Photobucket Photobucket 

javascript:void(0)
Share |
Photobucket Photobucket Photobucket
Buku Tamu
Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning)
Selasa, 25 Juni 2013
Pengertian dan Karakteristik 
Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu strategipembelajaran dalam konteks kehidupan nyata yang berorientasipada pemecahan masalah serta mengembangkan berpikir kritis, sintetik, dan praktikal dengan memanfatkan multiple intellegencies untuk membiasakan belajar bagaimana belajar (Mukhadis, 2006). Pendapat lain menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu strategi instruksional dalam pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah-masalah yang kontekstual dan tidak terstruktur (contextualized and ill-structured problem) serta berusaha untuk mendapatkan solusi-solusi yang berarti (James Rhem, 1998). Adapun karakteristik pembelajaran berbasis masalah, antara lain adalah, a. pengajuan masalah (kehidupan nyata dan berbagai solusi); b. berfokus pada interdisiplin; c. penyelidikan autentik (masalahsimpulan); d. self and feer assessment; dan e. hasil solusi akhir dapat dapat dipertanggungjawabkan (Mukhadis, 2006). Ansharullah (2006) menambahkan karakteristik pembelajaran berbasis masalah, antara lain adalah a. siswa aktif dalam pembelajaran (student active-learning); b. modulated; c. small group; d. belajar mandiri; e. pengajuan masalah sebagai pemicu pembelajaran, dan f. informasi baru diperoleh sendiri secara langsung.
Alasan dan Tujuan
Schmidt dalam makalah Andi Ansharullah (2006), memberikan alasan mengapa masalah disampaikan mendahului pembelajaran dalam pembelajaran berbasis masalah, yakni; a. dalam kehidupan nyata, masalahselalu datang yang pertama; b. memungkinkan pebelajar mencari pengetahuan yang tidak mereka ketahui dan mencari hal-hal yang mereka perlukan dalam belajar; c. informasi terkunci dalam otak. Informasi tersebut akan keluar dengan berdiskusi atau berpikir.
Menurut Mukhadis, tujuan dari penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah adalah untuk memfasilitasi siswa agr mampu, a. memecahkan masalah secara efektif, efisien, menarik, terintegrasi, fleksibel, dan berlandaskan IPTEK; b. memecahkan masalah penuh dengan inisiatif dan antusia; c. belajar mandiri dan menjadi habit dalam kehidupan sehari-hari; d. mampu berkolaborasi secara efektif, efisiaen, dan menarik dalam kerja tim. Menurut Church (1998) ada beberapa pedoman yang harus diperhatikan dalam menerapkan problem atau masalah dalam proses pembelajaran, antara lain a. masalah haruslah relatif singkat dan sederhana; b. masalah haruslah sesuatu yang menarik bagi mahasiswa; c. pada masalah tersebut sebaiknya tidak diberikan jawaban penyelesaian yang jelas, banyak alternatif solusinya (ill-structure); dan d. masalahharus dibuat sulit dan bila mungkin kontroversial dalam putusannya.
Gambaran Umum
Pembelajaran ini didahului dengan mengajukan permasalahan yang bersifat terbuka (open-ended) kepada siswa. Kemudian mereka diarahkan untuk melakukan penelitian kelompok. Guru membantu kelompok untuk mendapatkan informasi yang tepat, baik secaralangsung di lapangan maupun dengan simulasi dan menata laporan hasil penelitian untuk disampaikan kepada seluruh kelas. Terakhir, siswa dipandu untuk melakukan refleksi, analisi, dan evaluasi proses dan hasil penelitian mereka
Sintaks/Langkah-langkah Utama Pembelajaran
Fase
Indikator
Aktivitas Siswa dan Guru
1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yangdipilihnya
2
Mengorganesasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa merumuskan masalah, mendefinisikan, dan mengorganesasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
3
Memimbing penyelidikan individual dan kelompok
Gurumendorong siswa untuk mengumpulkan informasi ysng sesuai, melaksanakan eksperimen (jika perlu), untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Siswa merencanakan, berbagi tugas, dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model)
5
Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikaan mereka, proses-prose yang mereka gunakan, dan hasil pemecahan masalah yang diperoleh

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 20.28   0 comments
Pembelajaran Dengan Inkuiri
Sabtu, 22 Juni 2013
Latar dan Pengertian
Pembelajaran dengan inkuiri menekankan pentingnya siswa mengembangkan keterampilan proses belajar secara ilmiah. Landasan pembelajaran ini adalah konstruktivisme, dimana siswa harus membangun sendiri sistem pengetahuannya melalui penyelidikan ilmiah dengan bimbingan dan difasilitasi oleh guru. Pembelajaran dengan inkuiri sesungguhnya membantu siswa menerapkan kerangka berpikir dan metode ilmiah dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian siswa dididik untuk menjadi produsen ilmu dan bukan sebagai konsumen ilmu. Sebagai aplikasi kerangka berpikir dan metode ilmiah, pembelajaran inkuiri memfasilitasi siswa untuk mengembangkan sistem pengetahuan mereka melalui penyelidikan ilmiah. Langkah-langkahnya siswa perlu dihadapkan pada masalah nyata yang bersifat akademis, siswa belajar mengembangkan kerangka berpikir dan hipotesis, siswa belajar mengembangkan berbagai alternatif metode berpikir dan atau metode kerja untuk mendukung kebenaran hipotesis yang diajukan, dan dengan dukungan data yang diperoleh, siswa kemudian membua kesimpulan hasil penyelidikan. Dengan demikian dapat didefinisikan bahwa pembelajaran dengan inkuiri adalah suatu strategi pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dan prosedur berpikir ilmiah melalui kegiatan penyelidikan atau penelitian ilmiah dan alamiah.
 Prisip Dan Karakteristiknya
Ada tiga prinsip mengapa pembelajaran denganinkuiri dikembangkan, Santyasa (2009) yaitu manusia mempunyai sifat ingin tahu yang alamiah, pengetahuan yangbermakna bersifat prosedural dan tentatif, dan manusia cenderung mengembangkan kemandirian. Implikasi dari ketiga prinsip ini adalah pertama, krena sifat ingin ahunya, manusia cenderung selalu bertanya atau selalu memiliki masalah dalam hidupnya. Pertanyaan dan masalah yang dihadapi oleh manusia inilah yang mengharuskannya melakukan eksplorasi atau penggalian informasi terhadap lingkungannya. Upaya inimengarahkan manusia untuk melakukan penyelidikan atau penelitian baik secara ilmiah ataupun alamiah. Karena itu manusia perlu mengembangkan prosedur berpikir dan bekerja secara ilmiah dan alamiah. Kedua, karena pengetahuan atau ilmu itubersifat proseduraldan tentatif, maka tidak ada satupun penjelasan dan pediksi keilmuan yang bisa diterima bersifat absolut. Penjelasan keilmuan itu haruslah terus dikembangkan dan disempurnakan. Maka manusia perlu terus melakukan eksplorasi dan kajian. Di sinilah manusia belajar melengkapi dan menyempurnakan sistem pengetahuannya yang bersifat alamiah dan ilmiah. Ketiga, karena manusia cenderung mengembangkan kemandirian, maka dalam usahanya melakukan penyelidikan ilmiah dan alamiah manusia juga megembangkan otonomi dan sikap ilmiah. Kerangka berpikir yang sangat ilmiah seperti inilah yang mendorong perlunya para siswa dibekali keterampilan kerja ilmiah dalam rangka membangun dan mengembangkan sistem pengetahuan mereka yang bersifat ilmiah dan alamiah.
Pembelajaran inkuiri dengan demikian meiliki beberapa karakteristik yang relevan dengan prosedur metode ilmiah, antara lain sebagai berikut. Pertama, pembelajaran inkuiri menghadapkan siswa pada masalah-masalahnyata yangbersifat akademis yang pengkajiannya akan memberikan manfaat pada penemuan baru ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermakna paling tidak bagi siswa. Penemuan baru di sini tidak harus benar-benar baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Penemuan baru ini bisa juga berarti bagi siswa itu sendiri. Kedua, pembelajaran inkuiri memfasilitasi siswa melakukan penyelidikan-penyelidikan baik secara aamiah maupun ilmiah. Penyelidikan di sini tidaklah semata-meta melakukan pnelitian lapangan, namun bisa juga melalui kajian pustaka, bisa juga melalui kerja eksperimen dilaboratorium, dan bisa juga melalui simulasi penelitian yang menjadikan sumber data (biasanyakajian ilmu sosial dan humaniora). Ketiga, pemberian inkuirimengembangkanketerampilan proses ilmiah pada siswa. Keempat, pembelajaran inkuiriadalah pembelajaran yang didukung secara utuh oleh kegiatan-kwegiatan belajar mandiri (self-directed learning), pembelajaran yang aktif dan partisipatif, serta pembelajaran secara kooperatif dan kolaboratif. Kelima, pembelajaran inkuiri juga mementingkan usaha refleksi pengalaman belajar dalam rangka membeimbing siswa menyempurnakan prosedur belajarnya, penyempurnaan strategi kognitifnya, dan menyempurnakan hasil-hasil belajarnya. Keenam, pembelajaran inkuiri memiliki standar hasil belajar yang tinggi, yaitu berupa kemampuan berpikir dasar, kritis, kreatif, kemampuan memecahkan masalah, menghasilkan produk—produk penelitian, tanggungjawab, dan sikap ilmiah, keterampilan-keterampilan proses kerja ilmiah, dan keterampilan sosial yang relevan. Prosedur Pembelajaran Sesuai dengan kerangka prosedur metode ilmiah strategi pembelajaran dengan inkuiri dikembangkan dan dilaksanakan dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
Sintaks/Langkah-langkah Utama Pembelajaran
Fase
Indikator
Aktivitas Siswa dan Guru
1
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, latar belakang, penting dan manfaat pelajaran, dan menyiapkan siswa untuk belajar
2
Situasi masalah
Siswa dihadapkan pada masalah-masalah nyata dalam kkehidupan yang bersifat akademis sesuai dengan tujuan pembelajaran
3
Eksplorasi
Siswa belajar secara mandiri mengidentifikasi dan meruskan masalah.Dalam fase ini siswa juga belajar mengidentifikasi apa yang telah mereka ketahui terkait dengan masalah, apa yang ditanyakan dalam masalah, dan menyiapkan faktor-faktor yang diperlukan untuk mendukung usaha pemecahan masalah
4
Elaborasi
Siswa belajar mengembangkan kerangka berpikir pemecahan masalah, mengembangkan hipotesis, mengidentifikasi variabel-variabel dan hubungannya, melakukan eksperimen dan penggalian data, menganalisis data, membuat simpulan/generalisasi, membuat laporan, dan presentasi hasil penelitian
5
Konfirmasi
Siswa dengan dibimbing guru melakukan refleksi pengalaman belajar untuk menyempurnakan strategi kognitif, prosedur belajar, dan memperbaiki standar hasil belajar
6
Penutup pembelajaran
Siswa dengan dibimbing guru menyimpulkan hasil belajar dan melakukan upaya tindak lanjut

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 17.49   0 comments
Pembelajaran Berorientasi Proyek
Selasa, 18 Juni 2013
Tujuan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan adaptasi lingkungan terutama lingkungan dunia kerja. Para siswa perlu disiapkan kecakapan hidupnya (life skills)untuk memasuki dunia kerjanyang profesional. di sekolah atau di kelas siswa dapat belajar memadukan kepentingan belajar yang bersifat akademis dengan tujuan membantu masyarakat lingkungannya menghasilkan produk hasil belajar yang dapat berguna bagi siswa dan masyarakat. Siswa dapat belajar memenuhi kebutuhan masyarakat dan kebutuhan dunia kerja dan industri agar terjadi relevansi antara kegiatana pembelajaran di kelas dengan perkembangan lingkungan masyarakat pada umumnya. Pembelajaran berorientasi proyek dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Pembelajaran berorientasi proyek adalah suatustrategi pembelajaran yang memberdayakan siswa secara akademis untuk menghasilkan produk belajar yang bersentuhan dengan kebuthan masyarakat dan kebutuhan dunia industri. Iniadalah dalam rangka membangun karakter siswa yang bertanggungjawab dan partisipatif terhadap kepentingan masyarakatnya. Pembelajaran berorientasi proyek bukanlah pembelajaran keterampilan fisik semata untuk membuat proyek. Pembelajaran ini tetap bersifat akademis, karena itu sebelum siswa menghasilkan suatu produk sebagai proyek, siswa perlu belajar memahami latar kebutuhan proyek tersebut, menghasilkan menganalisis permasalahannya, menyusun alternatif pemecahan masalahnya, menetapkan proyek yang diusulkan, belajar berkolaborasi menghasilkan produk, berkolaborasi menyusun dan melaksanakan rencana aksi, dan melakukan refleksi pengalaman belajar. Pembelajaran berorientasi proyek dapa dikenali dari proyek memiliki empat dimensi karakteristik, yaitu isi, kondisi, aktivitas, dan hasil.
No
Dimensi
Karakteristik
1
Isi
Memuat gagasan yang orisinil dan terintegrasi:
1. Masalah kompleks, nyata, bersifat akademis
2. Pebelajar menemukan hubungan antar gagasan yang diajukan
3. Pebelajar berhadapan dengan masalah yang ill-definet
4. Pertanyaan cenderung mempersoalkan masalah dunia nyata
2
Kondisi
Mengutamakan otonomi pebelajar:
1. Melakukan inkuiri dalam konteks masyarakat
2. Pebelajar mampu mengelola waktu secara efektif dan efisien
3. Belajar penuh dengan kontrol diri
4. Menyimulasikan kerja secara profesional
3
Aktivitas
Melakukan investigasi kelompok secara kolaboratif
1. Pebelajar berinvestasi selama periode tertentu
2. Pebelajar melakukan pemecahan masalah yang kompleks
3. Pebelajar memformulasikan hubungan antar gagasan orisinilnya untuk mengkonstruksi keterampilan baru
4. Pebelajar menggunakan teknologi autentik dalam memecahkan masalah
5. Pebelajar melakukan umpan balik mengenai gagasan mereka berdasarkan respon ahli atau dari hasil asesmen
4
Hasil
Memuat gagasan yang orisinil dan terintegrasi:
1. Pebelajar menunjukkan produk nyata berdasarkan hasil investigasi mereka; model prototipe, alat teknologi, rekomendasi kebijakan, prosedur kerja, dll
2. Pebelajar melakukan evaluasi diri
3. Pebelajar merespon terhadap segala implikasi dari kompetensi yang dimilikinya
4. Pebelajar mendemonstrasikan kompetensi personal (tanggungjawab dan manajemen pribadi), sosial (menghargai orang lain, bekerja sama, komunikasi sosial, presentasi dll), intelektual (pemahaman konsep), akademis (pemecahan masalah, inkuiri, regulasi belajar), dan vokasional (membuat produk, menyusun kebijakan publik, menyusun dan melaksanakan rencana aksi dll)
Pembelajaran berorientasi proyek dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran. Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, prosedur yang dikembangkan akan berbeda-beda sesuai pula dengan tingkat proyek yang dikerjakan. Namun demikian ada beberapa langkah kerja yang secara umum dapat digunakan bersama, yaitu sebagai berikut :
Sintaks/Langkah-langkah Utama Pembelajaran
Fase
Indikator
Aktivitas Siswa dan Guru
1
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkn siswa
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, latar belakang, penting dan manfaat pelajaran, dan menyiapkan siswa untuk belajar
2
Menetapkan tema proyek
Siswa dibimbing gurubersama-sama memilih dan menetapkan tema proyek sesuai dengan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. Beberapa kriteria penetapan proyek; (1) memuat gagasan umum dan orisinil, (2) menarik minat siswadan bermanfaat secara akademis, (3) relevan dengan tingkat perkembangan kemampuan siswa, (4) masalah spesifik dan operasional tetapi ill-defined, (5) memerlukan kajian lintas disiplin, (6) mencakup konsep yang luas secara akademis
3
Menetapkan konteks belajar
Siswa dibimbing guru memahami prinsip-prinsip dan karakteristik belajar yang akan dilakukan; (1) pertanyaan-pertanyaan proyek mempersoalkan masalah dunia nyata secara praktis, (2) menyiapkan otonomi pebelajar, (3) melakukan inkuiri dalam konteks masyarakat, (4) pebelajar harus mengelola waktu secara efektif dan efisien, (5) perlunya kontrol diri dalam proses belajar, (6) melakukan proses kerja secara profesional, (7) perlunya dukungan sarana belajar yag memadai dan partisipasi lingkungan masyarakat
4
Eksplorasi
Berkolaborasi mengidentifikasi dan merumuskan masalah/kebutuhan; (1) menggali informasi, (2) menganalisis kesenjangan kebutuhan, (3) mengnali luas ruang lingkup permasalahan, (4) membatasi permasalahan, (5) merumuskan masalah/kebutuhan
5
Elaborasi Tahap I
Berkolaborasi mengembangkan kerangka berpikir pemecahan masalah; (1) menggali dan menganalisisinformasi secara mendalam, (2) menyusun model kerangka berpikir, (3) menyusun alternatif pemecahan masalah/kebutuhan, (4) melakukan klarifikasi dan pertimbangan untuk menguji model teoritis
6
Elaborasi Tahap II
Berkolaborasi menyusun usulan proyek; (1) menggali dan menganalisis informasi, (2) menerjemahkan gagasan ke dalam bahasa proyek (menyususn rencana produk, rencana tindakan, rekomendasi kebijakan, (3) melakukan klaririfikasidan pertimbangan proyek untuk menguji gagasan praktis, (4) menetapkan usulan proyek
7
Elaborasi Tahap III
Berkolaborasi mempresentasikan rencana proyek, konfirmasi dan umpan balik untuk revisi, melaksanakan atau menjalankan proyek ( membuat produk dan pemanfaatnnya, melakukan tindakan, mengusulkan kebijakanpublik)
8
Konfirmasi
Siswa dengan dibimbing guru melakukan refleksi pengalaman belajar untuk melakukan evaluasi diri terhadap konteks belajar, prosedur belajar, strategi kognitif, dan standar hasil belajar
9
Penutup pembelajaran
Siswa dengan dibimbing guru menyimpulkan hasil belajar dan melakukan upaya tindak lanjut

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 21.58   0 comments
Pemanfaatan Multimedia Pembelajaran
Pembelajaran berorientasi PAKEM membutuhkan dukungan pengembannan dan penggunaan media pembelajaran. Hal ini disadari benar bahwa dalam pengembangan sistem pengetahuan di dalam diri manusia tidak bisa dipisahkan dari peranan indria (panca indria) manusia dalam menyerap masuknya informasi lingkungan ke dalam sistem dan struktur pengetahuan manusia di dalam pikiran. Penggunaan media pembelajaran, terutama pemanfaatan multimedia yanginteraktif, dapat membantu penggunaan seluruh indra manusia dalam proses belajar. Jika seluruh indra manusia ikurterlibat aktif dalam proses belajar maka diyakini akan memberikan hasil belajar yang lebih baik. Penggunaan media pembelajaran memberikan banyak manfaat kepada sisw. Siswa bisa belajar lebih kongkrit karena pengetahuan yang abstrak bisa dimodelkan melalui bantuan media. Media pembelajaran juga bisa membantu meningkatkan pemahaman belajar siswa karena informasi yang banyak dan abstrak bisa disusun lebih sistematis, sistemik, terstruktur, dan lebih bermakna melalui media. Penggunaan media juga bisa menghindarkan siswa dari miskonsepsi terhadap konsep-konsep yang abstrak dan kompleks. inikarena banyak objek dalam media pembelajaran, terutama multimedia, mampu memodelkan dan menjadi analogi bagi suatu pengetahuan yang abstrak dan kompleks. Sebagai contoh, suatu struktur kimia dalam air, misalnya dapat digambarkan ke dalam struktur simbolik tiga dimensi lewat media audio visual. Pemanfaatan media dalam pembelajaran juga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan belajar menjadi lebih menyenangkan. Penggunaan media yang bersifat interaktif, dapat membantu meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar dan siswa menjadi lebih senang belajar.
Penggunaan komputer sebagai alat dan media pembelajaran sudahlah sangat canggih. Komputer telah dikembangkan menjadi sarana multimedia melalui program software multimedia dari yang paling sederhana dengan dua dimensi hingga tiga dimensi bahkan lebih. Bahkan penggunaan media internet telah menjadi sumber media tanpa batas untuk dapat digunakan dalam pembelajaran. Tetapi tidak seluruh informasi di internet dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Informasi bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora banyak yang kurang baik digunakan sebagai media pembelajaran.Guru perlu membantu siswa melakukan kritik sumber informasi sebelum menggunakan informasi internet sebagai sumber dan media pembelajaran. Kritik tersebut bisa dilakukan dengan menanyakan siapa pemilik sumber informasi tersebut, apakah cukup kredibel atau menyembunyikan pemiliknya, bagaimana penggunaan bahasa visual dan verbalnya, apakah mendukung tujuan-tujuan pembelajaran, bagaimana perspektif atau sudut pandang informasinya, pandangan seperti apa yang ingin ditonjolkan, apa muatan idiologi dan nilai-nilainya, apakah informasinya aktual atau sudah ketinggalan informasi, apakah kebenaran informasinya dapat diverifikasi dengan sumber-sumber yang lain dan sebaginya. Penggunaan software program-program multimedia dan berbagai situs internet sebagai sumber dan media pembelajaran perlu mempertimbangkan bebarapa hal dalam pembelajaran, antara lain tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, perbedaan sifat antar software dan situs, tingkat kompetensi yang ingin dicapai, prosedur penggunaan software, dan tingkat keterlibatan siswa yang ingin diciptakan dalam pembelajaran. Guru bisa mengembangkan sendiri multimedia pembelajaran yang akan digunakan di kelas berbasis penggunaan TIK sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang ingin dicapai serta karakteristik subjek didik. Yang paling sederhana adalah menggunakan software program presentasi seperti microsoft powerpoint, microsoft exel. Guru juga bisa menggunakan situs-situs internet sebagai sumber dan media pembelajaran. Untuk lebih interaktif guru dapat mengembangkan program movie maker, program flash dan sebagainya.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 21.05   0 comments
Assesmen Pembelajaran Autentik
Senin, 17 Juni 2013
Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian berbasis kelas (PBK) merupakan salah satu pilar yang sangat penting dalam kurikulum berbasis kompetensi yang tidak bisa dipisahkan dari kurikulum dan pembelajaran berbasis kompetensi itu sendiri. Kepentingan ini tidak saja berguna untukmengetahui produk belajar siswa yang diorientasikan oleh kurikulum dan pembelajaran itu sendiri, tetapi pada gilirannya PBK itu sendiri akan turut menentukan kemana proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah itu akan dibawa. Karena itulah guru harus haruslahmemiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai baik secara konseptual maupun dalam aspek teknikalitas penerapannya. Sesuai yang dimaksudkan dalam KBK, PBK adalah suatu strategi penilaian yang menjadi bagian terpadu dalam program pembelajaran karena memiliki alignment yang kuat dengan tujuan, proses, dan strategi/metode pembelajaran. Keterpaduan ini yang menyebabkan PBK menghasilkan keluaran berupa informasi untuk guru sebagai bahan untuk menentukan langkah selanjutnya dalam mengelola pembelajaran di kelas secara efektif dan dokumentasi yang berkelanjutan tentang perkembangan kemampuan siswa relatif terhadap standar yang ditetapkan.
Sesuai dengan karakteistik PBK yang dikemukakan di atas, maka pelaksanaan PBK harus merujuk pada prinsip-prinsip berikut:
  1. Valid, dalam arti berorientasi pada indikator-indikator kompetensi yang dikembangkan dan dapat mengukur aspek-aspek yang ingin diukur, 
  2. Berkesinambungan, dalam arti terencana, bertahap, dan teus menerus, sehingga menjadi bagian dari kehidupan kelas yang berlangsung dan menampilkan gambaran tentang perkembangan belajar siswa (berbasis kelas), 
  3. Menyeluruh (komprehensif), yang mencakup semua dimensi kompetensi yang dikembangkan baik pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, komitmen, konfidensi, dan keterampilan secara utuh dan tepadu, 
  4. Menggunakan multi-prosedur/teknik dan multi-instrumen, dalam arti tidak hanya menggunakan testing (objektif tes)melainkan memanfaatkan seluruh prosedur dan alat asesmen alternatif, seperti penilaian unjuk kerja, projek, observasi, interview, inventori nilai, skala sikap, tugas-tugas, jurnal, sosiometri, self-assessment, dan portofolio siswa, 
  5. Bermakna, dalam arti informasi yang menghasilkannya berguna bagi guru dan murid sebagai umpan balik untuk melakukan penilaian diri dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar secara berkelanjutan, 
  6. Mendidik, dalam arti proses penilaian lebih membawa pencerahan dari pada hukuman atau memberi cap, sehingga penilaian berkontribusi positif terhadap peningkatan motivasi, minat, dan kinerja belajar siswa. 
Perubahan Praktik Penilaian Berdasarkan PBK
Berdasarkan karakteristik PBK seperti di atas, maka praktik penilaian belajar dan pembelajaran haruslah mengalami pergeseran-pergeseran dari praktik penilaian sebelumnya, antara lain sebagai berikut:
  1. Dari penilaian kemampuan kognisi tingkat rendah (C1 – C3) ke penilaian kemampuan yang bermakna bagi siswa. 
  2. Dari penilaian apa yang diketahui siswa ke penilaian apa yang dimengerti dan dapat diaplikasikan secara kritis dan kreatif. 
  3. Dari penilaian serpihan-serpihan fakta dan konsep-konsep yang tidak berkaitan ke penilaian secara komprehensif struktur pengetahuan yang dimiliki siswa. 
  4. Dari penilaian pada akhir periode pembelajaran ke penilaian yang terpadu pada setiap langkah pembelajaran secara berkesinambungan. 
  5. Dari penilaian berbasis testing ke penilaian berbasis multi strategi/teknik dan multi instrumen.
Pergeseran pandangan tentang praktik penilaian seperti di atas tentu membutuhkan pengembangan kompetensi guru yang relevan dengan tuntutan-tuntutan di atas. Karena itu sekurang-kurangnya diperlukan kemamapuan dan keterampilan guru yang memadai untuk membentuk kompetensi guru dalam melaksanakan praktik penilaian berbasis kelas.
Kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan/dimiliki para guru dalam praktik penilaian tersebut sekurang-kurangnya adalah sebagai berikut:
  1. Terampil dalam mengembangkan dan menggunakan multi-prosedur, multi-strategi/teknik, dan multi-instrumen penilaian untuk menilai kemajuan proses dan hasil belajar siswa sesuai dengan standar kompetensi, indikator-indikator keberhasilan, strategi pembelajaran, dan kebutuhan siswa, 
  2. Terampil dalam mengolah informasi hasil penilaian dan menafsirkan serta menggunakannya untuk merancang peningkatan proses pembelajaran, lingkungan belajar di kelas, atau proses penilaian itu sendiri, 
  3. Terampil dalam mengkomunikasikan hasil penilaian kepada siswa dan orang tua siswa tentang keberhasilan dan kelemahan belajar siswa untuk mendorong terjadinya peningkatan kinerja belajar siswa secara berkelanjutan. 
Pemahaman tentang Kapabilitas Belajar Siswa 
Agar guru memiliki kompetensi yang pertama di atas, seorang guru haruslah memahami apa saja yang menjadi kapailitas atau kompetensii siswa yang perlu dikembangkan dalam proses belajar dan bagaimana hubungan antar kapabilitas itu dalam perkembangannya dalam proses belajar. Pemahaman ini sangat penting, karena guru-guru selama ini terkesan hanya memahami makna kapabiltas belajar siswa dari dimensi kognisi saja, dan itupun pada tataran atau level tertentu saja, khususnya dalam hal ini level C1 sampai C3 saja menurut deskripsi taxonomi Bloom. Padahal sesungguhnya, kapabilitas belajar itu sungguh banyak dimensi dan ragamnya, tergantung dari sudut pandang mana kapabilitas itu dikaji. Menurut para ahli filsafat pengetahuan, psikologi pendidikan, serta pakar pengembangan dan pengukuran instrumen penilaian pendidikan,kemampuan pikiran manusia sungguh sangat kompleks. Menjadi tanggungjawab guru pulalah sesungguhnya, berdasarkan konsep pendidikan berbasis life skill dan kurikulum berbasis kompetensi, untuk mampu mengeksplorasi kapabilitas belajar siswa tersebut.
Karena itu, ada berbagai teori yang perlu digunakan para guru untuk mengembangkan kompetensi belajar siswa disamping model taxonomi Bloom yang sudah dikenal guru, yang sesungguhnya penggunaannya sangat terbatas. Gagne misalnya, menjelaskan bahwa dalam program pendidikan, kapabilitas belajar yang perlu dikembangkan meliputi kemampuan informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, da keterampilan motorik. Kemampuan informasi verbal berkaitan denga kemampuan menyatakan kembali apa yang telah dipelajari. Keterampilan intelektual berkaitan dengan kemampuan mentransformasi informasi ke berbagai sistem simbolik. Beda antara informasi verbal dengan intelektual adalah beda mengetahui bahwa dan mengetahui bagaiman dengan mengetahui mengapa dan untuk apa. Kemampuan ini dimulai dari kemampuan melakukan analisis, sintesis, hingga pemikiran yang kritis dan kreatif ,dan evaluatif.
Kemampuan strategi kognitif, selanjutnya adalah kemampuan untuk mengelola pikiran itu sendiri, seperti bagaimana siswa semestinya memperhatikan stimulus, membentuk skema penyusunan sandi informasi, mengatur besaran informasi yang harus disimpan dan disusun dalam struktur kognisi, serta mencari dan menemukan kembali hal-hal yang disimpan dan dalam mengorganisir respon-respon belajar. Dengan kata lain, kemampuan ini adalah kemapuan berpikir reflektif atau semacam kemampuan meta kognisi (belajar bagaimana belajar).
Sementara itu sikap dimaksudkan adalah kapabilitas yang mempengaruhi pilihan tentang tindakan mana yang akan diambil dengan menentukan adanya kemungkinan suatu kelas tindakan tertentu yang akan dilakukan. Akhirnya, keterampilan gerak motorik adalah kapabilitas yang mendasari pelaksanaan perbuatan jasmaniah secara mulus. Ciri utama kapabilitas ini adalah ketepatan, pengaturan waktu, dan kemulusan gerak fisik.
Dalam pembelajaran, semua kapabilitas di atas perlu dikembangkan dalam proses belajar siswa, walau mungkin keterampilan gerak motorik tidak menjadi dominan (kecuali untuk mata pelajaran penjaskes, seni keterampilan), tetapi tidak dapat diabaikan sama sekali. Misalnya, jika kita ingin mengajrkan kepada siswa keterampilan berkomunikasi oral secara efektif, kita perlumembelajarkan siswa bagaimana mengatur intonasi, kecepatan, dan kejelasan suara. Begitu pula jika kita ingin mengajarkan siswa mendemonstrasikan atau menstimulasikan tindakan tertentu. Begitu juga, strategi kognitif perlu sangat dikembangkan dalam pendidikan melalui keterampilan proses dalam belajar.
Dengan kurikulum berorientasi life skill, sesungguhnya teori life skill itu sendiri dapat dijadikan dasar pengembangan kapabilitas belajar siswa. Di sini komponen kecakapan dalam life skill itu perlu diwujudkan dalam penilaian proses dan hasil belajar siswa. Komponen-komponen kecakapan personal dapat dijadikan dasar penilaian aspek afeksi siswa. Kecakapan intelektual dan akademis dikembangkan menjadi dasar penilaian apek kognisi siswa. Kecakapan sosial dan vokasional dapat dijadikan dasar penilaian aspek keterampilan.
Pada aspek kecakapan personal, sebagai penilaian aspek afeksi dapat dinilai kemampuan-kemampuan rasa percaya diri dan penghargaam diri (self-concept and seff-esteem), sikap belajar, orientasi nilai, komitmen, kejujuran , motivasi, minat belajar, kepribadian, tingkat keimanan, dan ketakwaan, kedisiplinan, pengendalian diri, pengontrolan emosi, sikap sosial, dan sebagainya. Seluruh konsep-konsep ini perlu didefinisikan secara operasional untuk pengembangan indikator-indikator pencapaian hasil belajarnya.
Pada aspek kecakapan intelektual dan akademis, sebagai penilaian aspek kognisi, dapat dinilai kemampuan-kemampuan seperti pemahaman dan aplikasi konsep, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan membuat keputusan nilai atau kemampuan penalaran moral, kemampuan berpikir deduksi dan induksi, dan kemampuan berpikir metode ilmiah.
Pada aspek kecakapan sosial, sebagai penilaian aspek keterampilan sosial siswa, dapat dinilai kemampuan-kemampuan seperti keterampilan memecahkan masalah secara kolaboratif/kooperatif, kemampuan melakukan sharing gagasan, kemampuan mengalokasikan/mendistribusikan tugas kelompok, kemampuan melakukan sharing tanggungjawab kepemimpinan, kemampuan melakukan negosiasi, kemampuan memecahkan konflik bersama kelompok, kemampuan berkomunikasi sosial dengan sumber-sumber informasi soaial, dan sejenisnya.
Akhirnya, pada aspek kecakapan vokasional, sebagai aspek penilaian keterampilan kerja sosial dapat dinilai kemampuan-kemampuan melakukan presentasi dengan komunikasi efektif, kemampuan melakukan penelitian sosial secara ilmiah, keterampilan dalam membuat kebijakan publik, dan keterampilan kerja sosial pada bidang-bidang tertentu (memberikan ceramah, kerja sebagai relawan atau pengabdian pada masyarakat da sebagainya).
Akhirnya, teori tentang empat pilar pendidikan yang memandang belajar sebagi proses how to know, how to do, how to be, dan how to live together juga dapatdijadikan dasar dalam pengembangan kapabilitas belajar siswa. Dengan belajar sebagai konsep how to know, kita dapat melakukan penilaian pada aspek-aspek kognisi siswa baik yang bersifat kemampuan informasi verbal, keterampilan intelektual, maupun pengembangan strategi kognitif, begitu pula baik ditinjau dari pengembangankemampuan berpikir rasional maupun kemampuan berpikir akademisnya.
Dengan belajar sebagai konsep how to do, kita dapat melakukan penilaian pada aspek keterampilannya, baik pada segi keterampilam kerja ilmiah (mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, membuat kesimpulan, dan mengajukan rekomendasi tindakan) maupun keterampilan kerja sosialnya seperti keterampilan komunikasi efektif, keterampilan melakukan negosiasi, memecahkan konflik bersama dan lain-lain.
Dengan belajar sebagai konsep how to be, kita dapat melakukan penilaian pada aspek-aspek afeksi siswa, seperti rasa percaya diri dan penghargaan diri (self-concept and self esteem), sikap belajar, orientasi nilai, komitmen, kejujuran, motivasi, minat belajar, kepribadian, tingkat keimanan dan ketaqwaan, kedisiplinan, pengendalian diri, pengontrolan emosi, sikap sosial, dan sebaginya.
Akhirnya, dengan belajar sebagai konsep how to live together, kita dapat mengembangkan penilaian kapabilitas keterampilan sosial siswa seperti yang telah digambarkan di atas.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 21.04   0 comments
Kemampuan Merancang dan Melaksanakan Penilaian
Rabu, 12 Juni 2013
Kemampuan Merancang dan Melaksanakan Penilaian dengan Prinsip Multi-prosedur, Multi-strategi/teknik, dan Multi-instrumen Kemampuan dan keterempilan guru dalam merancang dan melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa dengan prinsip multi-prosedur hingga multi-instrumen sangat ditentukan seberapa banyak dan seberapa baik guru mengenali berbagai prosedur, strategi, teknik dan alat penilaian proses dan hasil belajar siswa. Sebagaimana diketahui oleh para pakar, pengukuran dan penilaian proses dan hasil belajar siswa, proses penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa tidaklah ditentukan semata-mata oleh penggunaan prosedur paper and pencil test saja. Di Dunia pendidikan dikenal berbagai penggunaan prosedur penilaian seperti penilaian unjukkerja, penilaian proyek, penilaian berdasarkan jurnal, prosedur penilaian diri (self assessment), penilaian portofolio, prosedur penilaian proses, wawancara klinis, penilaian dengan prosedur sosiometri, dan prosedur penilaian kepribadian dengan tes projekti. Berbagai prosedur penilaian ini tentu memerlukan tekni-teknik dan instrumen-instrumen penilaian tertentu yang relevan. Hubungan antara prosedur, teknik, dan alat penilaian yang digunakan dapat digambarkan secara kasar dengan pedoman tabel berikut.
NO
PROSEDUR PENILAIAN
TEKNIK PENILAIAN
INSTRUMEN
1
Paper and pencil test
Pemberian tes objektif dan tes esai, tes skala sikap, inventori nilai, rating scale, tes penalaran moral, dan sejenisnya
Tes objektif dan esai, skala sikap, rating scale, daftar cocok, kuesioner, inventori nilai, tes penalaran moral, dsb
2
Penilaian unjuk kerja
Tes melalui pengamatan
Lembar observasi dan pencatatan peristiwa
3
Penilaian proyek
Melakukan pengamatan, wawancara klinis, pencatatan dokumen, penilaian diri, pengembangan jurnal
Lembar observasi, pedoman wawancara klinis, pedoman pencatatan dokumen, format self-assessment, dan pedoman pencatatan jurnal
4
Penilaian berdasarkan jurnal
Pengembangan jurnal kegiatan
Pedoman pencatatan jurnal
5
Prosedur penilaian diri
Melakukan penilaian diri
Format self-assessment, dan laporan penilaian diri
6
Penilaian berbasis portofolio
Pengembangan proses belajar dan penilaian berbasis portofolio
Dokumen portofolio
7
Prosedur penilaian proses belajar
Melakukan pengamatan
Pedoman pengamatan
8
Prosedur penilaian wawancara klinis
Melakukan wawancara klinis
Pedoman wawancara klinis
9
Penilaian jarak sosial
Penilaian dengan sosiometri dan pemberian jarak sosial
Sosiogram dan kuesioner skala jarak sosial
10
Prosedur penilaian kepribadian
Pemberian tes kepribadian, pemberian tes projektif
Berbagai format tes kepribadian, tes objektif
Untuk dapat mengembangkan berbagai prosedur, teknik, dan alat penilaian seperti pada tabel di atas, disamping mampu membuat perencanaan PBK (penilaian berbasis kelas), seorang guru perlumemiliki kemampuan dan keteraampilan mengembangkan prosedur kerja dalam pengembangan aspek-aspek tersebut.
Kunci pokok dalam langkah-langkah kerja pengembangan prosedur, teknik, dan alat penilaian di atas adalah 1) menetapkan jenis kapabilitas belajar, 2) memberi nama variabel atas kapabilitas tersebut, 3) membuat definisi operasional variabel yang akan diukur, 4) menetapkan aspek-aspek substansi dan indikator-indikator hingga diskriptor dari kompetensi yang akan diukur, 5) menyususn kisi-kisi alat penilaian, 6) mengembangkan item-item penilaian dalam instrumen yangrelevam, 7) melakukan seleksi dan revisi, 8) melakukan judgement ahli, 9) melakukan revisi, 10) melakukan uji coba skala terbatas, 11) menganalisis hasil uji coba untuk mengetahui tingkat validitas dan realibilitas hasil pengukuran, 12) melakukan pengukuran dan penilaian, 13) menganalisis dan menginterpretasi hasil pengukuran, 14) membuat keputusan nilai, dan 15) melaporkan hasil penilaian. Beberapa metode penilaian autentik. Dewasa ini telah dikembangkan beberapa penilaian yang bersifat autentik yang sering juga disebut metode penilaian nontes. Beberapa jenis metode penilaian tersebut, antara lain adalah sebagai berikut;
  1. Penilaian Unjuk Kerja 
  2. Penilaian Produk 
  3. Penilaian Proyek 
  4. Penilaian Portofolio 
  5. Penilaian Sikap

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 14.11   0 comments
Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian unjuk kerja, sesuai dengan namanya, merupakan cara penilaian yang dilakukan dengan mengamati dan menilai aktifitas peserta didik yangmelakukan atau menunjukkan kinerja tertentu. Karena itu, objekpenilaian ini adalah tercapainya kompetensi belajar peserta didik yang mampu menunjukkan “unjuk kerja” (performance) tertentu yang dapat diamati, specifik, dan terukur. Unjuk kerja yang dapat diamati antara lain adalah bermain peran, melakukan presentasi, memainkan alat musik, membawakan puisi, menggunakan peralatan laoratorium, menunjukkan kemampuan senam lantai, menari dan sebagainya. Penilaian unjuk kerja tidak dilakukan dengan tes tertulis atau wawancara, melainkan dengan mengamati perilaku secara langsung yang mempresentasikan unjuk kerja tersebut. Ada beberapa teknik penilaian yang dapat dikembangkan dan digunakan antara lain dengan daftar cek dan skala rentang. Beda keduanya, daftar cek merupakan penilaian berskala dikotomik (ada/tidak ada, ya/tidak), sedangkan skala rentang merupakan penilaian berskala ordinal, Berikut adalah contoh keduanya.
Format Penilaian Kemampuan Presentasi
Nama Siswa :
Kelas :
No
Indikator Penilaian
Ada Unjuk Kerja
Ya
Tidak
1
Percaya diri
2
Lugas dan jelas
3
Menguasai materi
4
Menggunakan intonasi bicara
5
Menggunakan selingan untuk menarik
6
Menggunakan multimedia
7
Ketepatan waktu
8
Komunikatif
Skor yang dicapai
Skor maksimum
8
Nilai
Format Penilaian Kemampuan Unjuk Kerja Debat Pro/Kontra
Nama Siswa :
Kelas :
No
Indikator Penilaian
Rentang Skala Nilai
1
2
3
4
1
Penguasaan materi debat
2
Lugas dan jelas
3
Penggunaan ilustrasi selingan
4
Komunikatif
5
Intonasi bicara
6
Kekompakan anggota
7
Sopan santun berdebat
8
Ketepatan waktu
Skor yang dicapai
Skor maksimum
32
Nilai
Keterangan:
1. sangat buruk; 2. buruk; 3. cukup; 4. baik

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 11.14   0 comments
Penilaian Produk
Selasa, 11 Juni 2013
Penilaian produk adalah cara penilaian yang dilakukan dengan mengamati dan menilai keterampilan- keterampilan peserta didikdalam menghasilkan sebuah produk dan kualitas dari produk tersebut. Objek penilaian produk, karena itu, tidak saja kualitas produk yang dihasilkan oleh peserta didik, tetapi juga pada kualitas keterampilan- keterampilan siswa dalam menyiapkan dan proses membuat produk tersebut. Penilaian produk umumnya dilakukan terhadap pencapaian kompetensi belajar siswa dalam menghasilkan produk-produk belajar yang berkualitas, seperti membuat kumpulan puisi, membuat naskah drama, membuat artikel ilmiah untuk media massa, membuat karya tulis ilmiah, membuat produk karya seni, menyusun dokumen kebijakan publik dan sebagainya. Karena penilaianproduktidak bersifat tunggal pada objek produk saja, melainkan juga pada proses penyiapan dan prosespembuatan produknya, maka penilaian produk juga bersifat holistik dan analitik. Penilaian produk yang bersifat holistik cenderungmenggunakan satu format penilaian untuk semua aspek penilaian produk. Sedangkan penilaian analitik dapat menggunakan beberapa format penilaian sesuai dengan jumlah aspek penilaian produk. Penilaian pada aspek persiapan, antara lain mencakup kemampuan merencanakan, menggali informasi, mengembangkan gagasan, dan mendesain produk. Penilaian pada aspek proses pembuatan produk, mencakup kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik serta kualitas prosedur membuat produk. Penilaian pada aspek kualitas produk mencakup kebenaran, keaslian, manfaat, kerapian/keindahan, dan sebagainya. Seperti juga pada penilaian unjuk kerja, penilaian produk juga berbasis pada pengamatan terhadap kualitas keterampilan dalam menghasilkan produk dan pengamatan terhadap kualitas produk.
Format Penilaian Produk (Holistik)
Nama Siswa :
Kelas :
No
Indikator Penilaian
Skala Rentang
1
2
3
4
1
Keaslian ide
2
Pengetahuan yang mendukung
3
Alat dan bahan yang digunakan
4
Cara pembuatan
5
Penampilan produk
6
Manfaat produk
Skor yang dicapai
Skor maksimum
24
Nilai
......
Format Penilaian Produk Artikel untuk Media Massa (analitik)
Nama Siswa :
Kelas :
No
Aspek
Indikator Penilaian
Skala Rentang
1
2
3
4
1
Persiapan
1. Memilih dan mengkritisi sumber
2. Pengumpulan data informasi
3. Desain awal artikel
2
Pembuatan artikel
1. Mengembangkan kerangka berpikir
2. Pengembangan gagasan pokok
3. Memilih materi penjelas
3
Kualitas produk
1. Kebenaran informasi
2. Kelugasan dan kejelasan
3. Bahasa komunikatif
4. Relevansi dengan sasaran pembaca
5. Relevansi pilihan topik
Jumlah Skor
Skor yang dicapai
Skor maksimum
44
Nilai
......

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 20.53   0 comments
Penilaian Proyek
Penilaian proyek adalah cara penilaian yang dilakukan dengan melakukan pengamatan dan penilaian terhadap tugas-tugas proyek tertentu yang dikerjakan siswa pada periode waktu tertentu. Seperti penilaian produk, penilaian proyek juga tidak hanya berfokus pada hasil akhir proyek dalam bentuk produk akhir tertentu, melainkam juga berfokus pada seluruh proses penyelesaian proyek dari aspek persiapan proyek, pengerjaan proyek, hingga hasil proyek berupa laporan proyek. Penilaian proyek umumnya dilakukan dalam pelaksanaan pembelajaran berorientasi proyek.
Dalam pembelajaran berorientasi proyek beberapa kompetensi yang umumnya dicapai dalam pembelajaran antara lain, tingkat pemahaman siswa dalam bidang tertentu yang terkait, dan kemampuan siswa mempresentasikan subjek penelitian tertentu yang relevan. Sebagai contoh proyek, misalnya penelitian sederhana tentang pencemaran air di lingkungan rumah tangga, mengkaji maraknya kenakalan remaja dalam kasus konsumsi miras, mengusulkan proyek pementasan drama anak-anak dalam rangka membangun semangat nasionalisme, mengkai tentang peran Koperasi dalam memajukan perekonomian masyarakat desa, dan sebagainya.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan penilaian proyek, antara lain sebagai berikut ;
  1. Kemampuan perencanaan proyek yaitu kemampuan menyusun desain yang dapat diketahui dari proposal proyek yang diajukan, 
  2. Kemampuan pengelolaan proyek yang meliputi kemampuan melaksanakan eksperimen, menyiapkan sumber dan bahan, mengumpulkan data dan informasi, melaksanakan tindakan tertentu yang diperlukan, menganalisis data dan informasi, menyusun laporan, mengelola waktu serta sumber-sumber daya yang lain, 
  3. Relevansi antara proyek dengan mata pelajaran dan kompetensi-kompetensi yang hendak dikembangkan, antara lain mencakup pemahaman konsep, penalaran nilai-nilai dan sikap, pengembangan komitmen, dan keterampilan-keterampilan yang relevan, 
  4. Keaslian proyek yang dikerjakan oleh siswa sendiri dengan dukungan bimbingan dari guru, 
  5. Manfaat proyek bagi siswa, bagi sekolah, bagi masyarakat lingkungan siswa, bagi pembelajaran, dan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 
Penilaian proyek, seperti juga penilaian produk dan kinerja,dilakukan dengan mengamati dan menilai kinerja dan karya proyek siswa (biasanya berkelompok) menggunakan format penilaian dengan daftar cek dan skala rentang.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 12.54   0 comments
Penilaian Portofolio
Senin, 10 Juni 2013
Penilaian portofolio adalah cara penilaian terhadap keberhasilan siswa dalam proses belajar yang dilakukan secara berkelanjutan berfokus pada kumpulan atau dokumentasi karya-karya terbaik siswa yang menunjukkan perkembangan kemajuan belajar siswa dalam periode waktu tertentu. Kumpulan karya-karya terbaik siswa dalam kemajuan belajarnya dapat berupa artikel atau esai tertentu, laporan kajian ilmiah, puisi, hasil karya kelompok, laporan tugas PR, piagam penghargaan yang diperoleh, phooto-photo kegiatan studi lapangan, hasil tes, naskah drama, naskah untuk majalah dinding, dsb. yang terkait dengan pencapaian kompetensi- kompetensi pembelajaran untuk mata pelajaran tertentu pada periode waktu tertentu. Penilaian portifolio ini disamping dapat dilakukan oleh guru, dapat pula dilakukan oleh siswa siswa sendiri dengan prinsip penilaian diri (self-assessment) secara berkelanjutan. Fungsi penilaian diri ini adalah untuk menilai kemajuan belajar siswa itu sendiri, sehingga diharapkan dapatmembantu siswa mengenali diri terutama mengenali kelebihan dan kekurangan atau kelemahan-kelemahan dirinya yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi belajarnya secara berkelanjutan.
Agak berbeda dengan penilaianlainnya, penilaian portofolio ini merupakan proses penilaian yang kompleks dan berkelanjutan serta dapat melibatkan siswa dalam proses menilai kemajuan belajarnya sendiri. Sehubungan dengan itu, ada beberapa langkah dan pertimbangan yang perlu dilakukan untuk dapat melakukan peilaian portofolio dengan baik, antar lain sebagai berikut ;
  1. Jelaskan kepada peserta didik tentang pentingnya menyusun portofolio hasil belajar, baik untuk kepentingaan guru melakukan penilaian kekmajuan hasil belajar siswa maupun untuk kepentingan siswa sendiri mengetaahui perkembangan proses dan hasil belajarnya. Dengan portofolio itu siswa akan mengetahui perkembangan tingkat pemahamannya, nilai-nilai dan sikapnya, komitmen-komitmennya, dan ketrampilan-keterampilan akademis dan sosialnya. 
  2. Tetapkan bersama siswa sampel-sampel yang representatif menunjukkan hasil karya terbaik belajar siswa untuk didokumentasikan dalam dokumen portofolio. Isi dokumen portofolio itu bisa sama, dan bisa juga berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya tergantung pada kemajuan belajar siswa masing-masing.Kumpulkan dan simpanlah setiap karya-karya siswa dalam satu map atau folder dan diberi identitas. Setiap map atau folder sebaiknya jugadipilah-pilah jenis karya yang akan didokumentasikan dan diberi tanda pemisah. 
  3. Berilah tanggal pembuatan karya yang didokumentasikan untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dari waktu ke waktu. 
  4. Tetapkanlah bersama siswa kriteria penilaian setiap sampel karya siswa yang didokumentasikan beserta pembobotannya. Diskusikanlah dengan siswa bagaiman setiap karya siswa yang didokumentasikan tersebutharus dinilai oleh guru dan siswa. Kriteria dan pembobotan penilaian setiap karya siswa haruslahditetapkan terlebih dahulu sebelum karya siswa itu dibuat dan didokumentasikan. Untuk ini guru perlu menyiapkan rubrik penilaian setiap jenis karya siswa untuk didiskusikan dengan siswa. Rubrik penilaian adalah suatu pedoman penilaian yang mengandung seperangkat indikator penilaian, pembobotan penilaian, skala penilaian yang digunakan, serta kriteria atau pertimbangan yang digunakan untuk menggunakan skala penilaian tersebut.
  5. Guru dapatmeminta siswa menilai karyanya sendiri secara berkesinambungan. Disini berlaku prinsip penilaian diri (self-assessment). Dalam penilaian diri ini siswa dapat menilai kelebihan dan kekurangan karya-karyanya serta upaya yang dilakukan untuk menyempurnakannya. Tentunya siswa perlu dibimbing untuk menemukan rujukan dalam menilai kelebihan dan kelemahan karya-karyanya. Penilaian diri ini penting untuk membantu siswa membuat kemajuan-kemajuan hasil belajar. 


  6. Setiap kali guru menilai karya siswa yang didokumntasikan, jika menemukan nilai siswa yang kurang memuaskan, maka perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaikinya dalam kurun waktu tertentu. 
  7. Setelah guru dan siswa menyepakati hasil penilaiannya dan para siswa sudah merasa puas terhadap hasil penilaian oleh guru, maka barulah guru dapat merekapitulasi hasil penilaian portofolio siswa tersebut.

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 20.42   0 comments
Penilaian Sikap
Penilaian sikap adalah penilaian yang diberikan guru terhadap sikap siswa tentang objek sikap tertentu. Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak atau merespon dengan cara tertentu terhadap objek sikap tertentu. Kecenderungan bertindak ini dipengaruhi oleh faktor-faktor kognisi, afeksi, dan konasi dari sikap seseorang. Faktor kognisi sikap adalah pandangan atau persepsi, keyakinan atau kepercayaan, dan nilai-nilai tertentu seseorang terhadap objek sikap tertentu. Contohnya, jika seorang siswa yakin bahwa merokok dapat merusak kesehatan maka ia cenderung akan menolak untuk merokok. Faktor afeksi sikap adalah faktor perasaan dan emosi seseorang terhadap objek sikap tertentu. Perasaan ini bisa senan, suka tidak suka, cinta benci, berani takut, dan sebagainya. Jika seorang siswa tidak suka melihat orang merokok, maka ia punya kecenderungan untuk tidak merokok. Akhirnya, faktor konasi sikap adalah berupa kehendak atau niat untuk bertindak seseorang terhadap objek sikap tertentu. Ketika seorang siswa berkehendak menabung, maka ia dapat dikatakan mempunyai sikap yang positif terhadap perilaku menabung. Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang positif antar faktor kognisi, afeksi, dan konasi sikap dengan perilaku seseorang. Dengan demikian perilaku seseorang tersebutdapat dikatakan menunjukkan sikap-sikapnya terhadap objek sikap atau tindakan tertentu. Maka untuk menilai sikap seorang siswa terhadap objek belajar tertentu, seorang guru dapat melakukannya dengan mengamati perilaku murid terhadap objek tertentu, mewawancarai siswa untuk mengetahui pandangan subjektifnya terhadap objek tertentu, atau dengan memberikan kuesioner skala sikap yang dapat dinilai oleh siswa itu sendiri. Perlu disadari bahwa menilai sikap siswa sebagai sebuah kompetensi hasil belajar pada mata pelajaran tertentu tidaklah dapat dilakukan hanya dengan menilai sikap siswa pada umumnya, seperti sikap bersih, disiplin, jujur, hormat kepada guru, toleran kepada sesama siswa dan sejenisnya. Objek sikap siswa yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian sikap siswa terhadap kompetensi yang dikembangkan dalam pembelajaran, sikap siswa terhadap isi materi pelajaran, sikap siswa terhadap muatan nilai-nilai yang terkandung dalam matei dan kompetensi hasil belajar, sikap siswa terhadap berbagai macam keterampilan yang dikembangkan dalam pembelajaran, dan sikap siswa terhadap guru mata pelajaran.
Karena itu, agar penilaian sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran mata pelajaran tertentu dapat dilakukan denggan baik, maka perlu dipertimbangkan dan dilakukan langkah-langkah kerja sebagai berikut.
a. Tentukan objek sikap yang akan mendapat penilaian dari guru sesuai dengan tujuan-tujuan pembelajaran. Sebagai contoh, guru PKn mungkin perlu menilai perkembangan sikap nasionalisme siswa, sikap religius siswa, sikap demokratis siswa, sikap siswa terhadap penegakan hukum di Indonesia dan sebagainya.
b. Berikan definisi operasional terhadap variabel sikap dan objek sikap. Sebagi contoh, sikap siswa adalah kecenderungan perilaku siswa yang diindikasikan oleh persetujuan dan penolakannya terhadap objek tertentu. Nasionalisme adalah suatu pandangan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara lebih tinggi dari kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.
c. Kembangkan kisi-kisi penilaian sikap.
d. Menetapkan teknik penilaian dan pengembangan instrumen penilaian,
  1. Observasi perilaku, menilai sikap siswa melalui observasi perilaku dilakukan jika guru meyakini bahwa sikap siswa terhadap objek tertentu memiliki kecenderungan kuat dimunculkan dalam perilaku. 
  2. Wawancara langsung, wawancara langsung dapat mengetahui pandangan subjektif siswa terhadap objektif sikap stertentu, seperti pandangannya, keyakinannya, nilai-nilainya, perasaan-perasaannya, dan kehendak atau niatnya. Contohnya, guru mungkin dapat mewawancarai siswa tentang sikapnya terhadap mengutamakan kepetingan banhsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Di sini siswa dapat menunjukkan semua pandangan subjektifnya terhadap pernyataan tersebut. Guru perlu memiliki catatan atas hasil wawancara tersebut. 
  3. Laporan pribadi, seperti halnya hasil wawancara langsung, laporan pribadi yang menunjukkan pandangan subjektif siswa terhaadap ojek sikap siswa dapat digunakan untuk mengetahui dan menilai perubahan-perubahan sikap siswa ke arah yang positif dalam pembelajaran. Sebagi contoh, siswa diminta membuat laporan pribadi tentang pandangan subjektifnya terhadap kerusuhan antar kelompok warga yang terjadi dewasa ini di Indonesia misalnya. Dari ulasan yang diberikan siswa dalam laporan pribadinya terhadapmasalah tersebut dapatlah diketahui kecenderungan sikap siswa terhadap segresi sosial antar kelompok di dalam masyarakat.
sumber: Materi Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru Universitas Pendidikan Ganesha

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 19.33   0 comments
Pembelajaran Induktif
Pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis. Model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis. Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari siswa, selanjutnya guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan. Model pembelajaran induktif dirancang berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar. Model ini membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) dalam penerapannya. Melalui pertanyaan-pertanyaan inilah guru akan membimbing siswa membangun pemahaman terhadap materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun ide. Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir.
Struktur sosial dalam pembelajaran menjadi ciri lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar melalui model pembelajaran induktif. Model pembelajaran induktif mensyaratkan sebuah lingkungan belajar yang mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari resiko takut dan malu saat memberikan pendapat, bertanya, membuat konklusi dan jawaban. Mereka harus bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan semangat belajar.
Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapat diajarkan
2. Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu.
Dalam seting tersebut, dimana siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep,yaitu:

  • Saling menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut 
  • Menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang telah diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis,dan 
  • Memprediksi dan menjelaskan suatu fenomena tertentu. Guru, dalam hal ini, dapat membantu proses internalisasi dan konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut 

3. Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan (lawful). Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.
Berpikir induktif melibatkan tiga tahapan yang dikembangkan tiga strategi cara mengajarkannya.
a. Konsep pembentukan (belajar konsep) 
Tahap ini mencakup tiga langkah utama: item daftar (lembar, konsep), kelompok barang yang sama secara bersama-sama, beserta label tersebut (dengan nama konsep).
Langkah-langkah :
1. Membuat daftar konsep
2. Pengelompokkan konsep berdasarkan karakteristik yang sama
3. Pemberian label atau kategorisasi
b. Interpretasi data Strategi 
Keduanya merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Langkah-langkah:
1. mengidentifikasi dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya.
2. menjelaskan dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya
3. Membuat kesimpulan
c. Penerapan prinsip-prinsip 
Strategi ini merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomena baru.
Langkah-Langkah:
1. Membuat hipotesis, memprediksikonsekuensi
2. Menjelaskan teori yang mendukung hipotesis atau prediksi.
3. Menguji hipotesis/prediksi

Peran Guru Dalam Model Pembelajaran Induktif 
Saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran induktif, guru telah menyiapkan perangkat-perangkat yang akan membuat siswa beraktivitas dan mengobarkan semangat siswa untuk melakukan observasi terhadap ilustrasi-ilustrasi yang diberikan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Sekali lagi, diingatkan, bahwa model pembelajaran induktif memerlukan keterampilan bertanya yang bagus dari guru. Selain itu guru juga harus menjaga siswa agar perhatian mereka tetap pada tugas belajar yang diberikan, dan selalu menunjukkan ekspektasi positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa-siswanya. Kesuksesan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran induktif juga bergantung pada contoh-contoh /ilustrasi yang digunakan oleh guru serta kemampuan guru membimbing siswa untuk melakukan analisis terhadap contoh/ilustrasi yang diberikan.

Kelebihan Model Pembelajaran Induktif

  1. Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari siswa, sehingga siswa mempunyai parameter dalam pencapaian tujuan pembelajaran. 
  2. Ketika siswa telah mempunyai gambaran umum tentang materi pembelajaran, guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan tersebut sehingga pemerataan pemahaman siswa lebih luas dengan adanya pertanyaan-pertanyaan antara siswa denganguru 
  3. Model pembelajaran induktif menjadi sangat efektif untuk memicu keterlibatan yang lebih mendalam dalam hal proses belajar karena proses tanya jawab tersebut. 

Kelemahan Model Pembelajaran Induktif

  1. Model ini membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) sehingga kesuksesan pembelajaran hamper sepenuhnya ditentukan kemampuan guru dalam memberikan ilustrasi-ilustrasi. 
  2. Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir 
  3. Model pembelajaran ini sangat tergantung pada lingkungan eksternal, guru harus bisa menciptakan kondisi dan situasi belajar yang kondusif agar siswa merasa aman dan tak malu/takut mengeluarkan pendapatnya. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secarasempurna 
  4. Saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran induktif, guru harus telah menyiapkan perangkat-perangkat yang akan membuat siswa beraktivitas dan mengobarkan semangat siswa untuk melakukan observasi terhadap ilustrasi-ilustrasi yang diberikan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dengan metode ini maka kemandirian siswa tidak dapat berkembangoptimal. 
  5. Guru harus menjaga siswa agar perhatian mereka tetap pada tugas belajar yang diberikan, sehingga peran guru sangat vital dalam mengontrol proses belajar siswa. 
  6. Kesuksesan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran induktif bergantung pada contoh-contoh atau ilustrasi yang digunakan oleh guru. 
  7. Pembelajaran tidak dapat berjalan bila guru dan muridnya tidak suka membaca, sehingga tidak mempunyai pilihan dalam proses induktif

Label:


>>selengkapnya...☞
posted by admin @ 19.27   0 comments
www.voa-islam.com
Previous Post
Archives
Links

© education Blogger Templates modified by blogger