Photobucket Photobucket 

javascript:void(0)
Share |
Photobucket Photobucket Photobucket
Buku Tamu
Mengapa Pembelajaran Kontekstual
Jumat, 20 Agustus 2010
Ada banyak model-model pembelajaran yang dapat dilakukan dan diaplikasi oleh guru di dalam proses pembelajaran mata pelajaran yang diasuhnya. Model-model pembelajaran tersebut jelas untuk menganulir atau menghilangkan kesan pembelajaran tradisional. Memang tidak pula kita pungkiri bahwa model pembelajaran tradisional tidaklah mungkin untuk kita tinggalkan dalam pembelajaran.
Akan tetapi penggunaan model pembelajaran ini hanya terbatas untuk membuka atau penyampaian awal saja, sehingga siswa memahami persoalan yang akan dipelajari mereka.
Merubah paradigma pembelajaran yang selama ini guru mutlak mentranfer ilmu dan membosankan serta kondisi siswa pasif, guru lebih mendominasi proses pembelajaran, sehingga siswa terkesan tidak aktif dan kreatif.
Sekarang ada kecenderungan proses pembelajaran lebih difokuskan kepada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika ling-kungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru menga-itkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hu-bungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Pembelajaran kontekstual me-rupakan salah satu bentuk membelajarkan siswa dengan cara memberikan pengalaman langsung. Siswa belajar dari lingkungan yang berada di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah siswa yang disuruh melakukan observasi di pasar.
Kemudian siswa itu disuruh menjelaskan apa saja yang ia pelajari selama melakukan observasi di pasar, hal ini tentunya berkaitan dengan mata pelajaran ekonomi.
Demikian pula dalam mata pelajaran sejarah siswa di suruh untuk melihat peninggalan sejarah, seperti candi, istana, mesjid. Dari informasi lapangan, siswa diberikan kesempatan untuk menyampaukan hasil observasi atau pengamatan yang telah mereka lihat dan pelajari.
Ada tiga prinsip dalam pembelajaran pembelajaran konstektual. Pertama, siswa dituntut untuk menemukan sendiri pengetahuan baru. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan yang baru, namun lebih dari itu siswa dikondisikan agar dapat memahami proses yang terjadi dalam mendapatkan ilmu itu.
Singkatnya, siswa membangun sendiri pengetahuannya. Kedua, siswa dituntut untuk dapat menghubungkan ilmu yang ia dapatkan di sekolah dengan kejadian actual di masyarakat. Ketiga, diharapkan siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan dengan kejadian aktual di ma-syarakat.
Terkait dengan itu, ada lima karakteristik penting dalam pembelajaran kontekstual (1) Pembelajaran merupakan pengaktivan kembali informasi yang sudah ada pada siswa (2) pembelajaran kontekstual merupakan suatu upaya untuk mendapat pengetahuan yang didapatan dengan cara de-duktif. (3) Pemahaman yang diperoleh bukan untuk dihafal, tetapi untuk difahami dan diyakini. (4) Memprakteikan pengetahuan yang telah didapat (5) Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
Dengan demikian, model pembelajaran kontekstual dapat dilakukan oleh guru, dan siswa belajar dengan kondisi di sekitarnya. Model ini sangat menarik dan dapat dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.
Namun, perlu diingat, bahwa untuk menggunakan model ini dalam pembelajaran, guru harus memahami dan mengetahui secara lebih detil tentang mekanisme pembelajaran kontekstual ini.

Label:

posted by admin @ 11.23  
1 Comments:
Poskan Komentar
<< ke depan
 
www.voa-islam.com
Previous Post
Archives
Links

© education Blogger Templates modified by blogger