedua, pengajar menyajikan contoh-contoh spesifik untuk dijadikan bagian penyusunan hipotesis.
Ketiga, bukti-bukti disajikan dengan maksud membenarkan atau menyangkal berbagai hipotesis tersebut. Keempat, menyimpulkan bukti dan contoh-contoh tersebut. Bila strategi pembelajaran induksi diterapkan untuk pengajaran kalimat tunggal seperti pada strategi pembelajaran deduktif di atas, maka pengajar terlebih dahulu memberikan contoh-contoh kalimat tunggal, kemudian dijelaskan ciri-ciri kalimat tunggal sehingga peserta didik dapat mendefinisikan sendiri tentang kalimat tunggal.
Teknik penyajian yang paralel dengan teknik ini adalah teknik penemuan (discovery), teknik satuan pengajaran (unit teaching), teknik penyajian secara khasus, dan teknik nondirektif.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 13.59  |
|
|
|
| Strategi Pembelajaran Berdasarkan Cara Memproses Penemuan |
|
Berdasarkan cara memproses penemuan, strategi pembelajaran dibedakan atas strategi ekspositoris dan strategi penemuan (discovery).
1. Strategi Pembelajaran Ekspositori
seperti telah dikemukakan pada postingan sebelumnya, strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian yang dapat berupa bahan tertulis atau penjelasan (presentasi) verbal. Pengajar mengolah secara tuntas pesan atau materi sebeum disampaikan di kelas. Strategi pembelajaran ini menyiasati agar semua aspek dari komponen-komponen pembentuk sistem instruksional mengarah paada tersampaikannya isi pelajaran (informasi) kepada peserta didik secara langsung.
2. Strategi Pembelajaran Discovery
Dalam bukunya, Rustiyah (2001) dalam Dadang Suhendar, mengemukakan bahwa discovery atau penemuan adalah proses mental peserta didik yang mampu mengasimilasikan sebuah konsep atau prinsip.yang dimaksud dengan proses mental tersebut antara lain ialah mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, menduga atau memperkirakan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan. Yang tergolong ke dalam konsep misalnya,segitiga, panas, demokrasi. Sedangkan yang dimaksud dengnan prinsip, mialnya, logam bila dipanaskan akan mengembang.
Dalam strategi pembelajaran ini peserta didik dibiarkan menemukan sendiri dan mengalami proses menal itu sendiri. Pengajar hanya membeimbing dan memberikan instruksi (petunjuk).
Dalam strategi discovery pengajar harus berusaha meningkatkan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Strategi discovery dapat memantu peserta didik untuk memperoleh berbagai peningkatan:
- Mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasasn keterampilan dalam proses kognitifnya;
- Memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat individual shingga dapat kokoh tersimpan dalam jiwa perserta didik;
- Membangkitkan gairah belajar para pesesrt didik;
- Memerikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing;
- Mengarahkan peserta didik untuk memiliki motivasi yang kuat sehingga belajar lebih giat;
- Memperkuat dan menambah kepercayaan diri peserta didik dengan proses penemuannya.
Kelemahan strategi pembelajaran discovery adalah bahwa akan kurang efektif bila diterapkan pada kelas yang jumlah peserta didiknya banyak atau besar. Strategi inipun tidak akan berhasil apabila tidakmemberikesempatan kepada peserta didik untuk berpikir secara kreatif. Dengan kata lain, teknik ini terlalu mementingkan proses pengertian saja dan kurang memperhatikan pembentukan atau perkembangan sikap dan keterampilan bag peserta didik, serta memerlukan kesiapan dan kematangan mental peserta didik. Peserta didik harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitar proses pembelajaran dengan baik.
Teknik penyajian yang paralel dengan strategi ni adalah teknik discovery itu sendiri, teknik karya wisata, teknik kerja lapangan, dan teknik nondirektif.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 13.54  |
|
|
|
| Penggolongan Strategi Belajar |
| Minggu, 05 Desember 2010 |
Strategi belajar dapat digolongkan menjadi beberapa cara.
Pertama, strategi belajar digolongkan atas atrategi utama dan strategi pendukung, atau strategi langsung dan strategi tak langsung. Strategi utama dipakai secara langsung dalam mencerna materi pembelajaran, sedangkan strategi pendukung dipakai untuk mengembangkan sikap belajar dan membantu pembelajar dalam mengatasi gangguan, kelelahan, frustasi dan sebagainya.
Kedua, strategi belajar dibedakan atas strategi kognitif dan strategi metakognitif. Strategi kognitif dipakai untuk mengelola mater pembelajaran agar dapat diingan untuk jangka waktu yang lama. Sedangkan strategi metakognitif adalah langkah yang dipakai untuk mempertimbangkan proses kognitif, seperti monitoring diri sendiri, dan penguatan diri sendiri.
Ketiga, strategi belajar dapat dapat juga digolongkan atas strategi sintaksis dan strategi semantik. Strategi sintaksis menggunakan kata fungsi, awalan, akhiran, dan penggolongan kata. Sedangkan strategi semantik berhubungan dengan obyek nyata, situasi, dan kejadian.
Sejumlah ahli menggolongkan pula strategi belajar atas strategi belajar sosial dan nonsosial. Strategi belajar sosial berkaitan dengan upaya pembelajar mendapatkan kesempatana berbahasa sebanyak mungkin, meningkatkan interaksi dengan penutur asli, dan meningkatkan motivasi belajar. Termasuk ke dalam katagori ini adalah cara bagaimana mengajukan pertanyaan, memberi penjelasan, gerakan bada, jarak badan dengan lawan bicara, dan sebagainya.
Subyantoro dkk. (2004) mengungkapkan jenis-jenis utama strategi belajar dilihat dari karakteristik belajar setiap individu yang terbagi atas:
1) strategi mengulang
strategi mengulang terdiri atas mengulang sederhana dan mengulang kompleks. Strategi mnegulang sederhana digunakan untuk sekedar membaca ulang materi tertentu dan hanya untuk menghafal saja. Contoh lain Strategi sederhana adalah menghafal nomor telepon, daftar bellanjaan, dan sebaginya. Memori yang sudah ada dalam pikiran dimunculkan kembali untuk kepentingan jangka pendek, seketika, dan sederhana.
Penyerpan bahan belajar yang lebih kompleks mmerlukan strategi mengulang kompleks. Menggarisbawahi ide-ide kunci, membuat catatan pinggir, dan menulis kembali inti informasi yang telah diterima merupakan bagian dari kegiatan mengulang kompleks.
2) strategi elaborasi
Beberapa bentuk strategi elaborasi adalah pembuatan catatan, analogi, dan PQ4R. PQ4R adalah singkatan dari Preview (membaca selintas dengan cepat), Question (bertanya), dan 4R singkatan dari read, reflect, recite dan review atau membaca, merefleksi, menanyakan pada diri sendiri dan mengulang secara menyeluruh. Strategi PQ4R merupaka strategi belajar elaborasi yang terbukti efektif dalam membantu peserta didik membaca informasi bacaan.
Strategi elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Dengan strategi elaborasi, pengkodean lebih mudah dilakukan dan lebih memberikan kepastian. Strategi elaborasi membantu pemindahan informasi baru dari memori di otak yang bersifat jangka pendek ke jangka panjang dengan menciptakan hubungan dan gabungan antar informasi baru dengan yang pernah ada
Pembuatan catan adalah straategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. Dengan mencatat peserta didik dapat menuangkan ide-ide baru dariperpaduan kedua informasi itu. Sedangkan analogi merupakan carabelajar dengan perbandingan yang diibuat untuk menunjukkan persamaan antar ciri pokok benda atau ide. PQ4R adalah strategi yang digunakan untuk membantu peserta didik mengungat apa yang mereka baca.
3) strategi organisasi
Seperti halnya strategi elaborasi, srategi organisasi membantu pelaku belajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru dengan struktur pengorganisasian baru. Strategi organisasi terdiri atas pengelompokkan ulang ide-ide atau istilah menjadi bagian yang paling kecil. Strategi tersebut juga berperan sebagai pengidentifikasi ide-ide atau fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Bentuk srategi organisasi adalah outlining, yakni membuat garis besar. Peserta didik belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide-ide dengan beberapa ide utama. Mapping, yang lebih dikenal dengan pemetaan konsep, dalam beberapa hal lebih efektif dari pada outlining. Mnemonics, membentuk katagori khusus dan secara teknis dapat diklasifikasikan sebagai satu strategi, elaborasi atau organisasi. Mnemonics membantu pembentukan asosiasi, yang secara alamiah tidak ada yang membantu pengoragisasian informasi menjadi memori kerja. Strategi mnemonics teridiri atas pemotongan, akronim, dan kata berkait.
4) strategi metakognitif
Metakognitif berhubungan dengan berpikir peserta didik tentang berpikir mereka sendiri dan kemampuan menggunakan strategi belajar dengan tepat. Metakognisi memiliki dua komponen, yakni pengetauan tentang kognisi dan mekanisme pengendalian atau monitoring kognisi. Metakognisi mementingkan learning how to learn, yaitu belajar bagaimana belajar.
Strategi metakognitif merujuk pada teori pemrosesan-informasi yang menujukkan pelaksanaan fungsi, yaitu strategi yang melibatkan perencanaan pembelajaran, perenungan proses pembelajaran pada saat pelaksanaan fungsi berlangsung, memonitor pemahaman dan produk sendiri, dan mengevaluasi pembelajaran setelahmenyelesaikan suatu aktivitas.
Dengan kata lain yang termasuk dalam kelompok strategi metakognitif adalah advance organizer, perhatian yang diarahkan, perhatian terpilih, managemen diri sendiri, perencanaan fungsional, produksi ganda, dan evaluasi diri.
Strategi metakognitif berhubungan dengan proses berpikir peserta didik tentang berpikir mereka sendiri dan kemampuan menggunakan strategi belajar dengan tepat. Metakognitif memiliki dua komponen yaitu pengetahuan tentang kognisi dan dan mekanisme pengendalian atau monitoring kognisi. metakognitif merupakan istilah umum yang berarti berpikir tentang berpikir. Strategi ini membuat para peserta didik menyadari proses membaca dan memecahkan masalah. Mereka akan menjdai lebih menyadari ketrampilan yang diperlukan untuk situasi belajar tertentu.
Disamping dapat mengidentifikasi proses atau ketramppilan yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas, para peserta didik harus dapat menentukan apakan mereka menggunakan ketrampilan tersebut secaraa benar. Strategi metakognitif ini adalah langkah yang dipakai untuk mempertimbangkan proses kognitif, seperti pemantauan diri sendiri, penilaian diri sendiri, dan pemantapan diri sendiri. Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 13.27  |
|
|
|
| Strategi Pembelajaran |
| Kamis, 02 Desember 2010 |
Tugas utama seorang pengajar adalah menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Agar kegiatan itu terselenggara dengan efektif, seorang pengajar harus mengetahui hakikat kegiatan mengajar, dan strategi pembelajaran. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi antara individu dan lingkungan dimana ia hidup. Dalam hal ini proses merupakan rangkaian kegiatan yang berkelanjutan, terencana, gradual, bergilir, berkeseimbangan, dan terpadu, yang secara keseluruhan mewarnai dan memberikan karakteristik terhadap proses pembelajaran. Dalam buku Strateg Belajar Mengajar, Gulo (2002) menjelaskan makna belajar sebagai seperangkat kegiatan mental intelektual, yang hakikatnya sebagai usaha untuk mengubah tingkah laku. Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah lak dalam berfikir, bersikap, maupun berbuat.
Mengajar diartikan sebagai usaha menciptakan sistem lingkungan yang terdiri atas komponen mengajar, tujuan pengajaran, peserta didik, materi pelajaran, strategi pengajaran, media pengajaran, dan faktor administrasi serta biaya yang memungkinkan terjadinya proses belajar secara optimal. Mengajarpun dapat diartikan sebagai proses mendidik atau membelajarkan peserta didik yang diasumsikan mempunyai beberapa fungsi, antara lain mebantu menumbuhkan dan mentransformasikan nilai-nilai positif sambil memberdayakan serta mengembangkan potensi-potensi kepribadian peserta didik. Pemahaman terhadap mengajar ditentukan oleh prsepsi pengajar terhadap belajar. Kalau belajar dianggap sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan, maka mengajar adalah memberi informasi. Kalau belajar adalah usaha untuk memperoleh ketrampilan, maka mengajar adalah melatih ketrampilan. Kalau belajar adalah kegiatan untuk mengolah informasi, maka mengajar adalah usaha untuk mengoptimalkan kegiatan pembelajaran.
Proses pembelajaran mengarah pada peningkatan kualitas manusia secara utuh, meliputi dimensi kognitif-intelektual, ketrampilan dan nilai-nilai lainnya.
Pengertian Strategi
Strategi berasala dari bahasa Yunani strategia yang berarti ilmu perang ataupanglima perang. Berdasarkan pengertian ini, maka strategi adalah suatu seni merancang operasi di dalam peperangan, seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat berperang, angkatan darat dan laut. Strategia dapat pula diartikan sebagai suatu ketrampilan mengatur suatu kejadian atau peristiwa. Secara umum sering dikemukakan bahwa strategi merupakan teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Dalam bidang administrasi, strategi diartikan sebagai upaya yang bersifat makro, menyeluruh, jangka panjang dan didasarkan atas keputusan hasil penalaran. Strategi dimaknai pula sebagai tugas pokok lapisan sistem tingkat atas. Pada perkembangannya strategi digunakan dalam hampir semua disiplin ilmu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua (1989) strategi adalah ilmu dan seni menggunaka semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam peang dan damai. Yang dapat dianggap berkaitan langsung degan pengertia strategi dalam pengajaran bahwa strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Dalam konteks pengajaran, menurut Gagne (1974) strategi adalah kemampuan internal seseorang untuk berfikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Artinya, bahwa proses pembelajaran akan menyebabkan peserta didik berfikir secara unik untuk dapat menganalisis, memecahkan masalah di dalam mengambil keputusan. Peserta didik akan mempunyai executive control, atau kontrol tingkat tinggi, yaitu analisis yang tajam, tepat, dan akurat. Sedangkan strategi secara kognisi adalah ebagai proses berfikir secara induktif yaitu membuat generalisasi dari fakta, konsep, dan prinsip dari apa yang diketahui seseorang (Bell Gredler, 1986). Strategi kognitif tidak berkaitan dnegan ilmu yang dimiliki seseorang, melainkan merupakan kemampuan berpikir internal yang dimiliki seseorang dan dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu yang dimilikinya. Secara umum pengertian strategi adalah suatugaris-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Keseluruhan pengertian strategi di atas merujuk pada aspek perencanaan yang cermat, terukur, dan dipersiapkan melalui mekanisme yang benar. Pengertian strategi tersebut diterapkan pada berbagai disiplin ilmu, termasuk kontek pengajaran.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 15.15  |
|
|
|
| Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran |
| Minggu, 24 Oktober 2010 |
Tekanan utama teori konstruktivisme adalah lebih memberikan tempat kepada siswa/subjek didik dalam proses pembelajaran dari kepada guru atau instruktur. Teori ini berpandangan bahwa siswa yang berinteraksi dengan berbagai obyek dan peristiwa sehingga mereka memperoleh dan memahami pola-pola penanganan terhadap objek dan peristiwa tersebut. Dengan demikian siswa sesungguhnya mampu membangun konseptualisasi dan pemecahan masalah mereka sendiri. Oleh karena itu kemandirian dan kemampuan berinisiatif dalam proses pembelajaran sangat didorong untuk dikembangkan.
Para ahli konstruktivisme memandang bahwa belajar sebagai hasil dari konstruksi mental. Para siswa belajar dengan mencocokkan informasi baru yang mereka peroleh bersama-sama dengan apa yang telah mereka ketahui. Siswa akan dapat belajar dengan baik jika mereka mampu mengaktifkan konstruk pemahaman mereka sendiri.
Menurut para ahli konstruktivisme, belajara juga dipengaruhi oleh konteks, keyakinan , dan sikap siswa. Dalam proses pembelajaran para siswa didorong untuk menggali dan menemukan pemecahan masalah mereka sendiri serta mencoba untuk merumuskan gagasan-gagasan dan hipotesis. Mereka diberikan peluang dan kesempatan yang luas untuk membangun pengetahauan awal mereka.
Dalam perkembangannya terdapat pemikiran dalam teori konstruktivisme ini, namun semua berdasarkan pada asumsi dasar yang sama tentang belajar. Dan teori konstruktivisme yang utama dikenal dengan istilah konstruktivisme sosial (Social Constructivism) dan konstruktivisme kognitif (Cognitive Constructivism).
Akhir-ahkhir ini proses pembelajaran konstruktivisme didasarkan pada temuan-temuan penelitian mutahir tentang otak/pikiran manusia dan apa yang dikenal dengan bagaimana proses belajar terjadi.
Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu:
- Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
- Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajara pada siswa
- Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai
- Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada hasil
- Mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan
- Mengharagai peranan pengalaman kritis dalam belajar
- Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa
- Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa
- Berdasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip toeri kognitif
- Banyak menggunakan terminologi kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran, seperti prediksi, infernsi, kreasi, dan analisis
- Menekankan bagaimana siswa belajar
- Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru
- Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif
- Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata
- Menekankan pentingnya konteks siswa dalam belajar
- Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar
- Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman nyata
Peranan Teori Konstruktivisme di Kelas
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme tersebut di atas, berikut ini dipaparka tentang penerapan di kelas.
1. Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar
Dengan menghargai gagasa-gagasan atau pemikiran siswa serta mendorong siswa berpikir mandiri, berarti guru membantu siswa menemukan identitas intelektual mereka. Para siswa yang merumuskan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian menganalisis serta menjawabnya berarti telah mengembangkan tanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri serta menjadi pemecah masalah (problem solver)
2. Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon
Berfikir reflektif memerlukan waktu yang cukup dan seringkali atas dasar gagasan-gagasan dan komentar orang lain. Cara-cara guru mengajukan pertanyaan dan cara siswa merespon atau menjawabnya akan mendorong siswa mampu membangun keberhasilan dalam melakukan penyelidikan
3. Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi
Guru yang menerapkan proses pembelajaran konstruktivisme akan menantang para siswa untuk mampu menjangkau hal-hal yang berada di balik respon-respon faktual yang sederhana. Guru mendorong siswa untuk menghubungkan dan merangkum konsep-konsep melalui analisis, prediksi, justifikasi, dan mempertahankan gagasan-gagasan atau pemikirannya
4. Siswa terlibat secara aktif dalam dialog atau didkusi dengan guru dan siswa lainnya
Dialog dan diskusi yang merupakan interaksi sosial dalam kelas yang bersifat intensif sangat membantu siswa untuk mampu mengubah atau menguatkan gagasan-gagasannya. Jika mereka memiliki kesempatan untuk megemukakan apa yang mereka pikirkan dan mendengarkan gagasan-gagasan orang lain, maka mereka akan mampu membangun pengetahuannya sendiri yang didasarkan atas pemahaman mereka sendiri. Jika mereka merasa aman dan nyaman untuk mengemukakan gagasannya maka dialog yang sangat bermakna akan terjadi di kelas
5. Siswa terlibat dalam pengalaman yang menantang dan mendorong terjadinya diskusi
Jika diberi kesempatan untuk membuat berbagai macam prediksi, seringkali siswa menghasilkan berbagai hipotesis tentang fenomena alam ini. Guru yang menerapkan konstruktivisme dalam belajar memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menguji hpotesis yang mereka buat, terutama melalu diskusi kelompok dan pengalaman nyata
6. Guru memberika data mentah, sumber-sumber utama, dan materi-materi interaktif
Proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan konstruktivisme melibatkan para siswa dalam mengamati dan menganalisis fenomena alam dalam dunia nyata. Kemudian guru membantu para siswa untuk menghasilkan abstraksi atau pemikiran-pemikiran tentang fenomena-fenomena alam tersebut secara bersama-sama. Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 08.57  |
|
|
|
| Teori Problem Solving |
|
Setiap hari kita dihadapkan pada pelbagai situasi yang harus kita selesaikan dengan baik. Masalah merupakan suatu keadaan yang perlu diselesaikan dan menjadi tanggung jawab setiap individu. Penyelesaian suatu masalah melibatkan pelbagai jenis pemikiran atau kognisi seperti mengidentifikasi, mengkatagori, menyusun, membuat inferensi, merumuskan analogi, dan mengingat kembali.
Semua masalah mempunyai tujuan, tetapi berbeda antara satu sama lain. Perbedaan itu antara lain: (1) mungkin terdapat satu tujuan tetapi pada saat permulaan ada dua cara penyelesaian yang sama berkesan; (2) mungkin terdapat satu tujuan dan pada saat permulaan ada dua cara penyelesaian, tetapi satu cara lebih berkesan; (3) mungkin terdapat satu tujuan dan ada beberapa cara penyelesaian, tetapi tidak ada satu pun cara penyelesaian yang meyakinkan, dan (4) mungkin terdapat beberapa tujuan yang semuanya tidak jelas dan ini menyebabkan kesulitan bagi seseorang untuk memulai penyelesaiannya.1. Penyelesaian Masalah
Masalah merupakan suatu keadaan yang harus diselesaikan. Antara masalah atau tujuan dengan penyelesaiannya adalah suatu “ruang kosong” (problem space). Ruang kosong ini mungkin merupakan kekurangan pengetahuan pada kita (lack of knowledge) atau adanya informasi yang tidak berstruktur ataupun kurangnya kemampuan yangdisebabkan oleh keterbatasan pribadi atau hambatan lingkungan.
Apapun jenis masalahnya, setiap masalah mempunyai ciri-ciri berikut:
- semua masalah mempunyai tujuan;
- semua masalah perlu disediakan sumber-sumber yang relevanuntuk mencapai penyelesaiannya. Contohnya: sumber yang paling penting adalah individu itu sendiri, objek, atau benda yang relevan;
- semua masalah melibatkan operasi atau tindakan yang diambil untuk mencapai penyelesaian. Contohnya; seorang siswa mendapatkan buku dari temannya karena untuk membelinya ia tidak punya biaya;
- semua masalah mempunyai kendalan (constraints). Namun demikian seseorang dalam menyelesaikan masalah tidak perlu sampai melakukan sesuatu yang melanggar peraturan.
2. Strategi Penyelesaian Masalah
Setidaknya ada tiga jenis strategi penyelesaian masalah yang biasa digunakan:
- Algoritma: adalah prosedur langkah demi langkah yang bersifat sistematik dan konsisten serta menghasilkan penyelesaian yang sama setiap kali digunakan
- Heuristik: jalan pintas yang memiliki kemungkinan tinggi untuk membawa kepada penyelesaian yang tepat (rules of thumb). Ini merupakan butir-butir informasi lama yang pernah digunakan dalam membantu penyelesaian masalah pada masa lalu
- Merumuskan sub-tujuan: adalah strategi memperincikan suatu masalah yang kompleks ke dalam beberapa sub-tujuan atau sub-masalah sehingga memudahkan dalam penyelesaiannya.
3. Kendala Penyelesaian Masalah
Ada beberapa hal yang biasanya menjadi kendala dalam penyelesaian masalah, yaitu:
- Pola Pikir (mind set): adalah pola pikir seseorang yang melihat atau menyelesaikan suatu masalah hanya dengan cara tertentu saja sehingga sering kali menjadi penghalang atau mengalami kesulitan ketika harus menyelesaiakan masalah baru yang berbeda
- Ketetapan Fungsional (Functional Fixedness): adalah seserang yang berpandangan bahwa sesuatu obyek hanya dapat digunakan berdasarkan pengalaman lampau saja sehingga seringkali menyulitkan individu yang bersangkutan dalam menyelesaikan masalah yang baru.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 08.48  |
|
|
|
| Prosedur Pembelajaran Kontekstual |
| Jumat, 20 Agustus 2010 |
Setiap siswa memiliki gaya belajar sendiri. Bobbi Deporter (1992) menyebutkan hal itu sebagai unsur modalitas belajar. Menurutnya ada tiga belajar pada tiap diri siswa dimana tiap orang memiliki kecenderungan terhadap salah satunya. Ketiga hal itu adalah visual, auditorial, dan kinestetis. Siswa yang memiliki kecenderungan visual akan cenderung belajar dengan cara melihat. Siswa dengan kecenderungan auditorial akan lebih tertarik untuk belajar dengan mendengarkan suara-suara. Sementara siswa dengan karakter kinestetis akan lebih tertarik untuk praktek dengan me-lakukan suatu kegiatan atau menyentuh secara langsung.
Dalam pembelajaran kontekstual, guru dituntut untuk dapat memahami karakteristik belajar siswa sehingga siswa dapat belajar dengan gayanya masing-masing. Dalam pembelajaran konvensional, guru sering lupa memperhatikan hal ini. Sehingga yang terjadi adalah apa yang dikatakan Oleh Paulo Freire sebagai pemaksaan kehendak.Sehubungan dengan itu, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru ketika akan menerapkan model belajar pembelajaran kontekstual, yakni : Pertama, siswa harus dipandang sebagai manusia yag sedang berkembang dan bukan sebagai orang dewasa dalam ukuran kecil. Kemampuan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh level perkembangan siswa sehingga kita tidak boleh memberikan pelajaran yang tidak sesuai dengan level perkembangan siswa tersebut. Dengan demikian guru tidak bertindak sebagai penguasa dalam sebuah pembelajaran, namun ia berperan sebagai pembimbing siswa dalam membimbing mereka sesuai dengan level perkembangannya.
Kedua, setiap anak memiliki kecenderungan untuk mencoba hal yang baru. Mereka akan senang jika mendapat tantangan-tantangan yang baru. Oleh karena itu, guru berperan sebagai pemilih objek baru dan menantang yang akan dipelajari oleh siswa. Ketiga, belajar bagi siswa adalah mengaitkan hal-hal yang telah dikuasi dengan informasi baru yang mereka dapatkan. Dengan demikian tugs guru adalah untuk mengaitkan informasi yang telah ada pada siswa dengan hal baru yang ia pelajari. Keempat, belajar merupakan proses penyempurnaan skema yang sudah ada pada diri siswa (asimilasi) dan membuat skema yang baru (akomodasi). Dengan demikian guru bertugas untuk membantu melakukan proses asimilasi dan akomodasi.
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.Dalam konteks itu, prosedur atau program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu, saran pokok dalam prosedur atau penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut:
- Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar,
- Nyatakan tujuan umum pembelajarannya,
- Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu,
- Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa,
- Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.
Dengan mengetahui dan memahami prosedur pelaksanaan atau implementasi model pembelajaran kontekstual oleh guru, maka akan memudahkan bagi guru untuk menerapkan model pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran yang dilakukannya. Prosedur yang dikemuakan di atas, bukanlah harga mati dan kaku, guru boleh mencari dan menambah tahapan atau konsep lainnya, sehingga lebih memperkaya dan memperluas prosedur pelaksanaan model pembelajaran kontektual ini.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 11.35  |
|
|
|
| Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Kontekstual |
|
KONSEP belajar aktif sudah dikembangkan oleh Confusius, 2400 tahun yang silam dengan mengemukakan teori sebagai berikut, selanjutnya Mel Silberman dalam bukunya ” Active Learning ”, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, 2002 mengembangkan pernyataan Confusius Belajar Aktif sebagai berikut :
Apa yang saya dengar saya lupa.Apa yang saya lihat saya ingat sedikitApa yang saya dengar, lihat dan diskusikan saya mulai mengertiApa yang saya lihat, dengar, diskusikan dan kerjakan saya dapat pengetahuan dan ketram-pilanApa yang saya ajarkan saya kuasai. Setiap siswa mempunyai gaya yang berbada dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter ( 1992 ) dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru harus memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar tehadap gaya belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai sistem penindasan. Kearifan siswa tidak saja dalam menerima informasi tetapi juga dalam memproses informasi tersebut secara efektif, otak membantu melaksanakan refleksi baik secara eksternal maupun internal. Belajar secara pasif tidak ” hidup ”, karena siswa mengalami proses tanpa rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan dan tanpa daya tarik pada hasil, sedangkan secara aktif siswa dituntut mencari sesuatu sehingga dalam pembelajaran seluruh potensi siswa akan terlibat secara optimal.Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan model pembelajaran kontekstual :
- Siswa dalam pembelajaran dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sementara berada pada tahap – tahap perkem-bangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tikat per-kembangan dan pengalaman me-reka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkem-bangannya.
- Siswa memiliki kecenderungan untuk belajar hal baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal – hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
- Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal – hal yang baru dengan hal – hal yang sudah di ketehui. Dengan demikian, peranan guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
- Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada ( asimilasi ) atau proses pembentukan skema ratu atau ( akomodasi ), dengan demi-kian tugas guru adalah memfasilitasi ( mempermudah ) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi. Pendekatan pembelajaran kontekstual atau CTL diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalaminya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya nanti. Dalam kelas kontekstual, guru berusaha membantu siswa mencapai tujuan.
Maksudnya guru lebih bannyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Pengetahuan dan ketrampilan diperoleh dengan menemukan sendiri bukan apa kata guru. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide – ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi – strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 11.28  |
|
|
|
| Sejarah Pembelajaran Kontekstual |
|
PEMBELAJARAN Berbasis Kontekstual (Contextual teaching and Learning telah lama sekali diusulkan oleh John Dewey pada tahun 1916 yang menyarankan agar kurikulum dan metodologi pembelajaran dikaitkan langsung dengan minat dan pengalaman siswa. Dewey tidak menyetujui konsentrasi pembelajaran pada pengembangan intelektual terpisah dari pengembangan aspek kepribadian. Dewey juga tidak menyetujui dijauhkannya kegiatan pembelajaran di sekolah dengan kegiatan di dunia kerja dan di dunia nyata sehari-hari.
Oleh karena itu model pembelajaran kontekstual atau CTL telah jauh dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan dan bukan barang baru, salah satunya adalah John Dewey, seperti dikatakan Dewey bahwa model pembelajaran ini dikembangkannya pada tahun 1916, yang ia sebut dengan Learning by doing ini era tahun 1916, kemudian tahun 1970-an konsep model pembelajaran kontekstual ini lebih dikenal dengan experiential learning, kemudian pada era tahun 1970-1980 lebih dikenal dengan applied learning, pada tahun 1990-an model kontekstual ini dikenal dengan school to work. Kemudian pada era tahun 2000-an, model kontekstual ini lebih efektif digunakan.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok. Dengan demikian, guru dituntut untuk menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dan memberikan kegiatan yang bervariasi, sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, mengaktifkan siswa dan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, responsif, serta rumah dan lingkungan masyara-kat. Pada akhirnya siswa memiliki motivasi tinggi untuk belajar.”
Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu diperlukan suatau pen-dekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (CTL).
Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) dikembangkan oleh The Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunai pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui Direktorat SLTP Depdiknas.
Pendekatan model Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menhadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk meggapinya.
Oleh sebab itulah kalau kita fahami filosofis model pembelajaran kontekstual ini, ada dua yang disebut : Pertama, Filosofi pendidikan: berasumsi bahwa pendidik mempunyai peranan penting me-mbantu siswa menemukan makna di dalam pendidikannya dengan mengaitkan apa yang mereka pelajari di kelas dengan bagaimana penerapan pengetahuan itu dunia nyata. Kedua, Strategi pedagogik, ctl berisi teknik-teknik yang dapat membantu siswa menjadi lebih aktif dan reflektif terhadap pengalaman-pengalamannya.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 11.26  |
|
|
|
| Mengapa Pembelajaran Kontekstual |
|
Ada banyak model-model pembelajaran yang dapat dilakukan dan diaplikasi oleh guru di dalam proses pembelajaran mata pelajaran yang diasuhnya. Model-model pembelajaran tersebut jelas untuk menganulir atau menghilangkan kesan pembelajaran tradisional. Memang tidak pula kita pungkiri bahwa model pembelajaran tradisional tidaklah mungkin untuk kita tinggalkan dalam pembelajaran.
Akan tetapi penggunaan model pembelajaran ini hanya terbatas untuk membuka atau penyampaian awal saja, sehingga siswa memahami persoalan yang akan dipelajari mereka.
Merubah paradigma pembelajaran yang selama ini guru mutlak mentranfer ilmu dan membosankan serta kondisi siswa pasif, guru lebih mendominasi proses pembelajaran, sehingga siswa terkesan tidak aktif dan kreatif.
Sekarang ada kecenderungan proses pembelajaran lebih difokuskan kepada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika ling-kungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru menga-itkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hu-bungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Pembelajaran kontekstual me-rupakan salah satu bentuk membelajarkan siswa dengan cara memberikan pengalaman langsung. Siswa belajar dari lingkungan yang berada di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah siswa yang disuruh melakukan observasi di pasar.
Kemudian siswa itu disuruh menjelaskan apa saja yang ia pelajari selama melakukan observasi di pasar, hal ini tentunya berkaitan dengan mata pelajaran ekonomi.
Demikian pula dalam mata pelajaran sejarah siswa di suruh untuk melihat peninggalan sejarah, seperti candi, istana, mesjid. Dari informasi lapangan, siswa diberikan kesempatan untuk menyampaukan hasil observasi atau pengamatan yang telah mereka lihat dan pelajari.
Ada tiga prinsip dalam pembelajaran pembelajaran konstektual. Pertama, siswa dituntut untuk menemukan sendiri pengetahuan baru. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan yang baru, namun lebih dari itu siswa dikondisikan agar dapat memahami proses yang terjadi dalam mendapatkan ilmu itu.
Singkatnya, siswa membangun sendiri pengetahuannya. Kedua, siswa dituntut untuk dapat menghubungkan ilmu yang ia dapatkan di sekolah dengan kejadian actual di masyarakat. Ketiga, diharapkan siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan dengan kejadian aktual di ma-syarakat.
Terkait dengan itu, ada lima karakteristik penting dalam pembelajaran kontekstual (1) Pembelajaran merupakan pengaktivan kembali informasi yang sudah ada pada siswa (2) pembelajaran kontekstual merupakan suatu upaya untuk mendapat pengetahuan yang didapatan dengan cara de-duktif. (3) Pemahaman yang diperoleh bukan untuk dihafal, tetapi untuk difahami dan diyakini. (4) Memprakteikan pengetahuan yang telah didapat (5) Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
Dengan demikian, model pembelajaran kontekstual dapat dilakukan oleh guru, dan siswa belajar dengan kondisi di sekitarnya. Model ini sangat menarik dan dapat dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.
Namun, perlu diingat, bahwa untuk menggunakan model ini dalam pembelajaran, guru harus memahami dan mengetahui secara lebih detil tentang mekanisme pembelajaran kontekstual ini.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 11.23  |
|
|
|
| Hakikat Pembelajaran Kontekstual |
|
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).
Secara hakiki model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning adalah :
- Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya,
- Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Perlu kita ketengahkan pula bagaimana perbedaan model pembelajaran kontekstual dengan model pembelajaran tradisional. Kalau model pembelajaran kontekstual penekanan pembelajarannya lebih kepada:
- Menyandarkan pada pemahaman makna,
- Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa,
- Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran,
- Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan,
- Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa,
- Cenderung mengintegrasikan beberapa bi-dang,
- Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok),
- Perilaku dibangun atas kesadaran diri,
- Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman,
- Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. yang bersifat subyektif,
- Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan,
- Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik,
- Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting,
- Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.
Demikian pula kalau kita me-ngetengahkan model pembelajaran tradisional, maka ada beberapa penekanan, diantaranya
- Menyandarkan pada hapalan,
- Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru,
- Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru,
- Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan,
- Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan,
- Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu,
- Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual),
- Perilaku dibangun atas kebiasaan,
- Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan,
- Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor,
- Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman,
- Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik,
- Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas, dan
- Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.
Perbedaan dari model pembelajaran kontelstual dengan model pembelajaran tradisional sama banyaknya, akan tetapi kalau kita kaitkan dengan pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas, kreativitas, suasana menyenangkan, dan pembelajaran siswa aktif, maka tentunya model pembelajaran kontekstuallah yang paling tepat digunakan.
Pembelajaran model tradisional tidak mungkin kita hilangkan dari suatu proses pembelajaran, karena untuk menyatukan persepsi dan penjelasan masalah yang akan dikerjakan oleh siswa, tentulah model tradisional misalnya model ceramah awal dahulu dilakukan. Dengan model ini siswa dapat memahami dan mengetahui konsep dan masalah yang akan dilakukan, dan tentunya waktu yang digunakan tidak lebih dari 20 menit. Kemudian barulah model pembelajaran kontekstual dilakukan oleh siswa di lapangan, karena hakikinya pembelajaran kontekstual lebih banyak dilakukan di luar kelas.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 11.16  |
|
|
|
| Peranan Guru Dalam Pembelajaran Inkuri |
| Minggu, 08 Agustus 2010 |
Dalam model pembelajaran inkuiri guru mesti mampu menciptakan kelas sebagai laboratorium demokrasi, supaya pelajar terlatih dan terbiasa berbeda pendapat. Kebiasaan ini penting dikondisikan sejak di bangku sekolah, agar pelajar memiliki sikap jujur, sportif dalam mengakui kekurangannya kendiri dan siap menerima pendapat orang lain yang lebih baik, serta mampu mencari penyelesaian masalah.
Peranan guru dalam pelaksanaan pembelajaran inkuiri adalah sebagai fasilitator, mediator, director-motivator, dan evaluator.
Sebagai fasilitator seorang guru mesti memiliki sikap-sikap sebagai berikut (Roger dalam Djahiri, 1980) :
- Mampu menciptakan suasana bilik darjah yang nyaman dan menyenangkan,
- Membantu dan mendorong pelajar untuk mengungkapkan dan menjelaskan keinginan dan pembicaraannya baik secara individual maupun kumpulan,
- Membantu kegiatan-kegiatan dan me-nyediakan sumber atau peralatan serta membantu kelancaran belajar mereka,
- Membina siswa agar setiap orang merupakan sumber yang bermanfaat bagi yang lainnya,
- Menjelaskan tujuan kegiatan pada kelompok dan mengatur penyebaran dalam bertukar pendapat.
Sebagai mediator, guru berperan sebagai penghubung dalam menjembatani mengaitkan materi pembelajaran yang sedang dibahas melalui pembelajaran koperatif dengan permasalahan yang nyata ditemukan di lapangan. Peranan ini sangat penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) yaitu istilah yang dikemukakan oleh Ausubel untuk menunjukan bahan yang dipelajari memiliki kaitan makna dan wawasan dengan apa yang sudah dimiliki oleh siswa sehingga mengubah apa yang menjadi milik siswa. (Hasan, 1996).
Disamping itu juga, guru berperan dalam menyediakan sarana pembelajaran, agar suasana belajar tidak monoton dan membosankan. Dengan kreativitasnya, guru dapat mengatasi keterbatasan sarana sehingga tidak menghambat suasana pembelajaran di kelas.
Sebagai Director-Motivator, Peran ini sangat penting karena mampu membantu kelancaran diskusi kumpulan, Guru berperan dalam membimbing serta mengarahkan jalannya diskusi, membantu kelancaran diskusi tapi tidak memberikan jawaban.
Disamping itu sebagai motivator guru berperan sebagai pemberi semangat pada siswa untuk aktif berpartisipasi. Peran ini sangat pentng dalam rangka memberikan semangat dan dorongan belajar kepada siswa dalam mengembangkan keberanian siswa baik dalam mengembangkan keahlian dalam bekerjasama yang meliputi mendengarkan dengan seksama, mengembangkan rasa empati. maupun berkomunikasi saat bertanya, mengemukakan pendapat atau menyampaikan permasalahannya.
Menurut Gulo (2002), peranan utama guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
- Motivator, yang memberikan rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berpikir,
- Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berpikir siswa,
- Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberikan keyakinan pada diri sendiri,
- Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di dalam kelas,
- Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan,
- Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas,
- Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.
Menurut Memes (2000), ada enam langkah yang diperhatikan dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing, yaitu :
(1) Merumuskan masalah,
(2) Membuat hipotesa,
(3) Merencanakan kegiatan,
(4) Melaksanakan kegiatan,
(5) Mengumpulkan data,
(6) Mengambil kesimpulan.
Enam langkah pada inkuiri terbimbing ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Para siswa akan berperan aktif melatih keberanian, berkomunikasi dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan ma-salah yang dihadapi. Tugas guru adalah mempersiapkan skenario pembelajaran sehingga pembelajarannya dapat berjalan dengan lancar.
Dengan pemahaman terhadap langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran imkuiri ini, maka guru sudah harus memulai dari sekarang bagi guru-guru yang baru mengetahui dan mempelajari model pembelajaran ini. Demikian pula bagi guru-guru yang sudah pernah dan jarang menggunakan model pembelajaran inkuiri ini, kiranya lebih dapat meningkatkan dan meng-efektifkan lagi, sehingga model pembelajaran inkuiri ini benar-benar mampu memberikan nilai tambah di dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Sebagai seorang guru, tentunya tidak hanya sekedar mengetahui dan memahami konsep model pembelajaran inkuiri saja, akan tetapi sudah menjadi kewajibannya untuk dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 14.47  |
|
|
|
| Model Inkuri Sebagai Alternatif |
|
SALAH satu proses pembelajaran yang berorientasi siswa (student oriented) antara lain adalah model inkuiri. Kata inkuiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata kerja intransitive yang sama artinya dengan to investigate, kemudian kata itu berkembang menjadi kata benda inquiry yang memiliki makna sama dengan investigation (Hornby, 1981). Echols dan Shadly (1986) memberikan batasan terhadap kata to inquire yang berarti “menyelidiki” kemudian ber-kembang menjadi kata benda inqury yang berarti “penyelidikan”.
Kemudian kata inquiry digunakan sebagai istilah model pembelajaran yang dikembangkan oleh Suchman (1962) yang dikenal dengan model pelatihan inkuiri. Model ini merupakan salah satu bentuk mengajar yang diambil oleh Joice dan Well (1967) dari Suchman. Menurut model ini siswa dituntun pada fenomena penyelidikan yang didasarkan pada konfrontasi intelektual yang dilakukan partisipan aktif dalam penyelidikan ilmiah.
Gambaran diatas menggambarkan bahwa semua mata pelajaran bisa menggunakan model ini apabila guru mampu memformulasikan isi kurikulum pada suatu masalah yang dikembangkan pada situasi yang akan diselidiki siswa. Model pembelajaran inquiri ini berorientasi pada suatu perkembangan jiwa siswa secara mandiri dengan menggunakan metode ilmiah dan memanfaatkan karakteristik jiwa anak sebagai partisipan aktif dalam penyelidikan ilmiah yang mempunyai keingintahuan. Dalam hal ini tugas guru adalah membimbing dengan menggunakan metode ilmiah sehingga diharapkan siswa akan menemukan sesuatu yang baru berdasarkan penyelidikannya sendiri.
Model pembelajaran inkuiri ini dimulai dengan menghadirkan situasi penuh teka-teki bagi siswa yang akan termotivasi untuk mencari pemecahannya apabila mereka dihadapkan pada suatu masalah yang membingungkan. Situasi ini harus dimanfaatkan untuk menerapkan prosedur penyelidikan. Model pembelajaran inkuiri dapat digunakan pada semua tingkatan usia, mulai dari anak-anak sampai dengan dewasa. Dalam kenyataan, baik disadari atau tidak, guru sering melaksanakan model ini walaupun pada tingkat yang lebih sederhana, yaitu inkuiri yang ditekankan pada pencapaian hasil. Misalnya guru menyuruh siswa menebak benda di dalam kotak dengan mengajukan pertanyaan menuju kearah penyelidikan. Model pelatihan inkuiri untuk dewasa ditekankan pada pencapaian konsep.
Sebagai contoh dalam pengajaran mata pelajaran geografi banyak metode yang bisa digunakan, misalnya metode langsung atau audi visual. Metode yang betul-betul mengandalkan penyelidikan dalam pembelajaran geografi sangat penting dilakukan untuk lebih memahami konsep dan aplikasinya di kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian pembelajaran yang berorientasi siswa betul-betul dapat terlaksana dengan baik. Menurut Hidayat (1997) mengemukakan tiga komponen utama yang perlu diperhatikan dengan hal tersebut , yaitu : (1) Lingkungan siswa, termasuk manusia disekitarnya, sebagai lapangan penyelidikan, (2) proses penyelidikan, (3) Penjelmaan siswa, yang dimanifestasikan dalam kemampuan memahami lingkungan yang ada disekitarnya.
Ketiga komponen inilah yang ditransfer ke dalam kelas sebagai asas strategi penyelidikan dalam pembelajaran geografi. Lingkungan yang berada di sekitar siswa (rumah tinggalnya/sekolah) ditransformasikan ebagai sumber data, kemudian temuannya dijadikan bahan memecahkan masalah geografi yang sedang ditekuninya. Oleh karena itu, guru yang menggunakan model pelatihan inkuiri harus mempersiapkan data “kegeografian” yang sesuai dengan tujuan pembelajarannya baik berupa gambar/foto atau sumber data lain yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Guru harus membimbing siswa mengadakan penyelidikan dan mengolah data yang tersedia. Selain itu guru harus meneliti hasilnya bersama-sama dengan siswa. Guru juga harus bisa mimilih pokok bahasan/materi yang dapat menggunakan model ini. Perlu diingat tidak semua pokok bahasan dan standar kompetensi dapat menggunakan model ini. Karena kemungkinan buku paket yang tersedia tidak dirancang untuk model pelatihan inkuiri.
Pengajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Pengajaran geografi akan berjalan dan berhasil dengan baik manakala mampu mengubah diri peserta didik (siswa) selama ia terlibat di dalam proses pengajaran itu, dan dapat dirasakan manfaatnya secara langsung. Dalam pembelajaran memerlukan media yang sesuai, karena faktor yang me-nyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran antara lain belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun oleh siswa (peserta didik). Sumber belajar yang dimaksud tentunya bukan hanya buku paket tetapi lingkungan sekitar sekolah atau siswa dapat dijadikan sebagai sumber belajar sekaligus media pembelajaran.
Sehubungan dengan itu model inkuiri diharapkan mampu memanfaatkan lingkungan sekolah dan siswa sebagai sumber belajar yang efektif. Dengan demikian mata pelajaran geografi yang dianggap mata pelajaran yang hanya mengandalkan hapalan dapat diubah menjadi mata pelajaran yang menyenangkan sekaligus meningkatkan kemampuan nalar siswa. Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 14.39  |
|
|
|
| Inkuiri Terbimbing |
| Rabu, 04 Agustus 2010 |
BANYAK model pengajaran dan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru di dalam memberikan pembelajaran kepada siswanya. Penggunaan berbagai macam model pembelajaran akan dapat memberikan kesan positif terhadap hasil belajar siswanya, dan dari berbagai penelitian yang dilaksanakan oleh pakar pendidikan, pemerhati pendidikan, praktisi pendidikan dan mahasiswa tahun terakhir di mana mereka dipersyaratkan membuat atau menyusun tugas akhir, baik sarjana, magister atau Doktor, sepakat bahwa apabila guru menggunakan model pembelajaran yang tepat dan mampu memberikan dampak terhadap dominasi siswa dalam belajar seperti kreatif, aktif, inovatif dan menimbulkan suasana menyenangkan. Maka, akan berdampak positif terhadap hasil belajar yang dicapai siswanya.
Salah satu dari model pembelajaran yang dapat digunakan dan dimplementasikan oleh guru apa yang disebut model pembelajaran Inkuairi. Inkuiri berasal dari kata inquire yang berarti me-nanyakan, meminta keterangan, atau penyelidikan, dan inkuiri berarti penyelidikan. Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun fisik.
Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru.
Menurut Carin dan Sund (1975), yang dimaksud dengan inkuiri ialah The process of investigasing a problem. Inquiry differs from problem solving in that an individual may origainate the problem and develop his own strategies for obtaining information. Unlike problem solving there is not set pattern to inquiry. An individual may be be involved in may methods of obtaining information and be may take intuitive aporoaches to the problem. The and product of inquiry may result in a to the problem. The end product of inquiry may result in a discovery.
Inkuiri adalah suatu model yang digunakan dalam pembelajaran baik untuk mata pelajaran matematika dan sains, maupun sosial sains dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan, informasi atau mempelajari suatu gejala. Demikian pula apa yang dikatakan Wayne Welch berpendapat bahwa metode penyelidikan ilmiah sebagai proses inkuiri. Ia juga mengidentifikasi lima sifat dari proses inkuiri, yaitu pengamatan, pengukuran, eksperimentasi, komunikasi, dan proses-proses mental.
Dalam pembelajaran Matematika Sains dan Sosial Sains dengan pembelajaran inkuiri, guru harus membimbing siswa terutama siswa yang belum pernah mempunyai pengalaman belajar dengan kegiatan-kegiatan inkuiri. Atas dasar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, W.R Romey (1968) membedakan inkuiri menjadi dua tingkat, yaitu : (a) Inkuiri dengan aktivitas terstruktur. Dalam inkuiri dengan “Aktivitas terstruktur” siswa memperoleh petunjuk-petunjuk lengkap yang mengarahkan pada prosedur yang didesain untuk memperoleh sesuatu konsep atau prinsip tertentu; (b) Inkuiri dengan aktivitas tidak terstruktur. Dalam inkuiri dengan “Aktivitas Tidak Terstruktur”, hanya terdapat penyajian masalah, dan siswa secara bebas memilih dan menggunakan prosedur-prosedur masing-masing, menyusun data yang diperolehnya, menganalisisnya dan kemudian menarik kesimpulan. Sedangkan Carin dan Sund berpendapat bahwa pembelajaran model inkuiri mencakup inkuiri induktif terbimbing dan tak terbimbing, inkuiri deduktif, dan pemecahan masalah. Diantara model-model inkuiri yang lebih cocok untuk siswa-siswa paa peringkat pendidikan dasar dan menengah adalah inkuiri induktif terbimbing, dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran tentang konsep atau suatu gejala melalui pengamatan, pengukuran, pengumpulan data untuk ditarik kesimpulan. Pada inkuiri induktif terbimbing, guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, tetapi guru membuat rencana pembelajaran atau langkah-langkah percobaan.
Siswa melakukan percobaan atau penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep yang telah di-tetapkan guru.Memang, di dalam pelaksanaan dan penggunaan model pembelajaran inkuiri akan terlaksana dengan efektif dan efisien, manakala gurunya memahami betul seluk beluk tentang model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuri tidak akan efektif, bila guru tidak mengenal lebih detil bagaimana hakiki dan proses pembelajaran inkuiri tersebut. Oleh karena itu, sangat dituntut kepada guru untuk memahami dan mengenal betul bagaimana langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran ini. Hasil pembelajaran guru akan efektif dan optimal bilamana guru mengenal lebih dalam tentang model pembelajaran ini, dan tentunya model pembelajaran ini akan efektif bila guru secara terus menerus me-lakukan dalam pembelajaran. Tidak mungkin akan efektif, jika guru hanya sekali-sekali menggunakannya, hasil akan nampak bilamana guru menggunakannya berulang-ulang kali.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 23.04  |
|
|
|
| Hakekat Pembelajaran Inkuiri |
| Senin, 19 Juli 2010 |
TUJUAN dari pembelajaran setidak-tidaknya seorang guru menanamkan tiga domain, yakni, kognitif, afektif dan psikomotor dan ketiga domian itu secara langsung akan tertanam pada setiap siswa yang mengikuti suatu proses pembelajaran. Oleh karena itu, yang paling mendasar di pafami oleh guru adalah melatih siswa untuk berpikir, memecahkan masalah dan menemukan sesuatu bukan merupakan tujuan pendidikan yang baru. Demikian pula halnya dengan strategi pembelajaran penemuan, inkuiri atau induktif. Inkuiri, pada tingkat paling dasar dapat dipandang sebagai proses menjawab pertanyaan atau memecahkan permasalahan berdasarkan fakta dan pengamatan. Siklus inkuiri terdiri dari kegiatan mengamati, bertanya, menyelidiki, menganalisa dan merumuskan teori, baik secara individu maupun bersama-sama dengan teman lainnya. Mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis (Star, 2000).
Apa yang dikatakan Arends (1994) “The overal goal of inquiry teaching has been, and continues to be, that helping student learn how to ask question, seek answers or solution to satisfy their curiosity, and building their own theories and ideas about the world”.
Pada prinsipnya tujuan pengajaran inkuiri membantu siswa bagaimana merumuskan pertanyaan, mencari jawaban atau pemecahan untuk memuaskan keingintahuannya dan untuk membantu teori dan gagasannya tentang dunia. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa pembelajaran inkuiri bertujuan untuk mengembangkan tingkat berpikir dan juga keterampilan berpikir kritis. Dalam pandangan CTL pengajaran dan pembelajaran sains di kelas haruslah berwujud proses inkuiri, sebuah proses yang ditempuh oleh para ilmuwan dan terdiri atas unsur-unsur siklus mengamati, mengajukan pertanyaan, mengajukan penjelasan-penjelasan dan hipotesis-hipotesis, merancang dan melakukan eksperimen-eksperimen, menganalisis data eksperimen, menarik kesimpulan eksperimen, dan membangun model atau teori. Proses inkuiri selama pengajaran dan pembelajaran berdampak konstruktif yang memberi banyak peluang dan tenaga untuk meningkatkan keefektifan pengajaran dan pembelajaran.
Secara hakiki bahwa pembelajaran inkuiri menunjukkan dasar dari pernyataan sebagai berikut: Inkuiri adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab dan mengantarkan pada pengujian dan eksplorasi bermakna. Inkuiri adalah seni dan sains tentang mengajukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki pengamatan dan pengukuran, pengajuan hipotesis dan penafsiran, pembangunan dan pengujian model melalui eksperimen, refleksi, dan pengakuan atas kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari metode penyelidikan yang digunakan. Selama inkuiri, guru dapat mengajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, yang dapat bersifat open-ended, memberi peluang siswa untuk mengarahkan penyelidikan mereka sendiri dan menemukan jawaban-jawaban yang mungkin dari mereka sendiri, dan mengantar pada lebih banyak pertanyaan lain. Inkuiri adalah apa yang dilakukan para ilmuwan, yang berarti siswa memiliki ruang, peluang, dan dorongan untuk bekerja ( hands-on, minds-on, dan sosials-on) dalam cara formal dan sistematik yang teruji dan terulangi dalam membangun body of information yang bermakna.
Dalam pengamalan sains sebagai inkuiri, siswa belajar bagaimana menjadi ilmuwan, tidak hanya sekedar belajar melalui penghafalan-pengulangan dan pedrillan-penerapan berulang body of facts and concepts.
Inkuiri menyediakan siswa beraneka ragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembang keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat. Inkuiri melibatkan komunikasi yang tersedia suatu ruang, peluang, dan tenaga bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, obyektif, dan bermakna, dan untuk melaporkan hasil-hasil kerja mereka.
Inkuiri memungkinkan guru belajar tentang siapakah siswa mereka, apa yang siswa ketahui, dan bagaimana pikiran siswa mereka bekerja, sehingga guru dapat menjadi fasilitator yang lebih efektif berkat adanya pemahaman guru mengenai siswa mereka.
Selama inkuiri, guru belajar untuk selalu menggigit lidahnya, artinya mengekang diri agar tidak memberikan terlalu banyak petunjuk, pertanyaan, dan jawaban, karena hal itu akan merebut kesempatan siswa untuk belajar. Inkuiri menghendaki siswa untuk mengambil tanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri. Metode inkuiri ditempuh dengan menerapkan lima langkah dalam kegiatan pembelajaran (Eggen & Kauchack, dalam Farcis, 2001)
- Merumuskan pertanyaan atau permasalahan,
- Merumuskan hipotesis,
- Mengumpulkan data,
- Menguji hipotesis,
- Membuat kesimpulan.
Kegiatan pembelajaran selama menggunakan metode inkuiri ditentukan oleh keseluruhan aspek pengajaran di kelas, proses keterbukaan dan peran siswa aktif. Menurut Arends (1994) pada prinsipnya, keseluruhan proses pembelajaran membantu siswa menjadi mandiri, percaya diri dan yakin pada kemampuan intelektualnya sendiri untuk terlibat secara aktif. Peran guru bukan hanya membagikan pengetahuan dan kebenaran, namun juga berperan sebagai penuntun dan pemandu.
Oleh sebab itu dalam pembelajaran inkuiri peran guru adalah menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. Bukan memberikan informasi atau ceramah kepada siswa. Guru juga harus memfokuskan pada tujuan pembelajaran, yaitu mengembangkan tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Setiap pertanyaan yang diajukan siswa sebaiknya tidak langsung dijawab oleh guru, namun siswa diarahkan untuk berpikir tentang jawaban dari pertanyaan tersebut, maka dari itu, guru juga harus mengetahui berbagai keterampilan dalam mengajar.
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 22.30  |
|
|
|
| Karakteristik Pembelajaran Sistem STAD |
|
Pelaksanaan cooperative learning harus diiringi pembekalan keterampilan melakukan kerja sama seperti berani bicara dan mengemukakan pendapat, bertanya, menghargai pendapat teman, memberi semangat pada teman untuk berbicara, tidak mendominasi pembicaraan kelompok, punya kemampuan argumentasi dan keterampilan yang dapat menunjang suksesnya strategi cooperative learning. Sedangkan untuk sistem pendekatan yang digunakan akan digunakan STAD dengan alasan lebih mudah diterapkan pada guru yang belum biasa menggunakan cooperative learning sehingga pada nantinya guru akan mengembangkan sistem pendekatan yang lainnya pada lain kesempatan.
Model cooperative learning sistem STAD merupakan salah satu tipe cooperative learning yang bertujuan mendorong siswa berdiskusi, saling bantu menyelesaikan tugas, menguasai dan pada akhirnya menerapkan keterampilan yang diberikan. Slavin (1995) mengemukakan ada 5 langkah pelaksanaan pendekatan ini, yaitu:
(1). Persiapan.
Pada tahap ini guru memulainya dengan membenkan tujuan pembelajaran khusus, kemudian memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang kandungan materi yang akan dipelajarai. Kemudian dilanjutkan dengan memberi apersepsi dengan harapan mengingatkan kembali pemahaman siswa akan materi prasyarat yang diperlukan,
(2). Penyajian Materi.
Dalam mengem-bangkan materi pembelajaran perlu ditekankan hal-hal sebagai berikut :
(a) mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok; (b) menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan sekadar hapalan; (c) memberi umpan balik sesering mungkin untuk mengontrol pemahaman siswa; (d) memberi penjelasan atau alasan mengapa jawaban itu benar atau salah dan (e) beralih pada materi berikutnya jika siswa telah memahami masalah yang ada, (3). Tahap kerja kelompok.
Pada tahap ini, siswa diberi kertas kerja sebagai bahan dipelajari dalam bentuk open-ended tasks. Dalam kerja kelompok ini siswa saring berbagi tugas, saling bantu menyelesaikan tugas dengan target mampu memahami materi secara benar. Salah satu kerja kerja dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru harus mampu berperan sebagai fasilitator dan motivator kerja kelompok,
(4). Tahap tes individu.
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai, diadakan tes secara individual atau quiz, mengenal materi yang telah dipelajari dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan open-ended tasks. Pada perhatian ini tes individu dilakukan pada akhir setiap pertemuan. Tujuannya agar siswa dapat menunjukkan pemahaman dan apa yang telah dipelajari sebelumnya. Skor yang diperoleh siswa per individu ini didata dan diarsipkan sebagai bahan untuk perhitungan skor kelompok. Berikut contoh lembar skor kuis untuk STAD.
(5). Tahap Penghargaan.
Penghargaan kelompok dilakukan dalam tahapan berikut ini:
1) Menghitung skor individu kelompok.
Nilai perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor tes awal dan tes berikutnya, sehingga setiap anggota memiliki kesempatan yang sama untuk memberi sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya. Menurut Slavin (1995). Kriteria perkembangan individu terhadap kelompok sebagai berikut :
- Skor Tes jika lebih dari 10 poin di bawah skor dasar, nilai perkembangan adalah 5.
- Skor tes jika 10 poin hingga 1 dibawah skor dasar, nilai perkembangannya 20.
- Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal), nilai perkembangannya 40.
2) Penghargaan.
Skor kelompok dihitung berdasarkan rata-rata nitai perkembangan yang disumbangkan setiap kelompok. Berdasarkan rata-rata nilai perkembangan yang ditetapkan penghargaan kelompok, yaitu: (a) Kelompok dengan rata-rata skor 15, kelompok cukup baik.
(b) Kelompok dengan rata-rata skor 20, sebagai kelompok baik.
(c) Kelompok dengan rata-rata skor 30, sebagai kelompok sangat baik.
Dengan demikian kita berharap, kiranya para guru dapat menggunakan cooperative learning jenis STAD ini di dalam pembelajaran yang diampunya. Mari kita ubah paradigma mengajar dan pembelajaran yang kita lakukan untuk dapat memberi hasil yang terbaik untuk anak didik kita. Gurulah sesungguhnya dapat memainkan peranan
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 22.13  |
|
|
|
| Ada Apa Dengan Student Teams Achievement Division (STAD) |
| Rabu, 14 Juli 2010 |
Student Teams Achievement Division selanjutnya di singkat STAD, dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif atau cooperative learning yang paling sederhana.
Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu pada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru pada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks.
Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah jadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, tiap kelompok harus heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau berdiskusi. Secara individual tiap minggu atau tiap dua minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tapi pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu. Dalam metode ini, kata dia, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu.
Saat belajar berkelompok, siswa saling membantu untuk menuntaskan materi yang dipelajari. Guru memantau dan mengelilingi tiap kelompok untuk melihat adanya kemungkinan siswa yang memerlukan bantuan guru. Metode ini pun dibantu oleh metode pelatihan, penugasan, dan tanya jawab sesuai satuan pelajaran sehingga ketuntasan materi dapat terwujud.
Penerapan metode ini menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, seperti pendekatan kooperatif, kontekstual, dan konstruktif. Keterpaduan ini dapat terwujud dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan perolehan nilai atau kemampuan anak pada suatu kegiatan belajar mengajar yang konsisten. Setelah menyusun program pembelajaran, kegiatan berikutnya adalah menyajikan program tersebut dalam satu kelas yang dibagi menjadi beberapa kelompok studi secara kooperatif. Kegiatan belajar mengajar ini diterapkan dengan metode STAD yang dipandang sebagai suatu metode pembelajaran kooperatif yang efektif, khususnya pada pokok bahasan membaca pemahaman.
Penerapan metode STAD terdiri atas siklus pembelajaran yang membawa siswa pada suasana kerja sama yang diharapkan. Siklus kegiatan pembelajaran tersebut adalah:
- Mengajar: menyajikan pembelajaran,
- Belajar dalam tim: siswa bekerja dalam tim dengan dipandu oleh lembar kegiatan untuk menuntaskan materi pelajaran,
- Tes: siswa mengerjakan kuis atau tugas lain secara individual (misalnya tes esai atau kinerja),
- Penghargaan tim: skor tim dihitung berdasarkan skor peningkatan anggota tim, laporan berkala kelas. Papan pengumuman digunakan untuk memberi penghargaan kepada tim yang berhasil mencetak skor tinggi.
Untuk memudahkan penerapannya, guru perlu membaca tugas-tugas yang harus dikerjakan tim, antara lain:
- Meminta anggota tim bekerja sama mengatur meja dan kursi, serta memberikan siswa kesempatan sekitar 10 menit untuk memilih nama tim mereka atau ditentukan menurut kesesuaian,
- Membangkitkan lembar kerja siswa (LKS),
- Menganjurkan kepada siswa pada tiap-tiap tim bekerja berpasangan (dua atau tiga pasangan dalam satu kelompok),
- Memberikan penekanan kepada siswa bahwa LKS itu untuk belajar, bukan untuk sekadar diisi dan dikumpulkan. Karena itu penting bagi siswa diberi lembar kunci jawaban LKS untuk mengecek pekerjaan mereka pada saat mereka belajar,
- Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling menjelaskan jawaban mereka, tidak hanya mencocokkan jawaban mereka dengan lembar kunci jawaban tersebut,
- Apabila siswa memiliki pertanyaan, mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu kepada teman atau satu timnya sebelum menanyakan kepada guru,
- Pada saat siswa bekerja dalam tim, guru berkeliling dalam kelas, sambil memberikan pujian kepada tim yang bekerja baik dan secara bergantian guru duduk bersama tim untuk memperhatikan bagaimana anggota-anggota tim itu bekerja,
- Memberikan penekanan kepada siswa bahwa mereka tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar sampai dapat menjawab dengan benar soal-soal kuis yang ditanyakan.
Dengan memahami dan mengetahui model pembelajaran coperative learning model STAD ini, maka guru akan dapat merubah paradigma mengajar dari konvensional kepada model pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan ( PAIKEM).
Label: strategi
>>selengkapnya...☞
|
posted by admin @ 22.47  |
|
|
|
|
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Links |
|
|
|
|